Tips Liburan

Bertahan di Negara yang Warganya Tidak Berbahasa Inggris: Tips Praktis

Bahasa Inggris tidak selalu menolong begitu kamu keluar dari bandara. Ini cara berkomunikasi selama di sana dengan terjemahan kamera, kalimat cadangan tertulis, dan cara bertanya yang tetap dijawab.

Tim Visa Expert GoVisablog.govisa.id
Bertahan di Negara yang Warganya Tidak Berbahasa Inggris: Tips Praktis

Foto oleh Hiep Duong di Unsplash

Banyak orang berangkat dengan asumsi yang sama. Selama bisa bahasa Inggris seadanya, semua akan beres. Asumsi itu biasanya bertahan sampai pesawat mendarat, lalu runtuh di konter pertama yang harus kamu ajak bicara. Petugas loket menggeleng, penjaga toko menunjuk layar kasir tanpa berkata apa-apa. Tidak ada yang bermusuhan. Kalian cuma tidak punya bahasa yang sama.

Artikel ini bukan soal berkas dan bukan soal wawancara di kedutaan. Ini soal hari-hari setelah kamu melewati imigrasi. Yang dibahas di sini teknik lapangan, bukan kursus bahasa.

Kenapa mengandalkan bahasa Inggris justru membuatmu terlihat bingung

Di banyak tempat, bahasa Inggris bukan bahasa yang dipakai sehari-hari. Kalau kamu membuka percakapan dengan kalimat panjang berbahasa Inggris, lawan bicara sering menilai bahwa percakapan ini akan melelahkan, lalu memilih mundur. Bukan karena tidak mau menolong, tetapi karena takut salah paham dan malah menyesatkan kamu. Akibatnya kamu berdiri lama sambil kelihatan kebingungan, dan di tempat ramai orang yang terlihat bingung adalah sasaran paling empuk.

Kalau bahasa Inggrismu memang pas-pasan, kecemasannya biasanya muncul jauh sebelum berangkat, dan soal itu dibahas terpisah di artikel tentang wawancara visa yang tidak lancar bahasa Inggris. Di sana yang dinilai konsistensi jawabanmu, sedangkan di sini yang dinilai cuma apakah pesanmu sampai.

Terjemahan kamera dan batasnya

Fitur terjemahan lewat kamera ponsel adalah alat paling berguna untuk teks cetak. Menu restoran, papan petunjuk peron, tombol mesin tiket, dan pengumuman yang ditempel di pintu. Arahkan kamera, baca hasilnya, ambil keputusan. Yang perlu kamu tahu adalah batasnya, supaya tidak kaget saat alatnya gagal.

  • Tulisan tangan hampir selalu bermasalah. Papan harga di pasar dan menu yang ditulis dengan kapur sering tidak terbaca.
  • Huruf yang tidak kamu kenal membuatmu tidak bisa menilai hasilnya. Kalau terjemahannya ngawur, aslinya pun tidak bisa kamu cek.
  • Teks di atas foto atau di papan yang memantulkan cahaya kerap terbaca sepotong-sepotong.
  • Nama makanan dan nama tempat sering diterjemahkan harfiah lalu jadi aneh.

Aturan praktisnya sederhana. Pakai terjemahan kamera untuk keputusan yang tidak berisiko, seperti memastikan kamu berdiri di antrean yang benar. Untuk yang berisiko, seperti kandungan makanan yang berkaitan dengan alergi atau kehalalan, konfirmasi ulang dengan kalimat tertulis yang sudah kamu siapkan.

Kalimat cadangan tertulis untuk situasi yang bisa diramalkan

Ini bagian yang paling sering dilewatkan, padahal paling murah. Sebelum berangkat, siapkan kalimat pendek dalam bahasa setempat, simpan sebagai tangkapan layar, dan cetak satu lembar untuk dompet. Bukan untuk dihafal, tetapi untuk ditunjukkan.

  1. Alamat penginapan lengkap dalam aksara setempat, beserta patokan bangunan terdekat.
  2. Kalimat alergi atau pantangan makanan, menyebut bahannya secara spesifik, bukan sekadar kategorinya.
  3. Kalimat minta bantuan darurat, termasuk permintaan agar seseorang menelepon petugas atau rumah sakit.
  4. Kalimat untuk menanyakan arah ke stasiun, halte, atau toilet terdekat.
  5. Kalimat untuk apotek, menyebut keluhannya, bukan merek obat.

Perlu ditegaskan, kalimat cadangan begini tidak ada hubungannya dengan dokumen resmi yang butuh penerjemah tersumpah seperti dijelaskan di panduan terjemahan dan legalisasi dokumen visa. Yang satu urusan keabsahan berkas, yang satu lagi alat bantu di jalan.

Tulis alamatnya, jangan melafalkannya

Melafalkan nama tempat dalam bahasa yang tidak kamu kuasai adalah cara tercepat untuk tersesat. Nada dan tekanan suku kata bisa mengubah arti, dan sopir akan menebak dari bunyi yang dia dengar. Tebakan yang meleset membawamu ke tempat lain yang namanya mirip.

Alamat yang ditulis dalam aksara setempat menghapus seluruh tahap tebak-tebakan itu. Orang membacanya, langsung tahu, dan kalau tidak tahu pun mereka bisa menunjukkan tulisan itu ke orang lain. Kertas bisa berpindah tangan, ucapanmu tidak.

Kertas kecil berisi alamat dalam aksara setempat sering lebih berguna daripada satu jam belajar pelafalan.

Minta pihak penginapan mengirimkan alamat versi aksara setempat saat kamu memesan kamar, lalu simpan tangkapan layarnya di galeri. Foto tampak depan bangunannya juga berguna, karena kadang menunjukkan foto lebih cepat daripada menunjukkan tulisan.

Cara bertanya yang meningkatkan peluang dijawab

Ada pola yang berulang. Orang yang bertanya dengan kalimat panjang berlapis biasanya tidak dijawab, sedangkan yang bertanya satu hal pendek sambil menunjuk sesuatu biasanya dijawab. Bedanya bukan bahasa, melainkan beban yang kamu berikan ke lawan bicara.

  • Satu pertanyaan dalam satu kali bertanya. Kalau butuh tiga informasi, tanyakan satu demi satu.
  • Tunjukkan, jangan menjelaskan. Sodorkan layar, tunjuk peta, arahkan jari ke barangnya.
  • Beri jeda setelah bertanya, karena orang butuh waktu memutuskan.
  • Kalau ditolak, pindah ke orang lain tanpa berdebat. Menahan orang yang jelas tidak bisa membantu hanya membuang waktu kalian berdua.

Angka dan harga sebaiknya ditulis, bukan diucapkan

Angka adalah sumber salah paham paling mahal saat bepergian. Bunyi beberapa angka mirip satu sama lain, dan di tempat bising kamu cuma menangkap separuhnya. Salah dengar satu digit pada harga berarti kamu membayar jumlah yang sama sekali berbeda.

Biasakan menulis. Ketik angkanya di kalkulator ponsel lalu tunjukkan layarnya, atau tulis di kertas dan putar ke arah lawan bicara. Cara ini berguna saat menawar, menyepakati jam jemput, dan memastikan nomor peron. Sebelum menyerahkan uang, pastikan dulu jumlah di layar kasir, bukan yang kamu dengar, sekalian supaya konversinya ke rupiah benar.

Siapkan salinan luring, karena sinyal bisa hilang lebih dulu

Semua teknik di atas mengandaikan ponselmu hidup dan bisa dipakai. Kenyataannya sinyal hilang di kereta bawah tanah, di pegunungan, dan di dalam gedung tebal, justru saat kamu paling butuh. Kartu data lokal pun tidak menjamin cakupan merata.

  • Unduh peta wilayah tujuan untuk dipakai tanpa koneksi, termasuk area penginapan dan rute ke bandara.
  • Unduh paket bahasa setempat di aplikasi penerjemah yang kamu pakai, supaya tetap jalan tanpa data.
  • Simpan alamat, tiket, dan kalimat cadangan sebagai tangkapan layar, bukan sebagai tautan yang harus dimuat ulang.
  • Bawa cetakan kertas untuk alamat penginapan dan kontak darurat, sebagai lapis terakhir kalau ponsel mati atau hilang.

Soal aplikasi mana saja yang layak dipasang sebelum berangkat dan mana yang cuma memenuhi ruang penyimpanan, pembahasannya ada di daftar aplikasi ponsel yang berguna saat traveling. Pasang dan uji semuanya dari rumah, jangan di bandara keberangkatan.

Kepada siapa bertanya kalau benar-benar buntu

Kalau usaha pertama gagal, jangan berdiri di tempat yang sama sambil mengulang cara yang sama. Pindah ke pihak yang memang terbiasa berurusan dengan pendatang.

  1. Resepsionis penginapan. Ini pilihan pertama, dan mereka biasanya mau membantu lewat telepon sekalipun kamu sedang di luar.
  2. Petugas informasi di stasiun besar, bandara, dan terminal, karena bagian itu memang disiapkan untuk pertanyaan orang asing.
  3. Polisi atau petugas keamanan, khusus untuk urusan keselamatan dan kehilangan, bukan untuk bertanya arah biasa.

Kalau kamu menumpang jaringan nirkabel di kafe atau bandara demi membuka peta dan terjemahan, risikonya dibahas di ulasan soal wifi publik dan keamanan data saat traveling. Menumpang untuk mencari arah umumnya aman, tetapi urusan perbankan sebaiknya menunggu sampai kamu kembali ke penginapan.

Sikap yang membuat orang mau menolong

Faktor terakhir ini tidak teknis, tetapi pengaruhnya besar. Orang cenderung menolong seseorang yang terlihat tenang dan tidak akan menyita waktunya lama-lama, lalu menghindari seseorang yang terdengar mendesak atau bicara semakin keras karena merasa tidak dimengerti.

  • Hafalkan dua kata saja dalam bahasa setempat, yaitu terima kasih dan permisi. Dua kata itu mengubah nada seluruh interaksi.
  • Bicara pelan dengan volume normal. Mengeraskan suara tidak membuat kalimat asing lebih mudah dipahami.
  • Terima jawaban yang tidak lengkap. Diantar sampai ke ujung gang sudah kemajuan, sisanya bisa kamu selesaikan sendiri.

Satu kalimat pembatas supaya jelas. Semua yang dibahas di sini berlaku untuk perjalanan wisata singkat, bukan untuk rencana tinggal lama. Selebihnya, kamu tidak perlu menguasai bahasa setempat untuk bepergian dengan nyaman. Kalimat yang sudah dicetak, alamat dalam aksara setempat, peta yang bisa dibuka tanpa sinyal, dan sikap yang enak dilihat sudah cukup untuk sebagian besar situasi. Sisanya selesai dengan satu hal yang tidak butuh bahasa sama sekali, yaitu jari yang menunjuk ke arah yang benar.