Asia

Kota Onsen Kecil di Jepang: Cara Menikmatinya Tanpa Merasa Canggung

Berendam di kota pemandian air panas yang jauh dari resor besar ternyata jauh lebih mudah diatur daripada yang kamu bayangkan. Dari kamar mandi privat, aturan tato, sampai makan malam di penginapan tradisional, semuanya ada jalan keluarnya.

Tim Visa Expert GoVisablog.govisa.id
Kota Onsen Kecil di Jepang: Cara Menikmatinya Tanpa Merasa Canggung

Foto oleh Kate Kasiutich di Unsplash

Onsen bukan cuma soal berendam air panas. Yang bikin wisatawan Indonesia ragu justru hal hal di sekitarnya: aturan berendam tanpa busana, tato yang mungkin ditolak, makan malam yang isinya tidak jelas, dan etika tidak tertulis yang tidak ada papan penjelasnya. Kabar baiknya, di kota onsen kecil semua itu lebih mudah diatur dibanding di resor besar.

Kota onsen kecil adalah desa pemandian yang tumbuh di sekitar sumber air panas, biasanya menyelip di lembah atau pinggir sungai, dengan deretan penginapan kayu dan jalan sempit yang bisa kamu susuri dari ujung ke ujung. Nama seperti Kinosaki, Kurokawa, Ginzan, Shibu, atau Nyuto sering muncul di daftar semacam ini. Jumlah penginapannya terbatas dan pemiliknya mengurus sendiri tamunya, dan justru itu yang membuat permintaan khusus lebih mudah dilayani.

Kenapa kota kecil justru lebih ramah untuk pemula

Logikanya terbalik dari yang kamu kira. Resor besar terdengar lebih aman karena lebih modern, tetapi di sana permintaan di luar standar sulit ditampung. Di penginapan kecil, orang yang menerima pesananmu sering kali orang yang sama yang menyiapkan makan malammu.

  • Jumlah kamar sedikit, jadi permintaan makanan atau jadwal mandi lebih mudah disesuaikan
  • Banyak penginapan kecil punya pemandian yang bisa dipesan untuk pemakaian pribadi
  • Kotanya bisa dijelajahi dengan jalan kaki, jadi kamu tidak perlu memikirkan transportasi lokal setiap kali keluar
  • Suasananya lebih tenang, sehingga rasa canggung karena diperhatikan orang lain berkurang dengan sendirinya

Sebelum masuk ke urusan teknis di penginapan, pastikan dulu jalur masukmu ke Jepang sudah jelas, karena pemegang paspor Indonesia punya beberapa pilihan yang dijelaskan di panduan visa Jepang untuk WNI beserta ketentuan e-paspornya.

Soal aurat: kamar mandi privat bukan permintaan aneh

Pemandian umum di Jepang memang dipakai tanpa busana, dipisah antara area pria dan wanita, dan kain penutup tidak boleh masuk ke dalam air. Buat banyak orang Indonesia, aturan itu saja sudah cukup untuk mencoret onsen dari rencana perjalanan. Padahal ada beberapa jalur yang membuatnya tetap bisa kamu nikmati tanpa melanggar batas kenyamananmu.

  1. Cari kamar dengan pemandian pribadi di dalamnya, biasanya disebut kamar dengan open air bath, sehingga kamu berendam sendirian di teras kamar
  2. Pesan pemandian keluarga yang disewa per sesi, sering disebut kashikiri atau family bath, dan bisa dipakai berdua atau sekeluarga
  3. Pilih penginapan yang menyediakan sesi pemakaian eksklusif untuk satu tamu pada jam tertentu, biasanya dengan mendaftar di meja depan saat tiba
  4. Kalau semuanya tidak tersedia, banyak kota onsen punya pemandian kaki di ruang terbuka yang cukup dinikmati dengan menggulung celana

Saat memesan, sebutkan kebutuhanmu sebagai permintaan pemandian privat, bukan sebagai penjelasan panjang soal keyakinan. Penginapan tidak butuh alasannya, mereka butuh tahu jenis kamar apa yang harus disiapkan. Memesan jauh hari juga penting karena kamar dengan pemandian pribadi jumlahnya sedikit dan cepat penuh saat musim ramai.

Menyebut kebutuhan dengan tenang di awal jauh lebih efektif daripada berharap masalahnya hilang sendiri setelah kamu sampai.

Tato bukan larangan mutlak, tapi jangan diabaikan

Banyak pemandian umum di Jepang masih menolak tamu bertato karena alasan sejarah sosial di sana, bukan karena penilaian pribadi terhadapmu. Aturannya tidak seragam. Sebagian penginapan mengizinkan tanpa syarat, sebagian meminta tato ditutup, sebagian lagi hanya memperbolehkan pemakaian pemandian privat.

  • Kalau tatomu kecil, plester penutup tato yang tahan air biasanya cukup dan lebih baik dibeli dari Indonesia
  • Kalau tatomu besar, jalur paling aman adalah memesan kamar dengan pemandian pribadi sejak awal
  • Tanyakan lewat surel sebelum memesan, bukan saat kamu sudah berdiri di meja depan
  • Cari penginapan yang secara terbuka menyebut dirinya ramah tamu bertato, biasanya dicantumkan di halaman pemesanan atau di bagian tanya jawab situsnya

Makan malam di penginapan tradisional dan urusan halal

Makan malam di penginapan tradisional biasanya berupa hidangan bertahap yang sudah ditentukan, bukan pilihan dari daftar menu. Karena itu, kalau ada yang tidak bisa kamu makan, memberi tahu pada hari kedatangan sudah terlambat, sebab bahan makanan dibeli sesuai jumlah tamu jauh sebelumnya.

Bahan yang perlu kamu tanyakan bukan cuma daging babi. Kaldu, saus, dan bumbu di Jepang sering memakai arak masak seperti mirin dan sake, dan itu ada di hampir semua masakan berkuah. Sebutkan bahan yang harus dihindari secara spesifik, bukan istilah halal saja, karena istilah itu belum tentu dipahami sama di dapur penginapan kecil.

Cara menyusun strategi makan selama perjalanan, termasuk membaca label dan mencari rumah makan yang cocok, dibahas lebih lengkap di panduan mencari makanan halal di luar negeri yang bisa kamu pakai juga di luar penginapan.

  1. Saat memesan, tulis daftar bahan yang tidak bisa kamu konsumsi dalam kalimat pendek dan lugas
  2. Minta konfirmasi tertulis bahwa permintaanmu bisa dipenuhi, jangan berhenti di jawaban baik saja
  3. Kalau penginapan tidak sanggup, pilih paket menginap tanpa makan malam lalu makan di luar
  4. Bawa cadangan dari Indonesia seperti abon, mi instan, atau bumbu kering untuk berjaga di kota kecil yang pilihan rumah makannya sedikit

Etika dasar yang bikin kamu berhenti merasa canggung

Rasa canggung biasanya datang bukan dari aturannya, melainkan dari tidak tahu urutannya. Padahal urutannya sederhana dan sama di hampir semua tempat.

  1. Lepas sepatu di pintu masuk penginapan dan ganti dengan sandal yang disediakan
  2. Bawa dua handuk ke pemandian, satu kecil untuk membasuh badan dan satu besar untuk mengeringkan diri, dan handuk besar ditinggal di ruang ganti
  3. Duduk di bangku pancuran dan bersihkan badan sampai benar benar bersih sebelum masuk ke air
  4. Masuk ke air pelan pelan, jangan menyelam, jangan mencelupkan handuk, dan jangan berisik
  5. Setelah selesai, keringkan badan di area pemandian sebelum kembali ke ruang ganti

Di kota onsen kecil kamu akan melihat tamu berjalan kaki di jalan utama memakai yukata dan sandal kayu dari penginapan. Itu kebiasaan setempat, bukan kostum wisata, jadi kamu boleh ikut. Kalau kurang nyaman, memakai pakaian sendiri juga tidak masalah.

Menyelipkan kota onsen ke dalam rute perjalananmu

Kesalahan paling umum adalah memperlakukan kota onsen sebagai tujuan sehari. Kota kecil semacam ini nyaris tidak punya atraksi selain berendam, berjalan kaki, dan makan, dan justru di situ nilainya. Satu malam sudah cukup asalkan kamu tiba pada siang menjelang sore dan baru berangkat setelah sarapan, sehingga sempat berendam beberapa kali termasuk saat kota sedang sepi. Yang membuat kunjungan terasa percuma bukan jumlah malamnya, melainkan tiba menjelang makan malam lalu mengejar kereta pagi.

Untuk melihat bagaimana jeda semacam ini diselipkan di antara kota besar tanpa merusak alur perjalanan, lihat contoh susunan rutenya di itinerary Jepang tujuh sampai sepuluh hari yang disusun untuk wisatawan Indonesia.

Perlu diingat, kota onsen kecil umumnya dicapai dengan kereta lokal berjadwal jarang, lalu disambung bus kecil dari stasiun terdekat. Bus terakhir sore sering berangkat lebih awal dari dugaanmu, jadi catat jamnya sejak hari pertama.

Yang perlu disiapkan dari Indonesia

Sebagian besar persiapannya soal barang bawaan dan waktu, bukan dokumen tambahan. Musim dingin paling nikmat untuk berendam karena kontras udara luar dengan air panasnya terasa jelas, tetapi itu juga musim ketika penginapan kecil paling cepat penuh dan jalur kereta lokal paling rentan terganggu cuaca.

Untuk isi koper yang cocok dengan perjalanan campuran kota besar dan kota kecil bersuhu dingin, gunakan acuan di daftar bawaan perjalanan tujuh sampai empat belas hari lalu tambahkan kebutuhan khususmu.

  • Pastikan paspormu masih berlaku minimal enam bulan dihitung dari tanggal rencana pulang, bukan dari tanggal berangkat
  • Bawa plester penutup tato dari Indonesia kalau memang dibutuhkan, karena mencarinya di kota kecil belum tentu mudah
  • Siapkan uang tunai yen secukupnya, sebab penginapan dan warung kecil di kota onsen tidak semuanya menerima kartu
  • Simpan bukti pemesanan penginapan beserta balasan surel soal permintaan khususmu, supaya kamu tidak perlu menjelaskan ulang saat tiba

Sisanya tinggal masuk ke air, diam sebentar, dan membiarkan suara sungai mengambil alih. Kecanggungan yang kamu bayangkan sebelum berangkat umumnya mengecil begitu urusan kamar, tato, dan makan malam sudah kamu beresi dari rumah.