Asia

Rute Beijing dan Xian untuk WNI: Itinerary Kereta Cepat Dua Kota

Kereta cepat membuat dua kota sejarah Cina bisa disambung tanpa menginap di jalan. Jadi soalnya kini berapa malam di tiap kota dan apa yang harus dikorbankan traveler Indonesia.

Tim Visa Expert GoVisablog.govisa.id
Rute Beijing dan Xian untuk WNI: Itinerary Kereta Cepat Dua Kota

Foto oleh MChe Lee di Unsplash

Kereta cepat menghapus satu kendala lama. Dulu menyambung Beijing dengan Xian di pedalaman berarti memilih antara menambah satu penerbangan domestik atau naik kereta malam yang memakan satu malam penuh di jalan. Sekarang kedua kota itu bisa disambung dalam satu hari jalan. Begitu perpindahan berhenti memakan malam, pertanyaannya bukan lagi bagaimana caranya sampai, melainkan berapa malam yang kamu berikan ke tiap kota dan apa yang rela kamu korbankan.

Kenapa keputusan utamanya soal malam, bukan soal rute

Rutenya sendiri tidak punya banyak pilihan, karena kedua kota tersambung satu jalur utama yang dipakai hampir semua traveler. Yang menentukan rasa perjalananmu adalah pembagian malam. Dua itinerary dengan jumlah hari identik bisa terasa sangat berbeda hanya karena satu malam dipindahkan dari kota pertama ke kota kedua.

Pembagian itu juga tidak bisa dibuat rata, karena dua kota ini tidak menuntut waktu dengan cara yang sama. Satu kota menumpuk situs besar di dalam dirinya sendiri, kota yang lain menaruh situs utamanya di luar pusat kota.

Mekanisme beli tiket dan alur masuk stasiunnya tidak diulang di sini karena sudah dibahas terpisah di panduan tiket kereta cepat Cina jadi tulisan ini murni soal pembagian hari.

Kenapa situs utama dua kota ini menuntut porsi berbeda

Di ibu kota, situs utamanya berjajar di poros tengah kota dan masing-masing berskala besar. Kompleks istana, lapangan di depannya, dan kompleks kuil di sekitarnya bukan tempat yang bisa kamu centang satu per satu dalam setengah hari. Satu kompleks saja bisa menghabiskan sebagian besar hari kalau kamu masuk sampai halaman belakang, ditambah antrean dan pemeriksaan di gerbang.

Xian, kota keduamu, bekerja dengan logika berbeda. Pusat kotanya kompak dan dikelilingi tembok kota tua yang masih utuh, sehingga inti kotanya bisa dijelajahi dengan jalan kaki dan sepeda. Tetapi situs yang paling dicari justru ada di luar pusat kota, yaitu kompleks barisan arca tanah yang digali dari makam kuno.

  • Ibu kota menuntut jumlah hari, karena situsnya banyak dan masing-masing besar.
  • Kota kedua menuntut struktur, karena satu harinya habis untuk keluar kota dan satu harinya lagi untuk inti kota.

Arah mana yang didahulukan kalau mendaratnya di ibu kota

Sebagian besar traveler yang mengambil rute ini mendarat di ibu kota, dan sering kali tiket pulangnya berangkat dari kota yang sama. Artinya ibu kota muncul dua kali di itinerary kamu, sementara kota kedua duduk di tengah. Yang perlu kamu putuskan adalah seberapa besar porsinya di blok awal dan seberapa besar yang disisakan ke blok akhir.

Pola yang paling nyaman adalah porsi kecil di awal dan porsi besar di akhir. Hari pertama setelah penerbangan panjang jarang produktif, jadi isi saja dengan kawasan kota lama yang santai dan jalan kaki dekat hotel. Setelah itu langsung pindah ke kota kedua selagi tenagamu masih utuh, lalu kembali ke ibu kota untuk situs besar dan perjalanan ke tembok di pinggirannya. Blok akhir yang panjang juga memberi bantalan kalau ada perubahan jadwal, karena penerbangan pulangmu berangkat dari kota itu.

Pola sebaliknya, memeras ibu kota habis di awal lalu baru ke kota kedua, membuat hari terakhirmu di ibu kota berisi duduk menunggu dengan koper tanpa agenda.

Sebelum mematok tanggal, cek dulu kalender musim dan libur nasional Cina karena pekan libur panjang mengubah kepadatan antrean dan ketersediaan kamar di kedua kota.

Tembok di pinggiran sebaiknya dapat satu hari sendiri

Godaan terbesar pembuat itinerary adalah menyelipkan tembok di pinggiran ke sore hari setelah kompleks istana. Di atas peta hal itu masuk akal. Di lapangan, itu cara paling pasti merusak dua agenda sekaligus.

  • Lokasinya di pinggiran, jadi kamu harus menghitung perjalanan dua arah di hari yang sama.
  • Bagian yang paling dekat dari pusat kota biasanya yang paling padat, dan itulah satu-satunya pilihan kalau waktumu mepet.
  • Jalurnya naik turun tangga tanpa henti, sehingga kakimu tidak akan setuju diajak menyusul agenda lain sesudahnya.
  • Kalau cuaca sedang berkabut, kamu butuh kelonggaran untuk menunggu, bukan jadwal yang sudah mepet.
Tembok bukan tempat yang bisa kamu lihat sambil lewat, karena yang membuatnya berkesan justru waktu untuk berjalan jauh dari titik masuk.

Satu hari penuh juga membuatmu bisa memilih bagian yang lebih sepi dan berangkat lebih awal, bukan terpaksa mengambil bagian terdekat karena matahari sudah turun.

Apa yang hilang kalau kota kedua hanya dapat satu malam

Satu malam di kota kedua secara teknis mungkin. Kamu sampai siang, menengok tembok kota tua sebentar, menginap, lalu pagi berikutnya mengejar kompleks arca tanah sambil memikirkan jadwal kembali. Yang hilang bukan satu situs, melainkan sebagian besar alasan datang ke kota itu.

  • Kompleks arca tanah berubah jadi kunjungan kejar tayang, padahal ruang pamernya ingin kamu berdiri lama di satu titik.
  • Tembok kota tua tidak kebagian, padahal bersepeda di atasnya adalah cara paling langsung merasakan bentuk kota lama.
  • Kawasan muslim tuanya hanya kelihatan versi malam yang ramai jajanan, bukan versi siang berisi masjid tua dan gang perajin.
  • Museum yang menjelaskan konteks makam kuno itu hampir selalu jadi korban pertama.
  • Makan malammu jadi buru-buru, padahal kota inilah yang paling mudah untuk WNI soal rumah makan muslim.

Kawasan muslim tua di kota kedua ini dibahas lebih dalam dari sisi sejarahnya di ulasan kawasan muslim tua dunia dan itu salah satu alasan kuat memberi kota ini dua malam.

Dua kerangka pembagian malam yang bisa kamu pakai

Kalau cutimu mepet

  1. Satu malam pertama di ibu kota, isi dengan kawasan kota lama dan jalan kaki dekat hotel.
  2. Pindah ke kota kedua dan ambil dua malam, bagi jadi satu blok keluar kota dan satu blok inti kota.
  3. Kembali ke ibu kota dan pakai blok akhir untuk kompleks istana serta kawasan kuil.
  4. Satu hari penuh untuk tembok di pinggiran, tanpa agenda tambahan.
  5. Sisakan satu malam terakhir di sisi kota yang searah bandara.

Kalau waktumu lebih lapang

Tambahan malam paling berguna ditaruh di ibu kota, bukan dibagi dua. Dengan satu malam ekstra kamu bisa memisahkan kompleks istana dan kawasan kuil ke hari berbeda, dan tetap punya hari cadangan kalau rencana ke tembok perlu diundur karena cuaca. Kota kedua jarang butuh malam ketiga kecuali kamu ingin mengejar makam dan kuil lain di luar kotanya.

Kalau kamu tergoda menambah kota ketiga

Dorongan itu hampir selalu muncul saat kamu melihat peta jaringan kereta cepatnya. Tahan dulu. Dua kota sejarah ini sudah mengisi itinerary dengan jenis kunjungan yang mirip, yaitu situs besar yang menuntut jalan kaki panjang.

Kalau sisa waktumu memang panjang, jalur bertema berbeda ada di rute delta sungai di selatan yang sebaiknya diperlakukan sebagai perjalanan tersendiri, bukan ditempel ke rute ini.

Catatan praktis sebelum kamu memesan apa pun

Rute ini butuh visa turis, dan paspormu harus berlaku minimal enam bulan dihitung dari tanggal rencana pulang, bukan dari tanggal berangkat. Tulisan ini hanya membahas perjalanan wisata, jadi urusan izin di luar kunjungan wisata tidak masuk hitungan di sini.

  • Booking hotel di dua kota dengan tanggal yang sudah pasti, karena itinerary dua kota tidak ramah perubahan di tengah jalan.
  • Cek posisi stasiun kereta cepat terhadap hotelmu, karena sebagian stasiun berada jauh dari pusat kota.
  • Siapkan daftar rumah makan muslim di kedua kota, terutama untuk hari ke tembok dan hari ke kompleks arca tanah.
  • Bawa lapisan pakaian, karena musim di sana tidak seperti di Indonesia dan selisih udara pagi dan siang di dataran utara terasa jelas.

Setelah pembagian malamnya beres, sisanya ringan. Yang menentukan apakah rute ini terasa lengkap atau terasa dikebut bukan kecepatan keretanya, melainkan keberanianmu memberi satu hari utuh kepada dua hal yang tidak bisa diselipkan.