Schengen

Visa Malta untuk Traveler Pertama Kali WNI: Bukan Soal Negara Mudah

Malta sering jadi pilihan traveler WNI yang belum pernah punya visa Schengen karena dianggap lebih ramah pada pemohon baru. Padahal negara pemroses ditentukan rencana perjalananmu, dan mengarahkan rencana justru membuat berkasmu terbaca dibuat-buat.

Tim Visa Expert GoVisablog.govisa.id
Visa Malta untuk Traveler Pertama Kali WNI: Bukan Soal Negara Mudah

Foto oleh Manuel Torres Garcia di Unsplash

Malta hampir selalu masuk daftar pendek. Kalau kamu sedang menyiapkan perjalanan Eropa pertama dan paspormu belum pernah ditempeli visa Schengen, nama negara ini muncul cepat: kepulauan kecil, bahasa Inggris salah satu bahasa resminya, dan seluruh rencana bisa ditulis tanpa pindah kota berkali-kali. Sejauh itu, alasannya masuk akal.

Masalahnya, ada satu alasan lain yang jarang diucapkan terus terang tapi sangat sering menjadi pendorong sebenarnya, yaitu anggapan bahwa negara tertentu lebih ramah kepada pemohon yang belum punya riwayat visa. Artikel ini membahas anggapan itu, kenapa ia justru berbalik merugikan berkasmu, dan apa yang benar-benar menolong kamu sebagai pemohon pertama kali.

Kenapa Malta terasa pas untuk perjalanan Eropa pertama

Ada beberapa hal yang memang nyata dan tidak perlu dibantah. Jarak antartempat di Malta pendek, sehingga rencana harianmu tidak perlu memuat pindah penginapan setiap dua hari. Bahasa Inggris dipakai sehari-hari, jadi kamu bisa bertanya arah dan membaca papan informasi tanpa kamus. Dan karena wilayahnya terbatas, rencana perjalananmu lebih gampang dibuat konsisten dari hari pertama sampai hari terakhir.

Kalau kamu belum punya gambaran bentuk rutenya, rute Valletta, Mdina, dan tiga kota dalam satu perjalanan bisa kamu pakai sebagai kerangka awal sebelum menyentuh berkas apa pun.

Konsistensi itulah keuntungan sebenarnya bagi pemohon baru. Bukan karena negaranya, tetapi karena rencana yang sederhana lebih mudah dibuktikan.

Anggapan yang perlu kamu lepas sebelum mulai

Di banyak percakapan grup perjalanan, kamu akan menemukan saran yang bunyinya seperti ini: ajukan saja lewat negara yang dianggap lebih longgar, nanti setelah visa pertama dapat, baru jalan-jalan ke negara yang kamu mau. Saran itu terdengar praktis dan karena itu cepat menyebar.

Blog ini tidak akan menilai kedutaan mana yang lebih mudah dan mana yang lebih ketat, karena penilaian semacam itu tidak bisa dipastikan dan bukan itu dasar kerjanya. Yang bisa dijelaskan adalah hal yang lebih berguna untukmu, yaitu bahwa kamu sebenarnya tidak sedang memilih negara pemroses. Negara itu ditentukan oleh rencana perjalananmu.

Yang menentukan ke mana berkasmu diajukan adalah rencanamu

Di seluruh wilayah Schengen, pengajuanmu masuk ke negara tempat kamu menghabiskan bagian utama perjalanan. Kalau tidak ada negara yang jelas menonjol, barulah negara titik masuk pertamamu yang dipakai sebagai acuan. Urutannya bukan pilihan bebas, melainkan hasil pembacaan rencanamu.

Cara menentukannya dijelaskan terpisah di aturan tujuan utama visa Schengen, dan sebaiknya kamu baca dulu sebelum memesan apa pun.

Artinya, kalau kamu memulai dari keinginan mengajukan ke suatu negara, lalu menyusun rencana supaya cocok dengan keinginan itu, kamu bekerja terbalik. Rencana yang disusun belakangan untuk membenarkan pilihan kedutaan hampir selalu terlihat janggal.

Kenapa rencana yang diarahkan terbaca dibuat-buat

Petugas yang membaca berkasmu tidak memeriksa satu dokumen saja. Mereka membaca semuanya sebagai satu cerita, dan cerita yang dipaksa pasti meninggalkan jejak. Beberapa pola yang paling sering muncul pada rencana yang diarahkan:

  • Jumlah malam terbanyak ada di satu negara, tetapi pengajuan diarahkan ke negara lain tanpa alasan yang bisa dijelaskan.
  • Negara yang diajukan hanya diisi satu atau dua hari di awal, lalu rencana langsung berpindah dan tidak pernah kembali.
  • Booking hotel di negara yang diajukan tidak punya kaitan dengan tempat yang disebut di rencana harian.
  • Daftar tempat yang mau dikunjungi terasa umum dan bisa ditempelkan ke negara mana saja.
  • Urutan kota membuat rute jadi bolak-balik tanpa alasan, hanya supaya negara tertentu masuk sebagai titik masuk pertama.

Tidak ada satu pun poin itu yang berisi kesalahan administratif. Semuanya lengkap, semuanya terisi. Yang jadi persoalan justru lebih sulit diperbaiki, yaitu berkas yang lengkap tapi tidak terbaca sebagai rencana seseorang yang benar-benar ingin pergi ke sana.

Berkas pemohon pertama kali tidak dinilai dari seberapa banyak isinya, tetapi dari seberapa nyambung satu bagian dengan bagian lainnya.

Yang sebenarnya menolong pemohon pertama kali

Karena kamu belum punya riwayat visa yang bisa berbicara untukmu, satu-satunya hal yang bisa berbicara adalah kejelasan rencanamu sendiri. Dan kejelasan itu tidak datang dari menambah dokumen, melainkan dari membuat semua yang kamu serahkan menunjuk ke arah yang sama.

  • Satu tujuan utama yang jelas, dengan bagian terbesar perjalanan memang berada di sana.
  • Rencana harian yang menyebut tempat yang betul-betul ada di negara itu, bukan daftar yang bisa dipakai di mana saja.
  • Booking penginapan dan jadwal penerbangan yang saling cocok tanggalnya, termasuk transit dari Jakarta atau Bali.
  • Alasan berangkat yang wajar dan singkat, tanpa dibesar-besarkan.
  • Rencana pulang yang masuk akal, dan paspor yang masih berlaku minimal enam bulan dihitung dari tanggal rencana pulangmu, bukan tanggal berangkat.

Dokumen dasar yang berlaku untuk semua negara Schengen sudah dibahas lengkap di checklist berkas visa Schengen untuk WNI, jadi artikel ini tidak mengulangnya dan kamu bisa memakainya sebagai daftar pendamping.

Kalau Malta memang benar tujuan utamamu

Semua di atas bukan alasan untuk menyingkirkan Malta. Kalau kamu memang ingin menghabiskan sebagian besar perjalanan di sana, maka Malta memang negara yang berhak memproses pengajuanmu, dan posisimu sebagai pemohon pertama kali sama sekali tidak melemah karena itu.

Bahkan sebaliknya, untuk pemohon baru negara ini punya satu keunggulan yang nyata, yaitu rencananya mudah dibuat rapat. Kamu bisa menyusun perjalanan yang hampir seluruhnya berada di satu wilayah, dengan penginapan yang tidak berpindah-pindah dan rencana harian yang benar-benar bisa kamu jalani. Berkas seperti itu gampang dibaca, dan berkas yang gampang dibaca adalah keuntungan terbesar yang bisa kamu berikan pada dirimu sendiri saat belum punya riwayat visa.

Yang perlu kamu hindari hanya satu, yaitu menempelkan Malta di depan rencana yang sebenarnya mengarah ke tempat lain.

Urutan menyiapkan berkas kalau ini visa pertamamu

Karena kamu belum pernah melalui prosesnya, hal yang paling sering membuat rencana berantakan bukan dokumen yang sulit, melainkan urutan pengerjaan. Dahulukan yang tidak sepenuhnya ada di tanganmu, yaitu yang hasilnya bergantung pada pihak lain.

  1. Cek masa berlaku paspormu lebih dulu. Kalau kurang, perpanjangan harus jadi langkah paling awal karena nomor paspor dipakai di hampir semua berkas sesudahnya.
  2. Tentukan tujuan utama dan bentuk rutenya, karena dari sini baru jelas ke negara mana berkasmu diajukan.
  3. Minta surat keterangan dari tempat kerja atau pihak yang mengeluarkan surat pendukungmu. Ini melewati orang lain, sering butuh beberapa kali bolak-balik, dan tidak bisa kamu percepat sendiri.
  4. Urus cetakan rekening dan mutasi tabungan, karena permintaan ke bank punya jadwalnya sendiri dan kadang harus diambil di kantor cabang.
  5. Ambil asuransi perjalanan dengan pertanggungan minimal EUR 30.000 yang berlaku di seluruh wilayah Schengen.
  6. Lakukan booking penginapan dan jadwal penerbangan, lalu samakan tanggalnya dengan rencana harian yang sudah kamu susun.
  7. Baru setelah semuanya rapi, amankan jadwal pengajuanmu.

Langkah terakhir itu yang paling sering dianggap sepele, padahal jadwalnya tidak selalu tersedia kapan pun kamu mau, dan appointment visa Malta serta lamanya paspor tertahan perlu kamu perhitungkan sebelum memastikan tanggal berangkat.

Jadi kalau ada satu hal yang bisa kamu bawa dari artikel ini, itu bukan daftar negara yang katanya lebih ramah pada pemohon baru. Sebagai traveler yang baru pertama kali mengurus visa Schengen, kekuatanmu ada di rencana yang benar-benar kamu niatkan, bukan di pilihan kedutaan yang kamu kira lebih menguntungkan. Tentukan dulu ke mana kamu sungguh ingin pergi, lalu biarkan berkasmu mengikuti rencana itu.