Tips Liburan

Denda untuk Hal Sepele di Negara Lain yang Sering Menjerat Turis

Makan di kereta, merokok di trotoar, atau membuang puntung sembarangan bisa langsung berujung denda di banyak kota, tanpa tahap teguran lebih dulu. Ini kategori yang paling sering menjerat pendatang dan cara mengeceknya sebelum berangkat.

Tim Visa Expert GoVisablog.govisa.id
Denda untuk Hal Sepele di Negara Lain yang Sering Menjerat Turis

Foto oleh Tícia Vesztergombi di Unsplash

Kena denda di negara orang jarang bermula dari pelanggaran besar. Biasanya awalnya sepele: menghabiskan sisa minuman di dalam kereta, menyalakan rokok sambil menunggu lampu hijau, atau melempar puntung ke selokan karena tidak melihat tempat sampah. Di Indonesia hal seperti itu paling jauh berujung teguran. Di banyak kota lain, urusannya langsung berupa denda administratif yang harus diselesaikan saat itu juga.

Aturan semacam ini tidak bisa dihafal per negara, karena tingkat pengaturannya bukan negara. Yang menetapkan larangan dan tarifnya biasanya pemerintah kota, dan untuk angkutan umum bahkan masing-masing operator, sehingga dua kota di satu negara bisa berbeda dan dua jenis kereta di satu kota juga bisa berbeda. Yang berguna dibawa adalah pemahaman soal kategorinya, supaya kamu tahu apa yang perlu dibaca begitu sampai.

Kenapa teguran di Indonesia bisa jadi denda di tempat lain

Di Indonesia, banyak aturan ruang publik ditegakkan lewat norma sosial. Ada rambu, ada imbauan, tetapi pelaksanaannya bertumpu pada rasa malu dan teguran lisan. Sistem itu membuat kita tumbuh dengan asumsi bahwa pelanggaran kecil selalu punya ruang negosiasi.

Di banyak kota lain, aturan yang sama dipindahkan ke jalur administratif. Petugas diberi wewenang menerbitkan denda di tempat tanpa proses peradilan, karena jumlah pelanggarannya terlalu besar untuk diurus satu per satu. Akibatnya tahap teguran itu hilang. Begitu perbuatannya terlihat, yang keluar bukan nasihat, melainkan formulir.

Aturan tak tertulis dan aturan berdenda adalah dua lapis berbeda, dan lapis pertama sudah dibahas terpisah di panduan etiket dan aturan tak tertulis di negara tujuan. Yang dibicarakan di sini lapis kedua, yang konsekuensinya berupa uang dan catatan.

Kategori yang paling sering menjerat pendatang

Delapan hal berikut punya satu kesamaan: semuanya mudah terlihat, mudah dibuktikan, dan tidak perlu saksi. Itu sebabnya kategori inilah yang paling sering berujung denda di tempat, sementara pelanggaran yang lebih rumit justru jarang ditindak. Kalau salah satunya kebiasaanmu, periksa dulu sebelum jalan.

  • Makan dan minum di dalam angkutan umum, termasuk air mineral di dalam gerbong
  • Merokok di luar area yang ditentukan, termasuk trotoar, halte, dan peron terbuka
  • Membuang sampah atau puntung sembarangan, termasuk permen karet dan tisu
  • Menyeberang di luar tempatnya, atau saat lampu pejalan masih merah
  • Mengeluarkan suara keras di kereta, termasuk memutar video tanpa earphone
  • Membawa dan meminum minuman beralkohol di ruang publik seperti taman dan tepi sungai
  • Memberi makan burung, ikan, atau satwa lain di taman kota
  • Menerbangkan drone tanpa izin, termasuk di taman dan kawasan wisata

Makan dan minum di dalam angkutan umum

Ini kategori yang paling sering menjerat traveler Indonesia, karena bagi kita kereta dan bus adalah tempat wajar untuk menghabiskan bekal. Di banyak sistem angkutan, larangannya total dan tidak membedakan makanan berbau dengan sebotol air putih. Alasannya bukan bau, melainkan tumpahan, hama, dan biaya bersih-bersih gerbong.

Yang membuat kategori ini licin, aturannya sering berbeda antarjenis layanan di kota yang sama. Kereta jarak jauh bisa punya kereta makan sekaligus mengizinkan bekal, sementara kereta dalam kota milik operator yang sama melarang segalanya. Jadi kebiasaan yang aman adalah menunggu sampai kaki menyentuh peron sebelum membuka bungkus apa pun.

Kalau kamu memang berencana membawa bekal kering dari rumah, aturan bawaannya sendiri sudah dibahas di catatan soal membawa makanan instan dari Indonesia, dan kebiasaan bersantap setempat adalah bahasan yang berbeda lagi dari urusan denda ini.

Rokok, puntung, dan sampah di ruang publik

Perokok paling rentan, karena di Indonesia merokok di ruang terbuka relatif leluasa. Di banyak kota lain logikanya dibalik: ruang terbuka dianggap terlarang kecuali ada tanda yang membolehkan. Area merokok kerap berupa kotak kecil dengan penanda di lantai, dan berdiri satu langkah di luar kotak itu sudah cukup menjadi pelanggaran.

Puntung dihitung sebagai sampah dan sering punya tarif sendiri karena paling sulit dibersihkan. Hal serupa berlaku untuk permen karet dan tisu. Yang memperparah, tempat sampah di banyak kota justru jarang tersedia di jalan demi alasan keamanan, sehingga pilihanmu memang membawa sampah itu sampai ketemu tempatnya.

Alkohol, satwa, dan drone yang sering dianggap bebas

Minuman beralkohol di ruang publik. Boleh dibeli tidak berarti boleh diminum di mana saja. Banyak kota memisahkan izin penjualan dari izin konsumsi di ruang terbuka, sehingga membuka kaleng di bangku taman bisa masuk pelanggaran meski kamu tidak mabuk.

Memberi makan satwa. Melempar roti ke burung atau ikan terasa tidak berbahaya. Di kota yang mengendalikan populasi merpati atau menjaga ekosistem kolamnya, kegiatan ini justru rutin ditindak karena mudah terlihat dan mudah dibuktikan.

Menerbangkan drone. Lolos pemeriksaan bagasi tidak sama dengan boleh diterbangkan. Izin terbang biasanya diatur terpisah per kawasan, dan taman kota serta kawasan wisata populer justru yang paling ketat.

Ketidaktahuan bukan alasan dan petugasnya belum tentu berseragam

Kalimat bahwa kamu turis dan tidak tahu aturannya hampir tidak pernah membatalkan denda administratif. Sistemnya tidak dibangun untuk menilai niat, hanya untuk mencatat perbuatan. Ada petugas yang berbaik hati melepas pendatang dengan peringatan, tetapi itu kemurahan pribadi, bukan hak yang bisa kamu tuntut.

Di jalur administratif, yang dinilai adalah apa yang terlihat, bukan apakah kamu tahu atau tidak.

Yang juga sering mengejutkan, penegakannya banyak dilakukan petugas berpakaian biasa. Pemeriksa tiket dan pengawas ketertiban di sejumlah kota sengaja tidak berseragam agar pelanggaran tertangkap apa adanya. Jadi tidak adanya seragam bukan tanda aman.

Denda yang harus diselesaikan saat itu juga

Berbeda dari tilang yang bisa diurus belakangan, denda administratif untuk pelanggaran ruang publik sering harus tuntas di tempat. Petugas menahanmu sampai proses selesai, meminta identitas, mencatat data paspor, lalu mengarahkan pembayaran. Prosesnya cenderung lebih lama daripada untuk warga setempat, karena identitasmu tidak ada di basis data penduduk yang biasa mereka rujuk, sehingga datanya harus disalin dari paspor.

Efek terbesarnya bukan uangnya, melainkan jadwal. Satu kejadian di pagi hari bisa menghapus satu sesi kunjungan, membuatmu kehilangan tiket masuk berwaktu yang sudah dibeli, atau membuat kereta antarkota yang sudah dipesan lewat begitu saja.

Urusannya juga tidak selalu berhenti di hari itu, dan konsekuensi yang bisa menyusul setelah kamu pulang dibahas tersendiri di ulasan soal kena denda atau urusan polisi di luar negeri. Itu alasan tambahan untuk tidak menganggapnya sepele.

Cara mencari tahu aturan setempat sebelum kena

Kamu tidak perlu menghafal peraturan kota. Cukup biasakan memeriksa di beberapa titik, dan semuanya gratis.

  1. Sebelum berangkat, buka situs resmi pengelola angkutan kota tujuan dan cari halaman aturan penumpang. Di situ larangan makan, minum, dan kebisingan biasanya disebut eksplisit.
  2. Di hari pertama, tanyakan ke resepsionis penginapan di mana area merokok terdekat dan apakah ada aturan khusus soal sampah atau kebisingan di lingkungan itu.
  3. Biasakan membaca papan peringatan di pintu masuk stasiun, gerbang taman, dan pagar kawasan wisata, karena papan itu memang dipasang sebagai dasar penindakan.
  4. Perhatikan perilaku orang setempat. Kalau tidak ada satu pun yang makan di gerbong, itu informasi yang lebih akurat daripada dugaanmu.

Sekalian saat membuka halaman resmi operator, pelajari juga sistem tiket dan kartu transitnya lewat panduan transportasi umum dan kartu transit, karena aturan penumpang dan aturan tiket biasanya berada di halaman yang sama.

Yang layak kamu ubah dari kebiasaan harian

Kesimpulannya sederhana. Selama di kota orang, tahan tiga kebiasaan yang di rumah terasa netral: membuka bekal di dalam angkutan, menyalakan rokok sambil jalan, dan melepas sampah kecil sebelum melihat tempatnya. Lalu tambahkan satu kebiasaan baru, membaca papan di pintu masuk sebelum melangkah masuk. Ongkosnya nol, dan jauh lebih murah daripada satu pagi yang habis di loket.