Etiket dan Aturan Tak Tertulis di Negara Tujuan yang Sering Bikin Turis Kena Tegur
Teguran di kereta atau di depan tempat ibadah jarang berkaitan dengan hukum, tetapi hampir selalu berkaitan dengan kebiasaan yang tidak pernah ditulis di papan mana pun. Panduan ini menyusun situasi sehari-hari yang paling sering memicu teguran dan alasannya.

Foto oleh Harrison Lin di Unsplash
Ada satu jenis kesalahan liburan yang tidak pernah muncul di daftar persyaratan visa maupun di papan pengumuman bandara. Paspor kamu benar, visa sudah terbit, penerbangan lancar, lalu di hari kedua seseorang menegur kamu di dalam kereta atau di depan pintu sebuah tempat ibadah, dan kamu sama sekali tidak paham bagian mana yang barusan salah.
Sebagian besar teguran semacam itu bukan soal hukum, melainkan soal kebiasaan yang di tempatnya dianggap begitu jelas sampai tidak pernah ditulis. Bagian yang melegakan, polanya berulang di banyak negara dan hampir semuanya bisa dihindari dengan mengamati beberapa detik sebelum bertindak. Di bawah ini situasi sehari-hari yang paling sering memicu teguran, dan kenapa hal itu penting bagi orang setempat.
Antre dan cara berdiri di ruang publik
Antre adalah hal pertama yang membuat seorang turis langsung terbaca sebagai turis. Bentuknya berbeda-beda: ada garis lurus rapi bertanda di lantai, ada mesin nomor antrean yang harus diambil dulu di pintu masuk, ada pula yang terlihat seperti kerumunan tetapi sebenarnya semua orang mengingat siapa yang datang sebelum mereka. Kalau kamu langsung maju ke konter karena merasa tidak melihat barisan, besar kemungkinan kamu memotong antrean tanpa sadar.
Hal serupa berlaku untuk cara berdiri. Di banyak kota, eskalator punya sisi diam dan sisi jalan, dan berdiri di sisi yang salah sambil mengobrol akan menahan puluhan orang di belakang. Di peron kereta, penumpang biasanya berdiri di samping pintu dan membiarkan orang keluar lebih dulu sebelum masuk. Ini bukan sekadar sopan santun; di jam sibuk, urutan itulah yang membuat kereta tetap berjalan sesuai jadwal.
Cara amannya: berhenti sebentar di ambang pintu atau di depan konter, lihat apa yang dilakukan lima orang di depan kamu, baru ikut bergerak.
Volume bicara di transportasi umum
Rombongan yang bepergian bersama hampir selalu berbicara lebih keras daripada yang mereka kira. Padahal di banyak sistem transportasi umum, gerbong diperlakukan sebagai ruang tenang: orang membaca, tidur, atau baru pulang kerja. Menelepon lewat pengeras suara, memutar video tanpa earphone, atau tertawa keras bersama teman kerap ditanggapi dengan tatapan panjang, dan kadang dengan teguran langsung dari petugas.
Ada jebakan tambahan buat traveler Indonesia: karena merasa tidak ada yang mengerti bahasa kita, obrolan jadi lebih lepas dan lebih keras. Yang dinilai orang sekitar bukan isinya, melainkan volumenya. Sesuaikan suara dengan suara paling pelan di ruangan itu, bukan dengan kebiasaan di rumah.
Memotret orang dan tempat yang bukan objek wisata
Kamera ponsel membuat semua hal terasa seperti pemandangan, padahal sebagian besar yang kamu lihat adalah keseharian orang lain. Memotret pedagang pasar, anak-anak di jalan, penumpang kereta, atau petugas restoran tanpa izin termasuk pemicu teguran paling sering. Di sejumlah negara, memotret orang tanpa persetujuan bahkan menyentuh ranah perlindungan privasi, jadi risikonya tidak berhenti pada rasa tidak enak.
Ada pula tempat yang sebaiknya tidak difoto sama sekali: fasilitas militer, area perbatasan, pos pemeriksaan imigrasi, dan sebagian gedung pemerintahan. Papan larangannya kadang hanya berbahasa setempat, jadi kalau kamu melihat simbol kamera yang dicoret, anggap itu berlaku meskipun kalimat di bawahnya tidak terbaca.
Di dalam tempat ibadah
Tempat ibadah yang menjadi tujuan wisata tetaplah tempat ibadah yang sedang dipakai. Orang di sekitar kamu bisa saja sedang berdoa atau menjalani upacara keluarga. Umumnya yang diharapkan sederhana: bicara pelan, matikan nada dering, tanyakan dulu apakah memotret diperbolehkan, dan jangan mengarahkan kamera ke wajah orang yang sedang beribadah. Sebagian melarang lampu kilat, sebagian hanya melarang foto di ruang tertentu, sebagian lain meminta alas kaki dilepas.
Kalau kamu ragu apakah boleh memotret, jawabannya hampir selalu sama: tanya dulu, atau tidak usah.
Tip yang diharapkan dan tip yang bikin canggung
Kebiasaan memberi tip berbeda jauh antarnegara dan tidak ada versi yang berlaku universal. Secara garis besar ada tiga pola. Pertama, negara yang biaya layanannya sudah otomatis masuk ke tagihan sehingga kamu tidak perlu menambah apa pun. Kedua, negara yang penghasilan pekerja jasanya memang disusun dengan asumsi ada tip, sehingga tidak memberi tip terbaca sebagai keluhan atas pelayanan. Ketiga, negara yang menganggap tip tidak pada tempatnya karena pelayanan baik dipandang bagian dari pekerjaan, sehingga uang tambahan malah membuat pegawainya sungkan.
Cara membacanya tanpa menebak: perhatikan struk, karena biaya layanan biasanya tercantum sebagai baris tersendiri; perhatikan apa yang dilakukan tamu lain; kalau masih ragu, tanyakan ke resepsionis penginapan. Nominalnya tidak disebut di sini karena kebiasaannya berbeda antarkota dan antarjenis tempat usaha.
Satu hal praktis, tip lebih lazim diberikan tunai walaupun pembayaran utamanya memakai kartu, jadi menyisakan pecahan kecil itu berguna. Pertimbangan tunai versus kartu dibahas di panduan kartu, tunai, dan kurs di luar negeri.
Sampah dan kebiasaan membawa pulang bawaan sendiri
Banyak kota justru menyediakan sangat sedikit tempat sampah di ruang publik, dan itu disengaja. Konsekuensinya, penduduk terbiasa membawa pulang sampahnya sampai menemukan tempat pembuangan yang benar. Turis yang meninggalkan gelas kopi di pagar taman atau menyelipkan bungkus makanan di sela bangku halte biasanya tidak merasa sedang membuang sampah sembarangan, tetapi begitulah hal itu terlihat.
Selain itu, banyak tempat memisahkan sampah ke beberapa kategori dan gambarnya tidak selalu mudah ditebak. Ada juga kebiasaan tidak makan sambil berjalan atau di dalam kendaraan umum. Menyimpan satu kantong kecil di tas untuk sampah sendiri menyelesaikan hampir semua masalah ini sekaligus.
Merokok, vape, dan area yang tampak bebas padahal tidak
Larangan merokok di dalam ruangan sudah umum, tetapi yang sering mengejutkan justru aturan di luar ruangan. Sebagian kota melarang merokok di ruas jalan tertentu, area stasiun, taman, atau sekitar sekolah, lalu menyediakan bilik merokok khusus yang harus dicari lebih dulu. Membuang puntung ke jalan juga termasuk pelanggaran yang di beberapa tempat bisa berujung denda.
Vape butuh perhatian terpisah karena statusnya tidak selalu sama dengan rokok. Ada negara yang memperlakukannya sama, ada yang lebih ketat, ada pula yang membatasi pemasukan perangkat atau cairannya lewat bea cukai. Karena aturan seperti ini berubah, jangan mengandalkan cerita teman; cek langsung ke situs bea cukai negara tujuan sebelum berangkat.
Perangkat dan baterainya sendiri punya aturan pengangkutan tersendiri di pesawat, dan itu dibahas terpisah di daftar barang yang dilarang dibawa di pesawat.
Berpakaian sesuai tempat, bukan sesuai cuaca
Aturan berpakaian jarang ditegakkan di jalanan umum, tetapi hampir selalu ada di tempat tertentu. Tempat ibadah adalah contoh yang paling sering: banyak yang meminta bahu dan lutut tertutup, sebagian meminta penutup kepala, sebagian meminta pengunjung melepas alas kaki. Kain pinjaman kadang tersedia di pintu masuk, tetapi jangan dianggap pasti ada.
Di luar itu, ada pemisahan yang sering terlewat antara pakaian pantai dan pakaian kota. Berjalan ke minimarket atau restoran dengan pakaian renang, atau bertelanjang dada di trotoar, di banyak tempat dianggap tidak pantas walaupun cuacanya panas. Gedung pertunjukan dan restoran tertentu juga punya standar berpakaian sendiri yang biasanya tercantum di situs mereka. Membawa satu lapis tambahan yang ringan, misalnya selendang atau kemeja tipis, membuat kamu bisa masuk ke hampir semua tempat tanpa kembali ke penginapan.
Hal-hal kecil yang mudah terlewat
- Menunjuk orang dengan telunjuk dianggap kasar di banyak budaya; menunjuk dengan telapak tangan terbuka jauh lebih aman.
- Memberi dan menerima sesuatu, termasuk kartu nama, uang, atau paspor, di beberapa tempat dilakukan dengan dua tangan sebagai tanda hormat.
- Alas kaki sering harus dilepas bukan cuma di tempat ibadah, tetapi juga di rumah orang, penginapan tradisional, dan sebagian ruang ganti.
- Menawar wajar di pasar tertentu dan janggal di toko berlabel harga; ikuti kebiasaan tempatnya.
- Kemesraan di ruang publik dan minum alkohol di jalan punya batas yang sangat berbeda antarnegara.
- Kursi prioritas di transportasi umum umumnya benar-benar dijaga, bukan sekadar imbauan yang boleh diabaikan.
Tidak ada yang mengharapkan kamu menghafal semuanya. Yang diharapkan adalah kamu terlihat memperhatikan.
Kalau kamu terlanjur ditegur
Teguran biasanya datang dari orang biasa, bukan dari petugas, dan hampir selalu selesai di tempat. Responsnya cukup satu paket: hentikan hal yang sedang kamu lakukan, minta maaf singkat, lalu lanjutkan. Yang memperkeruh keadaan justru berdebat, merekam orang yang menegur, atau menjelaskan bahwa di negara asal hal itu biasa saja. Kalau yang menegur adalah petugas dan kamu tidak paham bahasanya, minta dijelaskan pelan-pelan atau lewat aplikasi terjemahan, dan jangan menandatangani apa pun yang tidak kamu mengerti isinya.
Sebagian kecil kasus bisa naik menjadi urusan denda atau proses hukum, terutama soal merokok di area terlarang, kerusakan properti, atau memotret objek yang dilindungi. Kalau sampai ke sana, kamu berhak menghubungi perwakilan Indonesia setempat, dan batas bantuannya dijelaskan di artikel tentang peran KBRI saat WNI bermasalah. Catatan pelanggaran yang serius juga berpotensi menyulitkan permohonan visa berikutnya, jadi menghindarinya jauh lebih murah daripada mengurusnya.
Kamu tidak perlu riset panjang sebelum berangkat. Tiga kebiasaan kecil sudah menutup sebagian besar risikonya. Pertama, tunda reaksi: begitu masuk ruang baru, amati dulu apa yang dilakukan orang setempat. Kedua, anggap papan bergambar sebagai aturan meskipun tulisannya tidak terbaca. Ketiga, tanya staf penginapan, karena mereka paling sabar menjelaskan hal yang bagi mereka terlalu jelas untuk ditulis.
Memotret papan pengumuman lalu menerjemahkannya lewat kamera ponsel juga membantu, dan itu satu alasan koneksi data harus jalan sejak jam pertama mendarat; pilihannya dibandingkan di pembahasan eSIM, roaming, atau SIM lokal.
Etiket perjalanan pada akhirnya hanya perpanjangan dari satu hal: kamu sedang menumpang di ruang hidup orang lain. Urusan dokumen sebaiknya diselesaikan jauh sebelum berangkat supaya perhatian kamu di sana bisa habis untuk hal-hal seperti ini, dan kalau berkas pengajuan visa perlu ditinjau sebelum diserahkan, tim visa expert GoVisa bisa membantu memeriksanya.