Asia

Makanan Halal di Cina: Panduan Cari Rumah Makan Muslim untuk WNI

Penanda qingzhen, papan hijau, dan kawasan di sekitar masjid adalah jalan tercepat menemukan rumah makan muslim di kota besar Cina. Panduan ini juga memuat pertanyaan soal kaldu, lemak, dan arak masak yang sering luput saat memesan.

Tim Visa Expert GoVisablog.govisa.id
Makanan Halal di Cina: Panduan Cari Rumah Makan Muslim untuk WNI

Foto oleh Mihir Sabnis di Unsplash

Mencari makanan halal di Cina bukan soal keberuntungan. Ada penanda yang dipakai cukup konsisten di hampir seluruh negeri, ada kawasan yang sudah lama punya dapur muslim, dan ada beberapa pertanyaan pendek yang bisa menyelamatkan satu meja makan. Yang perlu kamu bawa hanya kesediaan membaca penanda dan bertanya sebelum pesan.

Cina biasanya masuk daftar karena kotanya besar dan kereta cepatnya menyambung banyak tujuan sekaligus. Urusan makan justru yang paling sering bikin ragu. Artikel ini fokus ke lanskap Cina saja: siapa yang memasak, di mana mereka berkumpul, dan apa yang perlu kamu tanyakan sebelum sendok diangkat.

Satu kata yang paling berguna untuk dihafal

Di Cina, rumah makan yang dikelola komunitas muslim menandai dirinya dengan satu kata yang dibaca qingzhen. Arti harfiahnya kurang lebih murni dan sejati, dan kata itu dipakai untuk nama dapur, rak di supermarket, sampai kemasan mi instan. Kalau kamu hanya sanggup menghafal satu bentuk aksara, hafalkan yang ini.

  • Kata qingzhen biasanya muncul di papan nama, kaca depan, menu, sampai label kemasan di toko
  • Di banyak kota kata itu ditulis berdampingan dengan tulisan Arab, jadi dua-duanya bisa kamu kenali sekaligus
  • Penanda ini keterangan dari pemilik usaha, bukan jaminan dari lembaga mana pun, jadi tetap perlu kamu cek sendiri dengan bertanya

Cara kerja penanda semacam ini sebetulnya mirip di banyak negara dan sudah dibahas umum di panduan mencari makanan halal saat liburan ke luar negeri, jadi di sini kita langsung masuk ke kebiasaan dapur Cina.

Papan hijau dan penanda lain di depan pintu

Berhenti sebentar di depan pintu dan baca tampilannya. Rumah makan muslim di Cina punya gaya visual yang khas dan cukup mudah dikenali dari jauh, bahkan sebelum kamu bisa membaca aksaranya.

  • Warna hijau mendominasi papan nama, kanopi, atau kaca depan
  • Ada lambang bulan dan bintang, kadang disertai gambar kubah kecil
  • Ada kaligrafi Arab di dinding dalam atau di atas kasir
  • Pengelola dan pelayannya banyak yang memakai peci putih atau kerudung
  • Tidak ada peti minuman beralkohol di sudut, dan tidak ada daging babi yang digantung di jendela

Penanda terakhir paling membantu di jalan yang padat. Rumah makan umum di Cina jarang menyembunyikan daging babi, justru sering memamerkannya sebagai andalan. Kalau jendelanya bersih dari itu dan papannya hijau, peluangnya jauh lebih baik.

Masakan Hui dan Uighur, dua pintu masuk yang paling mudah

Dua tradisi dapur ini yang paling sering kamu temui. Komunitas Hui tersebar di hampir semua kota besar, dan dapurnya identik dengan mi tarik, sup daging sapi berkuah jernih, roti pipih, serta tumisan sederhana. Komunitas Uighur datang dari barat laut dan membawa daging kambing bakar, nasi pilaf, mi goreng pedas, serta roti bundar yang dipanggang di tungku dinding. Keduanya sudah lama memasak tanpa babi, dan itu yang membuat keduanya jadi titik aman pertama di kota yang belum kamu kenal.

Yang membuat satu dapur layak dipercaya bukan dekorasinya, melainkan siapa yang memasak dan bahan apa yang memang tidak pernah masuk ke sana.

Kantin dan warung di sekitar masjid

Masjid di kota besar Cina hampir selalu punya lingkaran usaha di sekitarnya: rumah makan, toko daging, penjual roti, kios rempah, kadang kantin yang dikelola pengurus masjidnya sendiri. Kalau bingung harus mulai dari mana, mulai dari peta. Cari masjid terdekat, lalu telusuri gang di sekelilingnya, bukan jalan besarnya.

Satu catatan soal waktu. Kawasan ini paling hidup pada siang hari, sementara sebagian warung kecil tutup lebih awal pada malam hari. Jangan sampai kamu baru datang ketika dapurnya sudah dingin.

Beberapa kawasan muslim di Cina usianya sudah sangat tua dan punya lapisan sejarahnya sendiri, seperti yang dibahas di rute kawasan muslim tua dunia termasuk Xian, dan kawasan seperti itu memang paling nyaman untuk urusan makan.

Kota mana yang paling ramah dan mana yang perlu rencana cadangan

Peta kenyamanannya tidak rata. Ada kota yang membuat kamu tidak perlu berpikir, ada juga yang menuntut sedikit kerja sebelum keluar hotel.

  • Kota di barat laut paling mudah, karena rumah makan bertanda qingzhen tersebar di mana-mana, bukan hanya di satu kawasan
  • Kota besar di timur punya kantong di sekitar masjid tua dan kawasan pendatang, jumlahnya cukup tetapi terpusat, jadi tandai dulu di peta
  • Kota wisata di selatan dan di pesisir lebih tipis, dan di sini rencana cadangan jadi penting
  • Kawasan pegunungan di barat daya punya komunitas Hui sendiri, jadi lebih ramah daripada dugaan banyak orang

Kalau rute kamu mengarah ke dataran tinggi barat daya, susunan kotanya bisa kamu lihat di panduan Yunnan untuk wisatawan Indonesia, dan di sana warung bertanda qingzhen lebih sering muncul daripada yang kamu kira.

Tiga hal yang sering luput saat memesan

Bahkan di rumah makan yang terlihat aman, ada tiga bahan yang jarang disebut kalau kamu tidak bertanya, karena bagi dapur setempat ketiganya bumbu biasa saja.

  1. Kaldu. Mi dan sup di Cina hampir selalu berbasis rebusan tulang, dan di dapur umum tulang itu bisa dari babi atau campuran. Rasanya tidak akan memberi tahu kamu apa pun, jadi tanyakan kaldunya dari daging apa, bukan sekadar isian mangkoknya
  2. Lemak dan minyak goreng. Sebagian dapur masih menumis dengan lemak babi karena dianggap lebih gurih, dan wajan di dapur kecil sering dipakai bergantian tanpa dicuci. Tanyakan minyaknya, lalu tanyakan apakah wajannya terpisah
  3. Arak masak. Anggur beras dituang sedikit ke wajan untuk menghilangkan bau amis, lalu menguap bersama asapnya. Bahan ini nyaris tidak pernah tercantum di menu, jadi harus kamu sebut sendiri sejak awal

Di rumah makan bertanda qingzhen, tiga hal ini biasanya sudah beres sendiri. Pertanyaannya baru penting saat kamu makan di rumah makan umum, di kantin stasiun, atau di tempat yang kamu pilih karena tidak ada pilihan lain.

Menyiapkan kalimat singkat dalam bahasa setempat

Jangan mengandalkan hafalan di depan kasir yang sedang ramai. Siapkan kalimatnya sebelum berangkat dan tulis dua versi: aksara setempat untuk ditunjukkan ke layar, dan ejaan bunyinya untuk kamu coba ucapkan. Simpan sebagai screenshot supaya tetap kebaca walaupun sinyal hilang.

  • Saya tidak makan daging babi
  • Apakah masakan ini memakai lemak babi atau minyak babi
  • Kaldunya dari daging sapi atau daging kambing
  • Tolong jangan pakai arak masak
  • Di mana rumah makan muslim yang paling dekat
  • Tanpa daging saja, cukup sayur dan tahu

Kalimat terakhir itu jalan keluar cepat. Kalau jawaban atas pertanyaan sebelumnya terasa menggantung, kamu masih bisa menurunkan pesanan ke sesuatu yang lebih sederhana tanpa berdebat di depan antrean.

Sebagian aplikasi penerjemah dan peta yang biasa kamu pakai sulit diakses di sana, jadi daftar yang perlu kamu download sebelum terbang ada di catatan aplikasi dan pembayaran digital di Cina, termasuk paket bahasa yang bisa jalan offline.

Jaring pengaman saat pilihan benar-benar habis

Akan ada hari ketika kamu terjebak di stasiun, di kawasan wisata yang jauh dari pusat kota, atau di jam ketika warung yang sudah kamu tandai ternyata tutup. Simpan beberapa jalan keluar.

  • Dapur vegetarian, yang di Cina punya tradisi panjang, dengan catatan kaldunya tetap perlu kamu tanyakan
  • Makanan laut yang dimasak sederhana, dikukus atau dibakar tanpa saus rumit
  • Supermarket besar, yang sering punya rak bertanda qingzhen untuk daging, mi instan, dan kue
  • Buah, telur rebus, roti tawar, dan susu dari minimarket
  • Bekal kering dari Indonesia seperti abon dan bumbu instan, dengan catatan aturan bawaan makanan di bandara tetap perlu diperhatikan

Semua ini urusan perjalanan wisata. Yang perlu disiapkan cuma tiga: kawasan yang sudah ditandai di peta, satu kata untuk dihafal, dan tiga pertanyaan yang tidak boleh lupa diajukan.