Kuliner Yunani untuk WNI: Adab Taverna, Mezze, dan Pilihan Halal
Makan di taverna bukan memesan satu porsi untuk diri sendiri, melainkan mengisi meja dengan banyak piring kecil yang datang bergelombang. Dari satu gagasan itu, semua kebiasaan bersantap di Yunani jadi masuk akal, termasuk jalur paling aman untuk pembaca Muslim.

Foto oleh Angèle Kamp di Unsplash
Makan di taverna Yunani bukan soal memilih satu hidangan untuk diri sendiri. Begitu kamu duduk, meja berubah menjadi lahan bersama. Piring-piring kecil datang susul-menyusul dan semua orang mengambil dari tengah. Kalau kamu masuk dengan kebiasaan memesan satu menu utama per orang, kamu akan kekenyangan di piring ketiga sementara hidangan yang paling enak baru keluar.
Satu gagasan itu saja yang perlu kamu bawa. Hampir semua kebiasaan bersantap di Yunani yang terasa aneh bagi pengunjung Indonesia sebenarnya turunan dari cara berbagi ini: urutan hidangan yang kelihatan tidak teratur, roti yang muncul tanpa diminta, jam makan malam yang mundur jauh, dan kebiasaan duduk lama setelah piring kosong.
Meja adalah milik bersama, bukan milik per orang
Di banyak negara, menu dibaca secara vertikal: kamu memilih satu pembuka, satu utama, satu penutup, lalu makanan itu milikmu. Di taverna, menu lebih sering dibaca secara horizontal. Rombongan memilih sekumpulan piring kecil, biasa disebut mezze, lalu semuanya ditaruh di tengah meja supaya bisa diambil bergantian. Jumlah piring menyesuaikan jumlah orang, bukan satu piring satu kepala.
Akibatnya, pelayan sering tidak menanyakan pilihan masing-masing orang, melainkan menanyakan kalian mau makan apa. Itu bukan kelalaian. Mereka menghitung untuk meja, bukan untuk kursi.
Kebiasaan berbagi seperti ini berlaku juga di beberapa negara Mediterania lain, dan perbandingannya lumayan membantu kalau kamu pernah membaca soal adab bersantap di Italia sebelum berangkat.
Di taverna, yang dipesan bukan makanan untuk orang, melainkan makanan untuk meja.
Hidangan datang bergelombang, dan itu memang disengaja
Jangan menunggu semua pesanan keluar bersamaan. Dapur taverna mengirim apa pun yang sudah siap, jadi urutannya ditentukan waktu masak, bukan status pembuka atau utama. Salad bisa datang lebih dulu, lalu sayur, lalu panggangan menyusul agak lama.
- Piring pertama datang cepat, biasanya yang dingin atau yang cuma perlu dirakit.
- Piring yang butuh panggangan atau rebusan lama datang di gelombang berikutnya.
- Satu hidangan bisa datang setelah kalian merasa makannya sudah selesai, dan itu normal.
- Kalau meja terasa kosong beberapa menit, itu bukan tanda pesanan terlupakan.
Begitu kamu menerima polanya, makan jadi jauh lebih santai. Kamu tidak sedang menunggu satu piring besar, kamu sedang mengisi meja perlahan-lahan.
Cara memesan untuk rombongan tanpa kelebihan makanan
Kesalahan paling sering bukan salah pilih hidangan, melainkan memesan terlalu banyak di awal. Porsi mezze tidak sekecil namanya, dan roti akan mengisi perut lebih cepat dari dugaan kamu.
- Pesan lebih sedikit dari jumlah orang di meja untuk gelombang pertama, misalnya tiga sampai empat piring untuk empat orang.
- Campur jenisnya: satu sayur, satu kacang atau polong, satu berbasis ikan, satu salad.
- Makan dulu, nilai dulu, baru tambah di gelombang kedua kalau memang masih kurang.
- Pesan satu panggangan atau satu hidangan berkuah sebagai poros meja, bukan satu per orang.
- Sisakan ruang untuk roti, karena roti hampir pasti datang.
Cara ini juga lebih ramah ke budget, karena kamu berhenti memesan di titik kenyang, bukan di titik menu habis dibaca.
Roti dan minyak zaitun yang muncul sendiri
Sebelum kamu selesai memilih, keranjang roti biasanya sudah mendarat di meja, kadang bersama minyak zaitun atau sepiring zaitun utuh. Ini cara taverna menyambut meja, bukan hadiah dan bukan kekeliruan. Di banyak tempat roti tercatat di tagihan sebagai pos tersendiri, jadi kamu boleh menolaknya dengan sopan sejak awal.
Minyak zaitun sendiri dipakai jauh lebih bebas daripada yang biasa kamu lihat di Indonesia, dan itu memang bagian dari rasa hidangannya. Buat pembaca Muslim, pos ini aman dan justru jadi sekutu, karena banyak hidangan sayur di Yunani dimasak hanya dengan minyak zaitun, lemon, dan rempah.
Jam makan malam mundur jauh dari kebiasaan Indonesia
Kalau kamu masuk taverna pada jam makan malam versi Indonesia, ruangannya bisa terasa kosong dan kamu akan menyangka tempat itu sedang sepi atau kurang bagus. Padahal meja baru benar-benar terisi beberapa jam setelahnya, terutama di musim panas ketika hari terang sampai lama dan orang menunda makan sampai udara mereda.
Konsekuensinya praktis. Kalau kamu menyesuaikan, jadwal harian ikut bergeser: siang jadi lebih panjang, dan makan malam jadi acara utama hari itu, bukan selingan sebelum tidur.
Pergeseran jam seperti ini bukan hal khas Yunani saja, dan ada ulasan terpisah soal jam makan di negara lain yang berbeda dari Indonesia kalau kamu mau membandingkan.
Catatan jujur soal daging babi dan anggur di meja
Ini bagian yang perlu disampaikan terbuka. Daging babi lazim di dapur Yunani, dan beberapa hidangan panggangan yang paling populer memakainya sebagai pilihan utama. Nama hidangan di menu sering tidak menyebut jenis dagingnya, jadi kamu perlu bertanya, bukan menebak dari namanya.
Anggur juga bagian wajar dari meja taverna. Botol atau kendi biasanya dipesan untuk meja, bukan per orang, dan menolak bagianmu tidak masalah. Yang perlu lebih kamu waspadai justru masakan yang memakai anggur sebagai bahan rebusan, karena itu tidak terlihat di piring.
- Tanyakan jenis daging pada hidangan panggangan, jangan mengandalkan nama menunya.
- Tanyakan juga apakah hidangan berkuah atau rebusan memakai anggur.
- Perhatikan lemak masak dan kaldu, karena sebagian hidangan sayur dimasak dengan kaldu daging.
- Pastikan sendok dan piring bersama tidak dipakai bergantian dengan piring daging babi di meja yang sama.
Kalau kamu belum pernah menyiasati menu serba daging di Eropa, kerangka umumnya sudah dibahas di panduan mencari makanan halal saat liburan dan itu berlaku juga di sini.
Jalur paling aman ada di ikan, sayur, dan kacang
Kabar baiknya, justru di situ dapur Yunani paling kaya. Kamu tidak perlu mencari pengecualian, karena bagian menu yang bebas daging memang yang paling panjang. Banyak taverna pesisir bahkan lebih kuat di ikan dan sayur.
- Hidangan berbasis ikan dan hasil laut, dari panggangan sampai yang digoreng ringan, umumnya dimasak sederhana dengan minyak zaitun dan lemon.
- Sayur rebus yang disiram minyak zaitun, sering disajikan dingin atau hangat, dan hampir selalu tersedia.
- Kacang dan polong, misalnya olahan buncis besar berkuah tomat atau bubur kacang kuning yang dimakan dengan roti.
- Terung dan paprika isi beras yang dipanggang, yang di banyak tempat memang dibuat tanpa daging.
- Salad dengan keju dan zaitun, plus olesan berbasis sayur atau kacang untuk roti.
Satu catatan kecil: keju dan yoghurt muncul hampir di mana-mana, jadi anggota rombongan yang menghindari susu justru perlu lebih banyak bertanya daripada soal dagingnya.
Duduk lama setelah makan adalah bagian dari makannya
Setelah piring kosong, pelayan tidak akan buru-buru mengantar tagihan. Di taverna, meja dianggap milik kamu sampai kamu memintanya ditutup, dan mengobrol lama sambil menghabiskan sisa roti justru perilaku yang diharapkan. Buat kamu yang terbiasa dengan tempat makan yang cepat berganti tamu, dibiarkan begitu lama bisa terasa seperti diabaikan.
Jadi tagihan perlu kamu minta sendiri, dan tidak perlu merasa sedang mengganggu. Efeknya nyata ke rencana harian: satu makan malam bisa memakan sebagian besar malam itu, jadi jangan menumpuk agenda sesudahnya.
Karena itu, saat menyusun rute harian sebaiknya kamu beri jatah waktu yang lapang untuk makan malam, dan contoh penyusunannya bisa kamu lihat di itinerary Athena dan island hopping yang sudah dibahas terpisah.
Yang perlu disiapkan sebelum berangkat
Dari sisi berkas, urusan kuliner tidak menambah syarat apa pun. Kamu tetap perlu visa Schengen, paspor yang masih berlaku minimal enam bulan dihitung dari tanggal rencana pulang, asuransi perjalanan dengan pertanggungan minimal EUR 30.000, dan jatah tinggal 90 hari dalam 180 hari. Pembahasan ini murni untuk perjalanan wisata, bukan untuk urusan izin lain.
Persiapan terbesarnya justru bukan di berkas, melainkan di cara pandang. Meja itu bersama, hidangan datang bergelombang, dan makan malam mulai jauh lebih lambat. Tiga asumsi itu membuat kamu memesan lebih tepat dan jauh lebih mudah menemukan hidangan yang aman tanpa merasa sedang menyingkir dari menu utamanya.