Tips Liburan

Kawasan Muslim Tua Dunia: Rute Xian, Sarajevo, Granada, dan Kobe

Xian, Sarajevo, Granada, dan Kobe tidak punya kemiripan geografis, tapi keempatnya menyimpan kawasan Muslim tua yang tumbuh dari jalur dagang. Ini cara menjadikannya satu tema perjalanan yang dikerjakan pelan-pelan.

Tim Visa Expert GoVisablog.govisa.id
Kawasan Muslim Tua Dunia: Rute Xian, Sarajevo, Granada, dan Kobe

Foto oleh Jorge Fernández Salas di Unsplash

Kebanyakan orang menyusun rute liburan berdasarkan negara. Kamu pilih Jepang, lalu memikirkan kota mana yang masuk. Padahal ada cara lain yang sering lebih memuaskan, yaitu memilih satu tema lalu membiarkan tema itu yang menentukan kotanya. Tema yang jarang dilirik traveler Indonesia adalah kawasan Muslim tua di negara-negara yang penduduk Muslimnya justru minoritas.

Xian di China, Sarajevo di Bosnia dan Herzegovina, Granada di Spanyol, dan Kobe di Jepang tidak punya kemiripan geografis sama sekali. Yang menyatukan keempatnya adalah kawasan tua yang tumbuh dari kedatangan pedagang, perajin, atau penguasa Muslim berabad-abad lalu, lalu bertahan sebagai lapisan kota yang masih bisa kamu jalani hari ini. Jalur masuknya untuk paspor Indonesia juga berbeda-beda, dan justru itu yang membuat temanya cocok dikerjakan sebagai proyek beberapa tahun.

Kenapa kawasan tua ini layak jadi tema, bukan sekadar sisipan

Kawasan seperti ini hampir selalu tumbuh di simpul dagang, jadi bentuknya khas: gang sempit yang padat, pasar yang menempel ke bangunan besar di tengahnya, dan gaya arsitektur lokal yang bercampur elemen dari jauh. Kamu tidak sedang melihat satu bangunan, melainkan satu pola tata kota yang terbentuk karena perdagangan.

Cara menikmatinya pun berbeda dari mengejar landmark. Kawasan seperti ini tidak dirancang untuk dipandang dari satu titik foto, melainkan untuk dilewati. Jadi jatah waktu yang masuk akal bukan satu jam, tapi setengah hari berjalan pelan lalu kembali menjelang sore saat cahayanya berubah.

Artikel ini sengaja tidak membahas urusan perut, karena soal mencari makanan yang aman sudah dibahas terpisah di panduan makanan halal saat liburan ke luar negeri. Yang dibicarakan di sini adalah kawasannya sebagai situs sejarah dan arsitektur.

Xian, ujung timur Jalur Sutra yang masih berdenyut

Xian adalah titik akhir Jalur Sutra di sisi timur, dan komunitas Hui yang bermukim di sana adalah warisan langsung dari lalu lintas dagang itu. Kawasan tuanya berada tidak jauh dari Menara Genderang, berupa jaringan gang yang penuh bengkel, toko rempah, dan rumah tua yang masih ditinggali.

Daya tarik arsitekturnya sering mengejutkan pengunjung pertama kali. Masjid Raya Xian tidak terlihat seperti bangunan yang biasa kamu bayangkan. Tata ruangnya mengikuti pola halaman istana China, dengan gerbang berlapis, taman, paviliun kayu, dan menara yang bentuknya lebih mirip pagoda. Prasasti berbahasa Arab dan China berdiri berdampingan di halaman yang sama.

  • Sisihkan waktu berjalan dari kawasan tua ke tembok kota, karena keduanya bersebelahan dan saling menjelaskan
  • Datang pagi kalau kamu ingin melihat kawasan itu bekerja, dan datang malam kalau ingin melihatnya ramai
  • Perhatikan ukiran kayu dan kaligrafinya, karena di situlah percampuran dua tradisi paling terbaca

Sebelum memasukkan Xian ke rencana, pastikan dulu status masuknya untuk paspor Indonesia lewat penjelasan aturan bebas visa China untuk WNI, karena ketentuan ini sempat berubah beberapa kali dan gampang tertukar dengan negara lain.

Sarajevo, kota yang menumpuk lapisannya dalam jarak berjalan kaki

Sarajevo memberi hal yang jarang ditemukan di kota lain, yaitu perpindahan zaman yang bisa kamu rasakan hanya dengan beberapa langkah. Kawasan pasar tuanya, Bascarsija, dibangun pada masa Utsmani dengan bentuk khas berupa alun-alun kecil, bengkel tembaga, air mancur kayu, dan masjid besar bergaya Utsmani di tengahnya. Beberapa puluh langkah ke arah barat, fasadnya berganti total menjadi gaya Austro-Hungaria.

Ada penanda di trotoar tepat di titik pertemuan dua gaya itu, dan berdiri di sana adalah cara tercepat memahami kenapa kota ini disebut persimpangan. Arsitektur Sarajevo bukan soal satu bangunan cantik, tapi soal dua kota yang duduk berdampingan.

Di Sarajevo kamu tidak berpindah antar museum, kamu berpindah antar abad hanya dengan menyeberang jalan.

Izin masuknya juga tidak otomatis sama dengan negara Schengen di sekitarnya, jadi baca dulu pilihan jalurnya di panduan visa Bosnia dan Herzegovina untuk WNI supaya kamu tahu kapan harus mengajukan sendiri.

Granada, sisa Andalusia yang bertahan di lereng bukit

Granada adalah kasus yang berbeda dari tiga kota lain. Di sini kawasan tuanya bukan komunitas yang hidup bersambung sampai sekarang, melainkan peninggalan sebuah kekuasaan yang berakhir lalu diwariskan sebagai bangunan dan tata kota. Alhambra adalah kompleks istana dan benteng di atas bukit, sementara Albaicin di seberangnya adalah permukiman berlereng dengan gang berbatu yang mempertahankan pola lamanya.

Yang membuat Granada penting buat tema ini adalah keterbacaan detailnya. Ukiran plester, ubin geometris, halaman berair, dan permainan cahaya di ruang dalam masih utuh dan bisa diamati pelan-pelan. Kalau kamu punya hari lebih, kota Cordoba melanjutkan cerita yang sama dengan bangunan yang lapisan sejarahnya bahkan lebih bertumpuk.

  1. Pesan tiket kompleks istananya jauh hari, karena jumlah pengunjung tiap sesi dibatasi dan slot populer habis lebih dulu
  2. Pisahkan hari untuk kompleks istana dan hari untuk kawasan permukimannya supaya tidak terburu-buru
  3. Naik ke titik pandang di seberang lembah menjelang sore, karena dari sana bentuk keseluruhannya baru terbaca

Kobe, kota pelabuhan yang menyimpan masjid tertua Jepang

Kobe jarang masuk daftar wisatawan Indonesia, yang biasanya berhenti di Osaka dan Kyoto. Padahal kota ini pelabuhan yang dibuka untuk perdagangan asing, dan warisannya terlihat di kawasan Kitano berupa deretan bekas rumah pedagang asing bergaya Eropa dan India.

Di kawasan yang sama berdiri Masjid Kobe, masjid pertama yang dibangun di Jepang, hasil patungan komunitas pedagang dari berbagai negara sebelum Perang Dunia Kedua. Bangunannya selamat dari perang dan dari gempa besar yang meratakan banyak bagian kota, dan itu saja sudah cukup jadi alasan melihatnya sebagai situs sejarah.

Perlu diingat, sebagian bangunan di keempat kota ini masih dipakai sehari-hari oleh komunitasnya. Perlakukan seperti cagar budaya yang aktif: ikuti jam kunjungan yang dipasang, hormati area yang dibatasi, dan jangan memotret orang tanpa izin.

Menyelipkan Kobe ke rute Jepang relatif mudah karena letaknya di jalur kereta utama, dan soal izin masuknya bisa kamu cek di panduan visa Jepang dan jalur visa waiver kalau paspormu sudah elektronik.

Menyusun rutenya tanpa memaksakan satu keberangkatan

Godaan terbesar dari tema seperti ini adalah menggabungkan keempatnya dalam satu perjalanan. Jangan. Jaraknya terlalu jauh, jalur masuknya berbeda, dan hasilnya cuma jadi daftar centang. Kerjakan lintas tahun, satu atau dua kota tiap keberangkatan.

Pengelompokan paling wajar adalah menempelkan tiap kota ke rute yang memang sudah kamu rencanakan. Granada menempel ke perjalanan Spanyol atau Eropa selatan. Sarajevo menempel ke rute Balkan. Xian menempel ke rute China yang biasanya sudah mampir Beijing. Kobe menempel ke jalur Osaka dan Kyoto yang hampir semua orang lewati.

  • Kalau berangkat dari Jakarta, Surabaya, atau Bali, pilih kota yang jalur transitnya masuk akal supaya waktumu tidak habis di bandara
  • Cek musimnya, karena Sarajevo dan Granada bisa sangat dingin di puncak musim dingin sementara Xian menyengat di puncak musim panas
  • Beri jatah minimal dua malam untuk tiap kawasan tua, karena satu malam hanya cukup untuk melewatinya sekali

Yang perlu dibereskan sebelum tema ini jalan

Paspor dulu, baru rute. Banyak negara mensyaratkan paspor berlaku minimal enam bulan, dan hitungannya dari tanggal rencana pulang, bukan tanggal berangkat. Kalau rencanamu berlapis-lapis seperti ini, cek masa berlakunya sebelum membeli tiket apa pun.

Untuk kota di wilayah Schengen seperti Granada, ingat bahwa jatah tinggalnya dihitung sembilan puluh hari dalam periode seratus delapan puluh hari untuk seluruh wilayah, bukan per negara. Asuransi perjalanan dengan pertanggungan minimal EUR 30.000 juga termasuk syarat pengajuannya. Untuk kota di luar Schengen, aturannya berdiri sendiri dan tidak bisa diasumsikan sama.

Satu catatan pembatas: seluruh isi artikel ini berpijak pada perjalanan wisata singkat. Karena tiap negara mengubah ketentuan masuknya sendiri-sendiri, periksa ulang aturan yang berlaku di sumber resmi negara tujuan mendekati tanggal keberangkatan, bukan hanya saat tema ini baru kamu susun.

Tema perjalanan yang bagus bukan yang paling padat, melainkan yang membuat kamu punya alasan kembali. Keempat kawasan ini menceritakan hal yang mirip dengan bahan bangunan, iklim, dan tetangga yang berbeda. Mulai dari kota yang paling dekat dengan rencana terdekatmu, lalu biarkan sisanya menunggu giliran.