Rute Kyushu Jepang untuk WNI: Fukuoka, Nagasaki, dan Beppu Sekaligus
Kyushu bisa kamu jalani sebagai satu rute utuh, bukan daftar kota alternatif. Fukuoka, Nagasaki, Kumamoto, dan Beppu dalam satu arah jalur rel, tanpa hari yang terbuang untuk bolak-balik.

Foto oleh Tayawee Supan di Unsplash
Kyushu adalah pulau paling selatan di antara empat pulau utama Jepang, dan bagi sebagian besar WNI pulau ini masih terlewat. Rencana pertama ke Jepang hampir selalu berisi Tokyo, Kyoto, dan Osaka. Padahal kalau kamu sudah pernah menjalani rute itu, atau sejak awal memang tidak tertarik berebut tempat di jalur paling sibuk, Kyushu menawarkan sesuatu yang sulit ditandingi: satu wilayah kecil yang bisa kamu habiskan utuh tanpa sekali pun kembali ke stasiun yang sama.
Inti rute ini satu: Fukuoka jadi pintu masuk, lalu kamu bergerak searah sampai lingkarannya tertutup. Nagasaki di barat, Kumamoto di tengah, Beppu atau Yufuin di timur, lalu pulang ke Fukuoka untuk terbang. Tidak ada hari yang terbuang untuk perjalanan bolak-balik, dan tidak ada koper yang kamu tarik dua kali lewat jalur yang sama.
Kenapa Kyushu masuk akal bagi WNI yang terbang dari Jakarta
Alasan paling praktis adalah bandaranya. Fukuoka dilayani penerbangan dari Asia Tenggara, jadi dari Jakarta kamu biasanya transit sekali di Singapura atau Kuala Lumpur, bukan terbang jauh ke Tokyo lalu menyambung lagi ke selatan. Bandara Fukuoka juga dekat dengan pusat kota dan tersambung subway, sehingga hari kedatangan tidak habis di jalan.
- Satu kali transit saja dari Jakarta, tanpa penerbangan domestik tambahan di dalam Jepang
- Jarak bandara ke pusat kota pendek, cocok untuk penerbangan yang mendarat sore
- Seluruh wilayah tersambung kereta, jadi kamu tidak perlu menyewa mobil atau memikirkan surat izin mengemudi
- Kota-kotanya berukuran sedang, sehingga satu hari di satu kota terasa cukup, bukan tergesa
Urusan dokumen tetap sama dengan rute Jepang mana pun, dan kalau paspormu sudah elektronik jalur masuknya bisa lebih ringkas seperti dibahas di panduan visa dan visa waiver Jepang sebelum kamu mulai menyusun rencana harian.
Urutan rute yang mengikuti jalur rel
Kesalahan paling umum menyusun rute Kyushu adalah memakai peta, bukan jadwal kereta. Di peta, Nagasaki dan Beppu terlihat berseberangan, lalu orang menjadikan Fukuoka basis dan pulang ke sana tiap malam. Hasilnya separuh liburanmu habis di kereta untuk rute yang sama persis, dua arah.
- Fukuoka, dua malam, sebagai tempat mendarat dan melepas lelah penerbangan
- Nagasaki, dua malam, dicapai dari Fukuoka lewat jalur barat
- Kumamoto, tanpa menginap, disinggahi di tengah perjalanan saat kamu bergerak dari barat ke timur
- Beppu atau Yufuin, dua malam, sebagai bagian paling santai dari rute
- Fukuoka, satu malam terakhir, supaya kamu tidak mengejar penerbangan dari kota lain
Pendekatan ini berbeda dari artikel Jepang di luar Golden Route yang menyajikan kota-kota kecil sebagai pilihan terpisah, sementara di sini keempat kota memang satu rangkaian yang saling menyambung.
Fukuoka sebagai pintu masuk, bukan sekadar tempat transit
Fukuoka sering diperlakukan sebagai kota yang dilewati saja, dan itu sayang. Kota ini punya kawasan kuliner malam di tepi sungai, taman kuil yang bisa kamu jalani dengan kaki, dan stasiun besar yang jadi simpul seluruh rute setelahnya. Dua malam di sini bukan pemborosan, karena malam pertama biasanya habis untuk badan yang masih menyesuaikan diri setelah penerbangan panjang dan transit.
Kalau kamu muslim, Fukuoka adalah tempat paling nyaman di rute ini untuk mencari makan, karena pilihan rumah makan dengan menu tanpa babi lebih banyak dibanding kota lain di Kyushu. Pakai kota ini untuk menimbun bekal sebelum bergerak ke tempat yang pilihannya lebih sempit.
Nagasaki, kota yang butuh waktu lebih dari yang kamu duga
Nagasaki adalah satu-satunya kota di rute ini yang nanti akan terasa terlalu cepat kamu tinggalkan. Kota pelabuhan ini berlapis: jejak perdagangan dengan Belanda dan Cina, kawasan gereja tua, museum peringatan bom atom, dan bukit yang memberi pemandangan kota saat lampu mulai menyala. Ditambah trem kota yang gampang dipakai, Nagasaki memberi dua hari penuh tanpa terasa diulur.
Satu malam di sini memaksa kamu memilih salah satu saja dari museum, kawasan tua, atau bukit malam. Dua malam membuat ketiganya masuk tanpa berlari.
Kumamoto cukup sehari tanpa menginap
Kumamoto berada di tengah, tepat di jalur saat kamu bergerak dari Nagasaki menuju pesisir timur. Daya tarik utamanya terpusat dan bisa kamu jalani dalam satu siang: kastel beserta halamannya, taman lanskap klasik di dekatnya, dan deretan jajanan di sekitar stasiun. Karena itu kota ini masuk sebagai persinggahan, bukan tempat bermalam, dan kamu tetap tidur di tempat berikutnya pada malam yang sama.
Supaya singgah seperti ini tidak menyiksa, titipkan bawaanmu di loker stasiun dan bawa tas kecil saja, cara yang dibahas lebih lengkap di strategi membawa koper di transportasi umum karena kastel dan tangganya bukan tempat untuk menarik koper besar.
Beppu atau Yufuin, pilih satu dan jangan dua
Di pesisir timur, dua kota air panas berdiri berdekatan dan sering dimasukkan keduanya ke rencana. Sebaiknya tidak. Pengalamannya mirip, dan membagi dua malam di antara keduanya berarti kamu dua kali check-in, dua kali packing, dan dua kali kehilangan sore.
- Beppu lebih berupa kota sungguhan: pemandian umum bertebaran, uap mengepul dari sela rumah, dan rentang harga penginapan lebih lebar
- Yufuin lebih kecil dan tenang, dengan jalan utama berisi toko kerajinan dan penginapan tradisional yang rata-rata lebih mahal
- Pilih Beppu kalau ingin mencoba banyak pemandian, Yufuin kalau niatmu diam saja di satu penginapan
Kalau ini pengalaman pertamamu masuk pemandian air panas umum, baca dulu tata caranya di panduan kota onsen kecil di Jepang supaya kamu tidak kikuk di hari pertama.
Dua malam di satu kota air panas memberi satu hari penuh tanpa koper, dan itu justru bagian yang paling diingat orang dari rute ini.
Kapan Kyushu lebih nyaman dibanding Honshu
Perbedaan paling nyata bukan soal pemandangan, melainkan soal kepadatan. Kyushu menerima jauh lebih sedikit kunjungan dibanding jalur Tokyo sampai Osaka, jadi antrean masuk tempat wisata, kereta pagi, dan meja rumah makan terasa lebih longgar. Ini penting kalau kamu bepergian pada periode yang di Honshu sudah pasti berjejal.
- Musim bunga sakura, kira-kira akhir Maret sampai awal April, saat kota besar di Honshu paling sesak dan penginapan paling sulit dicari
- Musim dedaunan merah, kira-kira sekitar November, ketika kuil-kuil di Kyoto mengantre panjang sejak pagi
- Libur panjang domestik Jepang, ketika pergerakan di jalur utama meningkat dan tiket kereta lebih cepat habis
Sebaliknya, musim panas di Kyushu kira-kira Juni sampai Agustus terasa lembap dan sering berhujan, mirip Jakarta tetapi dengan siang yang lebih panjang. Kalau kamu memang mencari yang berbeda dari iklim rumah, musim dingin kira-kira Desember sampai Februari di Kyushu lebih bersahabat bagi WNI yang belum pernah merasakan udara dingin, karena pulau ini berada di selatan dan tidak sedingin wilayah utara Jepang. Jangan menjanjikan diri sendiri cuaca tertentu, karena yang bisa kamu atur hanya lapisan pakaian.
Catatan praktis sebelum kamu memesan apa pun
Rutenya sederhana, tetapi beberapa hal lebih baik kamu beresi di depan.
- Pastikan paspormu berlaku minimal enam bulan dihitung dari tanggal rencana pulang, bukan dari tanggal berangkat
- Booking penginapan Nagasaki dan kota air panas lebih awal, karena pilihannya tidak sebanyak kota besar dan akhir pekan cepat penuh
- Cek rail pass khusus wilayah Kyushu lalu bandingkan dengan harga tiket terpisah, karena rute searah seperti ini belum tentu lebih murah dengan pass
- Simpan bukti booking penginapan dan itinerary dalam satu berkas di gadget, dan siapkan satu salinan cetak untuk dibawa
- Catat jam kereta terakhir pada hari kamu singgah di Kumamoto, karena kamu masih harus sampai ke penginapan malam itu
Kyushu bekerja bukan karena kotanya lebih indah dari Kyoto, tetapi karena bentuk wilayahnya memaafkan rencana sederhana. Empat tempat, satu arah, satu bandara untuk datang dan pulang.