Puglia dan Matera untuk WNI: Rute Italia Selatan yang Jarang Dilirik
Wisatawan Indonesia hampir selalu berhenti di Roma, Florence, dan Venesia, padahal sisi selatan Italia menyimpan kota di atas bukit, rumah beratap kerucut, dan satu kota berumah gua. Ini rute desanya, lengkap dengan berapa malam yang wajar dan bagian mana yang wajib bermobil.

Foto oleh Gianluca Carenza di Unsplash
Italia punya dua wajah yang jarang bertemu dalam satu rencana perjalanan. Wajah pertama adalah kota-kota besar yang sudah dihafal hampir semua wisatawan Indonesia. Wajah kedua ada jauh di tumit sepatu, di kawasan Puglia dan di kota Matera. Di sana tidak ada galeri raksasa dan antrean panjang. Yang ada adalah kota kecil berdinding terang di punggung bukit, pedesaan dengan rumah batu beratap kerucut, dan satu kota yang rumah-rumahnya dipahat ke lereng jurang.
Rute ini tidak cocok untuk semua orang, dan itu bagian dari daya tariknya. Puglia dan Matera paling masuk akal kalau waktumu lebih panjang dari rata-rata, atau kalau kamu sudah pernah menghabiskan satu trip di utara.
Kenapa kawasan ini hampir selalu terlewat
Penerbangan dari Jakarta, Bali, atau Surabaya hampir selalu mendarat di utara atau di ibu kota, jadi kawasan selatan terasa seperti tambahan yang harus diperjuangkan. Daftar tempat wajib yang beredar di media sosial Indonesia juga berisi tiga kota besar itu. Yang paling menentukan, desa-desa di Puglia tidak dilewati rel utama. Begitu sebuah tempat tidak bisa dijangkau dengan turun dari kereta lalu jalan kaki, tempat itu hilang dari rencana banyak orang.
Kalau ini trip pertamamu ke Italia, rute kota besar tetap lebih aman dan kawasan selatan bisa menyusul nanti, jadi baca dulu rute klasik Roma, Florence, dan Venesia sebagai pembandingnya.
Tiga bentuk tempat yang bikin kawasan ini layak diperjuangkan
Kota terang di atas bukit
Beberapa kota di Puglia dibangun di punggungan tinggi dan seluruh rumahnya dikapur terang, sehingga dari kejauhan terlihat seperti tumpukan gula di atas hamparan pohon zaitun. Ostuni dan Locorotondo paling sering disebut. Di dalamnya tidak ada atraksi bertiket. Kegiatannya adalah menyusuri gang yang naik turun sampai menemukan pelataran yang menghadap kebun zaitun.
Rumah beratap kerucut di pedesaan
Di sekitar Alberobello berdiri rumah-rumah batu kering dengan puncak berbentuk kerucut. Pusatnya sendiri sudah sangat ramai dan banyak bangunannya berubah jadi toko suvenir. Yang lebih berkesan justru yang berdiri sendiri di tengah ladang, dan itu hanya bisa kamu temukan kalau menyetir sendiri.
Kota berumah gua
Matera adalah kejutan terbesarnya. Satu bagian kotanya terdiri dari rumah yang dipahat ke dalam lereng jurang, bertingkat-tingkat, dengan jalan yang sekaligus menjadi atap rumah di bawahnya. Kawasan itu dulu dikosongkan, lalu hidup kembali sebagai tempat yang dijaga. Berjalan di sana saat matahari turun adalah pemandangan paling tidak biasa di seluruh Italia.
Berapa malam yang wajar
Rute selatan menuntut kesabaran, dan memotongnya terlalu pendek membuat usahanya sia-sia. Patokan yang masuk akal kira-kira seperti ini.
- Dua malam di Matera, supaya kamu dapat satu sore dan satu pagi di kawasan rumah gua tanpa tergesa
- Tiga malam di pedesaan Puglia sebagai markas untuk keliling desa-desa kecil
- Satu sampai dua malam di Lecce atau satu kota pesisir, kalau ingin suasana yang lebih hidup di ujung rute
- Satu malam penyangga di kota tempat kamu mendarat atau berangkat, karena berpindah moda di hari yang sama melelahkan
Kalau waktumu lebih sempit, pilih satu saja antara Matera atau pedesaan Puglia, lalu pulang dengan rasa penasaran. Itu lebih baik daripada memaksa keduanya masuk rentang yang terlalu pendek.
Bagian mana yang benar-benar butuh mobil sewaan
Ini bagian yang paling sering disalahpahami. Tidak seluruh rute butuh mobil, tapi ada bagian yang tanpa mobil praktis tidak bisa dijalankan.
- Masuk ke kawasan ini dari utara masih bisa dengan kereta jarak jauh atau penerbangan domestik, jadi di tahap ini kamu belum perlu mobil
- Menjelajah antardesa di pedalaman Puglia wajib bermobil, karena angkutan antardesa jarang, jadwalnya menyusut di akhir pekan, dan rumah batu terbaik ada di jalan ladang
- Masuk ke inti kota lama sebaiknya tidak bermobil, karena banyak pusat kota lama tertutup untuk kendaraan pribadi yang bukan milik penghuni
- Kembalikan mobil di kota tempat kamu naik pesawat atau kereta, bukan di desa tempat menginap
Sebelum memesan mobil, pahami dulu deposit, asuransi, dan hal yang bikin kaget di loket lewat panduan menyewa mobil di luar negeri karena aturannya tidak sama dengan menyewa di Indonesia.
Catatan praktis: mobil bertransmisi manual jauh lebih umum di kelas sewa yang paling murah. Kalau kamu hanya biasa menyetir matik, booking lebih awal dan pastikan kategorinya memang matik.
Cara menginapnya berbeda total
Di rute kota besar kamu menginap di hotel dekat stasiun lalu keluar masuk dengan kereta. Di sini, tempat menginap justru menjadi isi acaranya: rumah pertanian yang disulap jadi penginapan, rumah batu beratap kerucut yang disewakan utuh, atau kamar di rumah tua di dalam kota kecil.
Di rute desa, penginapan bukan tempat menaruh koper, melainkan salah satu alasan kamu datang.
Konsekuensinya dua. Penginapan di luar kota biasanya tidak punya resepsionis sepanjang waktu, jadi jam kedatangan harus disepakati lewat pesan. Lalu sarapan dan makan malam tidak selalu ada di dekat situ, sehingga belanja perlu direncanakan sebelum gelap.
Pertimbangan memilih antara hotel, apartemen sewa, atau penginapan rumahan dibahas lebih dalam di panduan memilih akomodasi di luar negeri dan untuk rute ini bobotnya condong ke penginapan yang punya dapur.
Kendala bahasa yang lebih nyata di sini
Di kota besar, bahasa Inggris nyaris selalu cukup. Di desa-desa selatan, bahasa Inggris jauh lebih jarang dipakai, terutama di toko kecil, kantor penyewaan mobil cabang, dan rumah makan keluarga. Ini bukan masalah besar, tapi perlu disiapkan sejak di rumah.
- Download paket bahasa untuk mode offline, karena sinyal di jalan ladang tidak selalu bagus
- Simpan nama dan alamat penginapan sebagai tulisan dan screenshot, bukan hanya di dalam aplikasi
- Pelajari segelintir kata untuk bahan makanan yang kamu hindari
- Kalau urusannya rumit, selesaikan lewat tulisan dan terjemahan, bukan percakapan cepat di loket
Kebiasaan praktis bertahan tanpa bahasa Inggris dirangkum di tips bertahan di negara yang warganya tidak berbahasa Inggris dan sangat terpakai di rute pedesaan seperti ini.
Tempo hari dan urusan makan di kawasan desa
Yang paling terasa bukan jenis masakannya, melainkan jadwalnya. Di desa, rumah makan tutup di antara waktu makan dan tidak buka lagi sampai sore. Toko kecil juga ikut tutup di tengah hari, jadi kalau kamu baru tiba dan belum makan, pilihanmu bisa benar-benar habis.
Soal makanan halal, kawasan ini bukan tempat dengan banyak pilihan bersertifikat. Strategi paling aman adalah bersandar pada hidangan sayur, ikan, dan olahan tepung yang jadi tulang punggung masakan setempat, lalu memasak sendiri sesekali di penginapan berdapur.
Musim yang paling nyaman untuk rute desa
Rute ini berisi banyak jalan kaki di tanjakan, jadi puncak musim panas kira-kira Juli sampai Agustus adalah periode paling melelahkan sekaligus paling ramai. Musim semi dan musim gugur umumnya lebih bersahabat, walaupun cuaca tetap tidak bisa dijanjikan. Di luar musim ramai, sebagian penginapan desa justru tutup.
Yang perlu diurus sebelum berangkat
Puglia dan Matera ada di dalam wilayah Schengen, jadi tidak ada perizinan tambahan untuk kawasan selatan. Yang berlaku tetap aturan umumnya.
- Paspor berlaku minimal enam bulan dihitung dari tanggal rencana pulangmu, bukan tanggal berangkat
- Jatah tinggal mengikuti aturan sembilan puluh hari dalam seratus delapan puluh hari di seluruh wilayah Schengen
- Asuransi perjalanan dengan pertanggungan EUR 30.000 tetap jadi syarat pengajuan visa turis
- Itinerary yang kamu lampirkan sebaiknya mencerminkan rute desa yang sebenarnya, termasuk penginapan di luar kota
Satu hal yang sering terlewat: alamat penginapan pedesaan kadang hanya berupa nama jalan ladang tanpa nomor, jadi minta titik koordinat ke pemilik dan simpan sebelum berangkat supaya lampiran rutemu tetap bisa diverifikasi dan kamu sendiri tidak kesulitan mencarinya saat tiba.
Jadi rute ini untuk siapa
Kawasan selatan cocok kalau kamu nyaman menyetir di jalan sempit, senang tempat sepi, dan tidak keberatan satu hari berlalu tanpa atraksi besar. Tidak cocok kalau waktumu mepet atau kepuasanmu datang dari mencentang daftar tempat terkenal. Yang keliru hanyalah menempelnya sebagai tambahan dua malam di ujung rute kota besar, lalu menyimpulkan kawasan itu membosankan.