Kuliner Islandia untuk WNI: Lauk Khas dan Cara Mengatur Bekal Makan
Di Islandia hampir semua bahan makanan harus didatangkan dari luar pulau, jadi memilih tempat makan lebih mirip mengatur logistik daripada menuruti selera. Panduan ini membahas lauk yang justru melimpah di sana, kebiasaan membeli bekal di toko bahan makanan, dan apa yang perlu kamu tanyakan sebagai pembaca Muslim.

Foto oleh Cabri Caldwell di Unsplash
Di Islandia, keputusan makan bukan soal selera. Hampir semua bahan makanan di pulau itu harus didatangkan dari luar lewat kapal atau pesawat, dan biaya pengangkutan itu menempel di setiap menu restoran. Akibatnya dua hal terjadi sekaligus: makan di luar terasa jauh lebih mahal daripada di Eropa daratan, dan pilihannya lebih sempit daripada dugaanmu. Jadi sebelum memikirkan rasa, kamu perlu memikirkan logistik.
Pergeseran cara pikir ini yang sering membuat wisatawan Indonesia kaget. Di Islandia, makan lebih mirip perbekalan: kamu memutuskan di mana bahan dibeli, di mana dimasak, dan kapan kamu melewati toko berikutnya.
Kenapa pilihan makan di pulau ini terasa sempit
Islandia punya tanah vulkanik, angin kencang, dan musim tanam yang pendek. Sayur dan buah bisa tumbuh, sebagian besar lewat rumah kaca yang dihangatkan tenaga panas bumi, tetapi jumlahnya tidak pernah cukup. Gandum, beras, rempah, minyak goreng, sampai buah tropis praktis semuanya impor.
Pola inilah yang perlu kamu tangkap sebelum menyusun rencana makan. Dapur restoran memilih bahan yang paling masuk akal didatangkan, lalu menyajikannya dalam daftar menu yang pendek dan jarang berubah. Semakin jauh dari ibu kota, semakin pendek lagi daftar itu.
- Menu di luar kota cenderung pendek dan berulang di banyak tempat
- Jam dapur bisa lebih singkat daripada jam buka tempatnya
- Toko bahan makanan di kota kecil kadang tutup lebih awal daripada dugaanmu
- Mesin pembayaran kartu ada hampir di mana-mana, bahkan di tempat yang kecil
Kalau kamu ingin melihat bagaimana urusan makan diselipkan di antara titik kunjungan, itinerary Islandia singkat untuk WNI bisa jadi pembanding sebelum kamu mengunci jadwal.
Dua bahan yang justru melimpah di sana
Ada pengecualian besar dari cerita impor itu, dan justru di situ letak makanan paling enak di Islandia. Ikan dan daging domba berasal dari pulau itu sendiri, jadi keduanya segar, lazim, dan hadir di hampir setiap menu.
Ikan laut
Perikanan adalah tulang punggung ekonomi Islandia sejak lama. Kamu akan menemukan ikan putih bertekstur padat yang dimasak sederhana, hanya dengan mentega dan sedikit bumbu. Ada juga sup makanan laut berkrim, dan ikan kering keras yang dijual sebagai camilan di toko bahan makanan.
Daging domba
Domba Islandia dilepas bebas di dataran tinggi sepanjang musim panas, lalu dikumpulkan kembali menjelang musim gugur. Dagingnya dipakai untuk rebusan berisi daging, kentang, dan akar sayuran, dan juga diasapi supaya tahan lebih lama. Bagi pembaca Muslim, keberadaan domba sebagai lauk sehari-hari ini penting, dan akan kita bahas lagi di bawah.
Di luar dua bahan itu ada beberapa hal khas: produk susu kental tinggi protein yang dimakan seperti yoghurt, hot dog yang sudah jadi makanan jalanan nasional, dan daging hiu yang difermentasi. Yang terakhir lebih sering jadi tantangan rasa daripada makan siang.
Belanja bahan makanan bukan penghematan darurat
Membeli bekal di toko bahan makanan di Islandia bukan jalan terakhir orang yang kehabisan budget. Itu kebiasaan penduduk setempat juga, karena jarak antara makan di luar dan masak sendiri di pulau itu terasa jauh lebih lebar daripada di negara lain.
Di Islandia, isi tas belanjamu lebih menentukan kenyamanan perjalanan daripada daftar restoran yang kamu simpan.
Polanya sederhana: belanja besar sekali di kota besar saat baru tiba, lalu mengisi ulang barang kecil di kota yang kamu lewati. Yang kamu cari bukan bahan rumit, melainkan bahan yang tahan di mobil dan cepat dimasak. Roti, keju, telur, pasta, ikan kemasan, dan buah yang keras sudah menutup sebagian besar waktu makan.
Taktik belanja dan memasak sendiri ini berlaku di semua kota berbiaya tinggi, dan rinciannya sudah dibahas di panduan makan hemat di kota mahal yang bisa kamu pakai sebagai kerangka umum.
Dapur di penginapan mengubah cara kamu makan
Satu hal membuat kebiasaan tadi masuk akal: banyak penginapan di Islandia memang menyediakan dapur. Guesthouse, apartemen sewa, dan hostel di luar ibu kota sering punya dapur bersama lengkap dengan kompor, kulkas, panci, dan peralatan makan. Itu bukan fasilitas mewah di sana, melainkan hal yang dianggap normal.
Karena itu, keterangan dapur sebaiknya kamu baca sama seriusnya dengan jarak ke titik kunjungan. Satu penginapan tanpa dapur di tengah perjalanan panjang bisa memaksamu makan di luar dua kali sehari.
- Cek keterangan dapur atau kitchen access sebelum booking, jangan setelahnya
- Perhatikan apakah dapurnya pribadi atau bersama, karena jam sibuknya berbeda
- Simpan bahan yang perlu dingin di kulkas bersama dengan nama atau tanda
- Bawa kantong belanja lipat, karena kantong di kasir biasanya berbayar
- Tentukan kapan kamu memang ingin makan di luar, lalu jadikan itu acara khusus
Kalau kamu masih menimbang bentuk penginapan yang paling cocok, perbandingan hotel, apartemen sewa, dan hostel membantu kamu melihat untung ruginya lebih jelas.
Jarak antar toko ikut menentukan rencana harianmu
Inilah bagian yang paling sering terlewat. Toko bahan makanan di Islandia tidak tersebar merata, dan di beberapa bagian pulau jaraknya cukup jauh satu dari yang lain. Jadi rencana makan dan rencana jalan sebenarnya satu urusan, bukan dua. Kalau tidak ada toko sebelum penginapan malam itu, belanja dilakukan sekarang, bukan nanti.
- Isi ulang bahan segar setiap kali kamu melewati kota yang cukup besar
- Selalu simpan satu kali makan cadangan yang tidak perlu dimasak
- Bawa botol isi ulang, karena air keran di sana termasuk yang bisa diminum langsung
- Jangan mengandalkan pompa bensin sebagai tempat makan utama
Catatan jujur untuk pembaca Muslim
Kabar baiknya nyata. Karena ikan dan daging domba adalah dua bahan paling lazim di Islandia, pilihan makananmu lebih mudah dicari di sana daripada di banyak negara Eropa lain yang menu hariannya banyak berisi babi.
Kabar yang perlu kamu terima apa adanya juga ada. Sertifikasi halal hampir tidak ada di luar ibu kota, dan di kota kecil kemungkinan besar tidak ada sama sekali. Daging domba di restoran umum belum tentu disembelih sesuai syariat, jadi lazim bukan berarti otomatis aman. Kamu tetap perlu bertanya.
- Ikan dan makanan laut adalah jalur paling aman dan paling mudah ditemukan
- Tanyakan apakah masakannya memakai kaldu atau lemak babi, bukan hanya jenis dagingnya
- Baca label di toko bahan makanan, karena di situ kamu memeriksa isinya sendiri
- Masak sendiri adalah cara paling jelas memastikan isi piringmu
- Beberapa restoran Timur Tengah dan Asia di ibu kota lebih terbuka soal sumber dagingnya
Cara bertanya ke pelayan dan membaca daftar bahan sudah dibahas lebih rinci dalam panduan mencari makanan halal saat liburan ke luar negeri dan prinsipnya tetap berlaku di Islandia.
Yang perlu kamu siapkan dari Indonesia
Karena bumbu dan rasa yang kamu kenal termasuk barang impor di sana, membawa sedikit perbekalan dari rumah sangat membantu. Yang dibawa sebaiknya ringan, kering, dan tersegel rapi, lalu tetap kamu laporkan kalau petugas bertanya.
- Bumbu kering dan bubuk kaldu dalam kemasan kecil yang masih tersegel
- Sambal kemasan pabrik, karena yang buatan rumah lebih mudah dipersoalkan
- Mi instan secukupnya, karena ini jadi penyelamat saat toko sudah tutup
- Beras dalam jumlah kecil kalau kamu tidak bisa lepas dari nasi
Satu hal soal berkas yang tetap perlu kamu ingat sebelum berangkat: paspormu harus berlaku minimal enam bulan dihitung dari tanggal rencana pulang, bukan dari tanggal berangkat.
Satu kebiasaan yang membuat semuanya lebih mudah
Kalau kamu hanya mengambil satu hal dari tulisan ini, ambil yang ini: rencanakan makan sebagaimana kamu merencanakan tempat menginap. Begitu urusan makan kamu perlakukan sebagai bagian dari perbekalan, Islandia berhenti terasa mahal dan mulai terasa jujur: ikan yang baru naik dari laut, rebusan domba yang hangat setelah hari berangin, dan sarapan buatan sendiri di dapur penginapan.