Asia

Adab Makan di Cina untuk WNI: Meja Putar, Tuang Teh, dan Berbagi

Di meja Cina, hampir semua hal dilakukan untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri. Kesalahan wisatawan Indonesia biasanya bukan soal sumpit, melainkan soal melayani diri sendiri lebih dulu.

Tim Visa Expert GoVisablog.govisa.id
Adab Makan di Cina untuk WNI: Meja Putar, Tuang Teh, dan Berbagi

Foto oleh Sergey N di Unsplash

Di meja makan Cina, hampir semua hal dilakukan untuk orang lain. Kamu menuang teh untuk yang duduk di sebelah, mengambilkan lauk untuk yang paling tua, dan memutar meja supaya orang di seberang bisa menjangkau piring yang baru datang. Itulah sebabnya kesalahan wisatawan Indonesia di sana jarang soal cara memegang sumpit. Yang membuat suasana sedikit kaku biasanya hal lain: kamu melayani diri sendiri lebih dulu.

Satu gagasan yang menjelaskan hampir seluruh aturannya

Kalau kamu hanya punya ruang untuk mengingat satu hal sebelum duduk di meja bundar, ingat ini: tanganmu bergerak untuk orang lain dulu, baru untuk diri sendiri. Dari gagasan itu turun hampir semua adabnya, mulai dari siapa yang mengangkat sumpit pertama sampai siapa yang mengambil tagihan di akhir.

Di Indonesia, mengambil nasi untuk diri sendiri lebih dulu sama sekali bukan hal kasar, terutama kalau cara makannya prasmanan. Di meja Cina, yang hidangannya datang satu per satu ke tengah meja, gerakan yang sama bisa terbaca sebagai lupa diri. Bukan karena kamu sedang dinilai, tetapi karena orang di sekitarmu justru sibuk memastikan kamu kenyang, dan kamu tidak ikut dalam arus itu.

Kalau kamu belum pernah membandingkan ritme bersantap di luar negeri dengan kebiasaan di rumah, mulai dari jam makan dan kebiasaan bersantap yang berbeda dari Indonesia supaya tidak kaget dengan jam dan porsinya.

Meja putar adalah alat memberi jalan, bukan alat mengambil

Piringan kaca yang bisa diputar di tengah meja bundar adalah perabot yang paling sering disalahpahami. Wisatawan baru memperlakukannya seperti ban berjalan pribadi, diputar terus sampai lauk yang dia inginkan berhenti tepat di depannya. Fungsi aslinya justru kebalikannya: supaya orang yang duduk jauh dari sebuah hidangan tetap bisa menjangkaunya.

  • Putar perlahan dan searah saja, jangan bolak-balik mengikuti keinginanmu
  • Lihat dulu apakah masih ada tangan atau sumpit di atas piringan sebelum kamu memutar
  • Kalau seseorang baru selesai memutar untuk dirinya, beri jeda supaya orang lain sempat mengambil
  • Jangan memutar kalau ada mangkuk sup atau teko di atas piringan, angkat dulu
  • Kalau kamu yang paling muda, memutar untuk orang lain adalah cara termudah terlihat sopan

Siapa yang mulai makan lebih dulu

Urutan ini sederhana tetapi paling sering terlewat, karena hidangan sudah terhidang dan perut sudah berbunyi. Tahan sebentar.

  1. Tunggu tuan rumah mempersilakan, biasanya lewat kalimat singkat atau gerakan tangan ke arah meja
  2. Beri ruang bagi yang paling tua atau paling dihormati untuk mengangkat sumpit pertama
  3. Baru setelah itu kamu ambil, dan ambil porsi kecil dulu supaya hidangan tetap terlihat cukup
  4. Kalau hidangan baru datang di tengah makan, ulangi urutan yang sama, jangan menyerobot piring yang masih panas

Satu catatan praktis: mengambil porsi kecil berkali-kali lebih dihargai daripada menumpuk sekali banyak. Piring yang menggunung di depanmu mengirim pesan bahwa kamu sedang mengamankan bagian, padahal seluruh meja sedang saling menawarkan.

Menuang teh untuk gelas sebelahmu, bukan gelasmu

Teh di meja Cina bukan minuman pendamping yang kamu urus sendiri. Tekonya biasanya berdiri di dekat satu orang, dan orang itu memegang tanggung jawab mengisi gelas orang lain, bukan gelasnya. Kalau kamu melihat gelas tetangga mejamu hampir kosong, isi. Kalau gelasmu sendiri yang kosong, biarkan saja, biasanya ada yang menyadarinya.

Kalau kebetulan teko ada di dekatmu dan kamu ingin menuang untuk dirimu sendiri, tuang untuk orang lain lebih dulu, lalu gelasmu paling akhir. Urutannya mengikuti usia dan kedudukan: yang paling tua dulu, yang paling muda terakhir.

Isyarat terima kasih saat gelasmu diisi

Saat seseorang menuang teh untukmu, kamu tidak perlu menyela pembicaraan untuk berterima kasih. Ada isyarat yang lebih halus: ketuk ringan permukaan meja dengan ujung jari telunjuk dan jari tengah, di dekat gelasmu. Artinya terima kasih, tanpa suara. Kalau ragu, menyentuh tepi gelas sambil mengangguk kecil juga diterima.

Teko yang berdiri di dekatmu sebenarnya milik seluruh meja, bukan milik gelasmu.

Mengambilkan lauk untuk yang lebih tua

Kebiasaan ini paling mirip dengan budaya Indonesia, jadi justru paling mudah kamu lakukan. Mengambilkan sepotong lauk ke piring orang yang lebih tua, atau ke piring tamu, adalah bentuk perhatian yang langsung dimengerti di sana. Bedanya cuma di alatnya.

  • Kalau ada sumpit atau sendok saji di piring hidangan, pakai itu, bukan sumpit yang masuk mulutmu
  • Kalau tidak ada alat saji, banyak orang membalik sumpitnya dan memakai ujung yang masih bersih
  • Jangan mengaduk-aduk hidangan untuk mencari potongan terbaik, ambil yang paling dekat denganmu
  • Jangan menancapkan sumpit berdiri di atas nasi, bentuk itu dihindari karena mengingatkan pada ritual pemakaman
  • Kalau seseorang mengambilkan lauk yang tidak bisa kamu makan, terima di piring dan sebutkan alasannya singkat

Kalau rutemu masuk ke daerah yang meja makannya berbeda dari kota besar, misalnya dataran tinggi di barat daya, baca dulu panduan Yunnan untuk wisatawan Indonesia karena bumbu dan kebiasaan mejanya tidak selalu sama.

Siapa yang membayar dan bagaimana menolak dengan sopan

Membayar pun termasuk hal yang dilakukan untuk orang lain. Yang mengajak biasanya membayar seluruh meja, dan niat itu cukup kuat. Tawaran membagi tagihan rata, yang bagi kita terasa wajar dan adil, kadang justru terdengar seperti menolak keramahan tuan rumah.

Kalau kamu memang ingin membayar, caranya bukan berdebat setelah makanan habis. Yang lebih halus: pamit sebentar ke arah kasir sebelum hidangan terakhir selesai, atau katakan dari awal bahwa kali ini kamu yang mengundang. Kalau tuan rumah bersikeras, menerima dengan ucapan terima kasih yang jelas lebih sopan daripada saling mendorong dompet.

Hampir semua transaksi di sana berjalan lewat aplikasi di telepon, jadi pastikan kamu sudah membaca cara aplikasi dan pembayaran digital di China sebelum berniat membayar tagihan satu meja.

Catatan jujur untuk pembaca Muslim

Bagian ini tidak perlu dibungkus manis. Babi adalah daging yang sangat lazim di banyak daerah, dan yang lebih sering terlewat justru kaldunya. Banyak sup, mi, saus, bahkan hidangan yang kelihatannya sayur, memakai kaldu daging atau lemak babi sebagai dasar rasa. Hidangan tanpa potongan daging belum berarti bebas dari unsur itu.

  • Tanyakan soal kaldu dan minyaknya, bukan hanya soal potongan dagingnya
  • Hidangan sayur di rumah makan umum sering ditumis dengan lemak atau kaldu yang sama
  • Cari rumah makan yang dikelola komunitas Muslim kalau kamu ingin lebih tenang
  • Bawa bekal ringan dari Indonesia untuk hari berjadwal padat, sekadar penahan sampai menemukan tempat yang cocok
  • Sebutkan pantanganmu sebelum hidangan dipesan, bukan setelah semuanya sampai di meja

Menyebut pantangan lebih awal justru sejalan dengan logika meja itu sendiri. Tuan rumah sedang berusaha memesan hidangan yang bisa dinikmati semua orang, jadi memberi tahu lebih dulu itu bantuan, bukan kerewelan.

Untuk cara mencari tempat makan yang lebih aman dan kata-kata yang perlu kamu kenali di menu, lanjutkan ke panduan makanan halal di Cina sebelum menyusun rencana harianmu.

Kesalahan kecil yang paling sering terjadi

  • Memutar meja ke arah diri sendiri tanpa melihat tangan orang lain
  • Mengisi gelas sendiri lebih dulu padahal teko berada di dekatmu
  • Mengangkat sumpit sebelum yang paling tua mulai makan
  • Memakai sumpit pribadi untuk mengambil dari piring bersama
  • Langsung menawarkan bagi rata tagihan di depan tuan rumah yang sudah berniat membayar
  • Memaksa menolak lauk yang sudah diletakkan orang lain di piringmu

Satu urusan praktis supaya rencana makanmu tidak terganggu

Artikel ini hanya membahas perjalanan wisata singkat. Untuk perjalanan seperti itu, yang paling sering jadi masalah justru paspor: pastikan masa berlakunya masih minimal enam bulan dihitung dari tanggal rencana pulangmu, bukan dari tanggal berangkat. Mengurusnya lebih awal selalu lebih aman, karena antrean bisa lebih panjang saat musim liburan.

Kalau cuma satu kalimat yang mau kamu ingat dari artikel ini, ingat yang ini. Di meja Cina, perhatikan gelas dan piring orang lain lebih dulu, dan sisa adabnya akan mengikuti dengan sendirinya.