Kuliner Halal di Jepang: Cara Membaca Bahan dan Bertanya ke Pelayan
Di Jepang babi mudah dihindari, yang sulit adalah kaldu dan arak masak yang sudah tercampur sebelum hidangan sampai ke mejamu. Panduan ini mengajari kamu membaca bahan, bukan menghafal daftar restoran.

Foto oleh Kaushal Premlani di Unsplash
Yang menyulitkan di Jepang bukan daging yang terlihat. Potongan babi di atas piring justru gampang kamu hindari, karena bentuk dan namanya mudah dikenali. Kesulitan sebenarnya datang dari bahan yang tidak kelihatan sama sekali: kaldu, bumbu dasar, dan cairan perendam yang sudah tercampur jauh sebelum hidangan sampai ke mejamu. Semangkuk sayur rebus bisa bermasalah, sementara semangkuk mi bisa aman, dan dari luar keduanya kelihatan sama saja.
Karena itu artikel ini tidak berisi daftar rumah makan. Daftar seperti itu cepat kedaluwarsa dan hanya berguna di satu kota. Yang jauh lebih tahan lama adalah kemampuan membaca bahan: tahu apa yang bersembunyi di dalam sebuah hidangan, tahu kata apa yang harus kamu tanyakan, dan tahu bagian mana dari label kemasan yang perlu dilihat lebih dulu.
Dua kaldu yang menjadi fondasi hampir semua rasa
Hampir semua rasa gurih masakan Jepang berdiri di atas satu lapisan dasar yang sama, yaitu kaldu bening bernama dashi. Lapisan ini muncul di sup miso, kuah mi, saus cocolan, telur dadar gulung, sampai air rebusan sayur. Kabar baiknya, dua jenis dashi yang paling umum justru aman untuk kamu.
- Katsuo dashi, kaldu dari serpih ikan kering yang diserut tipis. Ini yang paling sering dipakai dan umumnya aman.
- Kombu dashi, kaldu dari rumput laut yang direndam. Paling bersih dari kerumitan dan jadi andalan rumah makan vegetarian.
- Tonkotsu, kaldu tulang babi yang membuat kuah mi terlihat keruh seperti susu. Harus kamu hindari, dan namanya biasanya tercantum jelas di papan menu.
- Kaldu ayam atau campuran daging, kadang dipakai memperkuat kuah tanpa ditulis di menu. Status halalnya tidak bisa kamu pastikan, jadi perlu ditanyakan.
Kalau ini perjalanan pertamamu yang serius mengurus soal makanan, baca dulu panduan mencari makanan halal di luar negeri supaya kerangka berpikirnya terpasang sebelum masuk ke kerumitan khas Jepang.
Arak masak dan cuka beras yang jarang disebut di menu
Inilah bagian yang paling sering membuat wisatawan Indonesia terkejut. Masakan Jepang memakai arak beras sebagai bumbu dapur sehari-hari, bukan sebagai minuman di gelas. Fungsinya menghilangkan bau amis, melunakkan bahan, dan memberi kilap serta rasa manis. Akibatnya bahan beralkohol bisa masuk ke hidangan yang sama sekali tidak terlihat mencurigakan, termasuk tumisan sayur dan rebusan kentang.
Ada tiga nama yang perlu kamu kenali. Mirin adalah arak beras manis yang hampir selalu ada di saus teriyaki dan air rebusan bergaya nimono. Ryorishu adalah arak khusus memasak, dijual di rak bumbu dan dipakai sesering orang memakai kecap. Lalu ada cuka beras, yang sebagian jenisnya masih memuat alkohol sisa, dan cuka inilah yang dicampur ke nasi untuk sushi.
Di Jepang pertanyaan yang paling berguna bukan apakah ini mengandung daging, melainkan apakah ini mengandung arak masak.
Meski begitu, titik amannya tetap luas. Nasi putih, mi soba dan udon tanpa kuah bermasalah, telur, tahu, natto, serta sayur kukus tanpa bumbu nyaris selalu bisa kamu makan. Kesulitan baru muncul begitu ada saus, jadi mintalah bumbu dipisah kalau kamu ragu.
Istilah Jepang yang perlu kamu tanyakan
Pelayan di Jepang umumnya kooperatif dan tidak tersinggung dengan pertanyaan rinci. Yang jadi hambatan justru bahasa. Menyebut satu kata kunci dalam bahasa Jepang jauh lebih efektif daripada menjelaskan panjang dalam bahasa Inggris.
- Butaniku, daging babi. Pertanyaan dasarnya butaniku wa haitte imasu ka.
- Osake atau ryorishu, untuk menanyakan arak masak. Gunakan osake wa haitte imasu ka.
- Mirin, cukup sebut namanya saja karena pelayan mengenalnya sebagai nama bahan di dapur, bukan sebagai minuman.
- Kombu dashi, kalau kamu ingin kuah rumput laut sebagai ganti kuah daging.
- Shojin ryori, masakan vegetarian ala kuil yang menghindari bahan hewani dan biasanya juga bumbu beralkohol.
- Nuki de, artinya tanpa bahan tertentu, misalnya mirin nuki de kalau sausnya kamu minta dibuat tanpa mirin.
Kalau pelayan terlihat tidak yakin, mintalah dia bertanya ke dapur. Juru masak sering bisa langsung menjawab dan kadang menawarkan versi lain dari hidangan yang sama.
Aplikasi penerjemah dengan fitur kamera sangat menolong di situasi ini, dan daftarnya sudah dibahas di aplikasi yang perlu disiapkan sebelum berangkat ke Jepang lengkap dengan alasan kenapa sebaiknya kamu download sebelum terbang.
Membaca label kemasan di minimarket
Minimarket akan jadi penolong terbesarmu, dan kemasan di Jepang sebenarnya jujur. Hampir semua produk memuat daftar bahan lengkap beserta catatan pemicu alergi. Persoalannya daftar itu berhuruf Jepang, jadi kamu perlu mengenali bentuk beberapa kata kunci, bukan membaca seluruhnya.
- Cari blok daftar bahan di balik kemasan, biasanya kotak kecil bergaris berjudul genzairyo mei.
- Scan bagian itu dengan aplikasi penerjemah kamera, lalu baca dari atas karena bahan disusun dari yang paling banyak.
- Perhatikan kata yang menunjuk hewan: buta untuk babi, tori untuk ayam, gyu untuk sapi.
- Cari kata ekisu, yang berarti ekstrak atau sari, karena di situlah kaldu daging bersembunyi.
- Cari kata shusei, alkohol yang ditambahkan sebagai pengawet dan cukup sering muncul di nasi kepal serta roti kemasan.
- Terakhir, kata zerachin untuk gelatin dan dobutsusei untuk bahan asal hewani.
Rak yang paling aman biasanya rak buah, rak susu dan telur, rak nasi kepal berisi rumput laut atau ikan, serta salad yang sausnya terpisah. Kalau penginapanmu punya dapur kecil, membeli bahan mentah lalu memasak sendiri memotong semua keraguan ini sekaligus.
Taktik saat makan bersama rombongan
Makan sendiri itu mudah. Yang sulit adalah saat kamu bergabung dengan rombongan kantor, keluarga besar, atau teman perjalanan yang tidak punya batasan makanan. Di Jepang ada satu kebiasaan tambahan yang perlu diantisipasi, yaitu memesan beberapa porsi untuk dibagi bersama, sehingga kamu tidak mengendalikan seluruh meja.
- Bicara lebih awal, sebelum tempat makan dipilih. Begitu rombongan duduk, pilihanmu menyempit drastis.
- Tawarkan satu usulan tempat, jangan hanya menolak. Rumah makan mi soba, sushi, atau bergaya vegetarian biasanya diterima semua orang.
- Pesan satu porsi terpisah untuk dirimu dan katakan terus terang alasannya. Ini lazim dan tidak dianggap merepotkan.
- Makan secukupnya di awal hari supaya kamu tidak terdesak lapar saat satu-satunya pilihan di meja meragukan.
Kalau kamu pernah melakukan perjalanan serupa ke negara tetangganya, bandingkan pendekatannya dengan panduan kuliner halal Korea Selatan karena di sana tantangannya lebih banyak soal potongan daging dan pasta cabai, bukan soal kaldu dan arak masak.
Jaring pengaman yang kamu siapkan dari Indonesia
Yang paling berguna dari rumah bukan tumpukan bekal, melainkan beberapa barang kecil yang menutup celah di hari tersibuk, saat kamu berpindah kota dan tidak punya waktu mencari tempat makan yang cocok.
- Bumbu instan kering dan abon berbahan ikan atau ayam yang bisa kamu tambahkan ke nasi putih.
- Mi instan secukupnya, karena hampir semua penginapan menyediakan air panas.
- Kartu kecil berisi kalimat permintaanmu dalam bahasa Jepang, untuk ditunjukkan kalau aplikasi di gadget mendadak tidak mau jalan.
- Catatan nama hidangan yang sudah kamu pastikan aman, supaya tidak perlu riset ulang setiap pindah kota.
Pastikan juga kamu tahu batas bawaannya, karena aturan karantina bisa menyita barang yang kamu anggap sepele, dan rinciannya ada di panduan membawa makanan instan dari Indonesia sebelum kamu mengisi koper.
Satu hal administratif juga tetap perlu dicek: paspormu harus berlaku minimal enam bulan, dihitung dari tanggal rencana pulang, bukan tanggal berangkat. Banyak orang salah menghitung di titik ini.
Satu kebiasaan kecil yang mengubah seluruh perjalanan
Kalau semua di atas terasa banyak, kuncikan satu kebiasaan saja: jangan menilai hidangan dari penampilannya, nilai dari sausnya. Begitu perhatianmu berpindah dari potongan daging ke cairan yang menyelimutinya, kamu otomatis mulai bertanya hal yang benar. Dan dengan kebiasaan itu Jepang justru berubah jadi negara yang relatif nyaman untuk wisatawan muslim, karena lapisan rasa dasarnya berbasis ikan dan rumput laut, bukan daging.