Negara Lainnya

Itinerary Polinesia Prancis untuk WNI: Tahiti, Moorea, dan Bora Bora

Di kepulauan tanpa jalan darat, urutan pulau tidak bisa kamu susun sesuka hati karena setiap perpindahan menunggu jadwal feri atau penerbangan domestik. Begini cara membagi malam di antara tiga pulau tanpa kehilangan satu hari penuh.

Tim Visa Expert GoVisablog.govisa.id
Itinerary Polinesia Prancis untuk WNI: Tahiti, Moorea, dan Bora Bora

Foto oleh DJ di Unsplash

Perjalanan ke Polinesia Prancis tidak bisa kamu susun sambil jalan. Begitu mendarat, tidak ada satu pun jalan darat yang menyambungkan pulau satu ke pulau lain, sehingga setiap perpindahan bergantung pada jadwal yang dibuat orang lain. Artikel ini menyusun rute pertama yang menggabungkan tiga pulau yang paling sering disatukan dalam satu perjalanan: pulau utama sebagai pintu masuk, pulau bergunung di seberangnya yang dicapai dengan feri, dan pulau laguna yang jauh yang hanya bisa dicapai dengan penerbangan domestik pendek.

Satu kenyataan yang mengatur seluruh urutan hari

Di banyak tujuan, kamu bisa menukar urutan kota semaunya karena ada bus, kereta, atau mobil sewaan yang jalan hampir sepanjang hari. Di kepulauan ini pilihan itu tidak ada. Laut memisahkan semuanya, dan laut hanya bisa diseberangi dengan alat yang punya jadwal tetap, jadi rute di sini disusun dari ketersediaan jadwal dulu, baru dari daftar keinginan.

Beda antara dua jenis perpindahannya besar sekali, dan di situ seluruh itinerary kamu ditentukan. Menyeberang ke pulau bergunung yang dekat cukup dengan feri, penyeberangannya singkat, dan jadwalnya cukup sering sehingga masih ada sisa hari untuk dipakai. Pindah ke pulau laguna yang jauh menuntut penerbangan berjadwal terbatas, dan setelah ditambah proses di bandara di kedua ujungnya, satu perpindahan saja bisa menghabiskan hari itu seluruhnya.

  • Tidak ada jembatan atau jalan antarpulau, jadi tidak ada perpindahan yang bisa kamu lakukan sesuka waktu sendiri.
  • Pulau dekat dicapai dengan feri dan penyeberangannya terasa seperti perjalanan dalam kota, bukan perjalanan antarkota.
  • Pulau jauh hanya dicapai dengan penerbangan pendek yang jadwalnya terbatas, dan hari perpindahannya sebaiknya kamu anggap hilang sejak awal.

Urusan izinnya sudah dibahas tuntas di artikel tersendiri dan tidak diulang di sini, jadi pastikan dulu kamu sudah membaca kenapa visa Schengen tidak cukup untuk ke Tahiti sebelum mulai mengunci tanggal.

Hari pertama dipakai memulihkan badan, bukan jalan-jalan

Penerbangan dari Indonesia ke kepulauan ini termasuk yang paling panjang yang mungkin kamu tempuh sebagai traveler Indonesia, dengan beberapa kali transit dan selisih zona waktu yang jauh. Badanmu sampai dalam kondisi yang tidak cocok dipakai untuk apa pun yang menuntut keputusan cepat, termasuk mengejar feri pertama atau menyusul penerbangan domestik di hari yang sama.

Jadi menginaplah semalam di pulau utama dan jangan isi hari itu dengan rencana apa pun yang punya jam pasti. Ambil penginapan dekat titik kedatangan, tukar sedikit uang, beli air dan kartu internet, lalu makan dan tidur.

Supaya hari pertama itu tidak benar-benar terbuang, siapkan badanmu sejak sebelum berangkat dengan cara yang dibahas di panduan mengatasi jet lag pada penerbangan jarak jauh yang berlaku untuk rute sepanjang ini.

Pulau bergunung yang dekat: urusan feri, bukan urusan pesawat

Pulau kedua dalam rute ini adalah pulau bergunung di seberang pulau utama, dan inilah satu-satunya perpindahan yang tidak mengorbankan satu hari penuh. Penyeberangannya singkat dan jadwalnya relatif sering, jadi kamu bisa berangkat pagi dan masih punya sebagian besar hari untuk dipakai di tempat tujuan.

Karena perpindahannya murah waktu, pulau ini pas ditaruh persis sesudah hari pemulihan. Kamu belum berurusan dengan bandara lagi, tetapi suasananya sudah berganti sepenuhnya: dinding gunung yang menjulang, teluk yang dalam, dan jalan tepi pulau yang bisa kamu putari dengan kendaraan sewaan.

  • Jalan memutar pulau untuk melihat teluk dan kebun nanas dari titik pandang di ketinggian.
  • Satu sesi snorkeling di laguna yang tenang, yang biasanya lebih terjangkau dibanding di pulau laguna yang jauh.
  • Satu pagi santai tanpa jadwal, karena kamu masih dalam masa menyesuaikan jam tubuh.

Pulau laguna yang jauh: hitung hari perpindahannya sebagai biaya

Pulau ketiga adalah yang paling sering muncul di foto, dan juga yang paling mahal dari sisi waktu. Pulau ini tidak terjangkau feri untuk traveler biasa, jadi satu-satunya jalan adalah penerbangan domestik pendek dengan pilihan jadwal jauh lebih sedikit dibanding penerbangan di Asia Tenggara. Kalau jatahmu kebetulan di tengah hari, hari itu praktis tidak bisa dipakai untuk apa pun selain pindah tempat.

Konsekuensinya jelas: jangan datang ke pulau ini untuk waktu yang singkat. Kalau kamu hanya menyisakan dua malam, satu terpotong hari perpindahan dan satu lagi terpotong hari berkemas, dan kamu akan merasa membayar sesuatu yang tidak kamu nikmati.

Di kepulauan tanpa jalan darat, yang membatasi rencanamu bukan jarak, melainkan jadwal orang lain.

Pembagian malam yang masuk akal di antara tiga pulau

Kalau kamu punya sekitar sepuluh malam di kepulauan ini, di luar hari terbang dari dan ke Indonesia, susunan di bawah ini paling sering masuk akal.

  1. Pulau utama di awal, satu malam, murni untuk memulihkan badan dan menyesuaikan jam tidur.
  2. Pulau bergunung yang dekat, tiga malam, karena perpindahannya singkat dan isinya padat tanpa menuntut banyak biaya waktu.
  3. Pulau laguna yang jauh, lima malam, supaya hari perpindahan di awal dan hari berkemas di akhir tidak memakan seluruh kunjungan.
  4. Pulau utama lagi di penutup, satu malam, sebagai bantalan sebelum penerbangan panjang pulang.

Jadi porsi terbesar jatuh ke pulau laguna yang jauh, justru karena perpindahan ke sana paling mahal waktunya. Pulau bergunung dapat porsi menengah yang nyaman. Pulau utama cukup singkat di dua ujung perjalanan, dipakai sebagai ruang pemulihan dan ruang cadangan, bukan sebagai tujuan wisata utama.

Kenapa urutan ini tidak bisa dibalik begitu saja

Godaan terbesar bagi orang yang pertama kali menyusun rute ke sini adalah langsung terbang ke pulau laguna di hari kedatangan, supaya bagian terbaiknya dapat waktu paling banyak. Masalahnya, kamu menyambung penerbangan berjadwal terbatas dalam kondisi badan paling buruk, dan kalau ada satu saja keterlambatan di rantai penerbangan panjangmu, sambungan itulah yang pertama gugur.

Alasan kedua ada di ujung yang lain. Penerbangan internasional dari kepulauan ini berangkat dari pulau utama, jadi kamu harus kembali ke sana apa pun yang terjadi, dan satu malam penutup di situ jauh lebih tenang daripada menumpuk penerbangan domestik dan internasional di hari yang sama.

Kalau kamu sedang membandingkan kepulauan ini dengan tujuan Pasifik lain yang mungkin lebih ringan urusannya, peta izin masuk Pasifik Selatan untuk WNI bisa jadi pembanding sebelum kamu memutuskan.

Yang perlu kamu siapkan dari Indonesia

Dua hal sebaiknya kamu urus jauh sebelum terbang. Pertama, kunci penerbangan domestik ke pulau laguna sebelum menyusun malam-malam lainnya, karena jadwal terbatas itulah kerangka seluruh rutemu. Kedua, booking penginapan di pulau jauh lebih awal, sebab pilihan di pulau kecil memang sedikit dan cepat penuh.

  • Siapkan budget dalam rupiah dengan asumsi harga di pulau kecil lebih tinggi daripada di pulau utama, karena hampir semua barang dikirim lewat laut.
  • Bawa obat pribadi dan perlengkapan snorkeling sendiri kalau kamu pemilih soal ukuran, karena mencari pengganti di pulau kecil tidak selalu gampang.
  • Pilih musim yang relatif kering, kira-kira sekitar Mei sampai Oktober di belahan bumi selatan, tanpa berharap cuaca tertentu di tanggal tertentu.
  • Simpan semua bukti booking feri dan penerbangan domestik supaya bisa dibuka offline, sebab sinyal di sebagian pulau tidak bisa diandalkan.

Soal makan sehari-hari, terutama kalau kamu mencari pilihan yang aman untuk traveler muslim, bahasannya ada di panduan kuliner Polinesia Prancis dan pilihan halal yang sebaiknya kamu baca berbarengan dengan itinerary ini.

Kerangka singkat yang bisa kamu pakai ulang

Inti rutenya bisa diringkas jadi satu kalimat: mendarat dan beristirahat di pulau utama, menyeberang dengan feri ke pulau bergunung, terbang ke pulau laguna dan tinggal paling lama di sana, lalu kembali ke pulau utama untuk satu malam terakhir. Selama urutan itu kamu pegang, jumlah malamnya boleh kamu sesuaikan dengan panjang cuti.

Yang sebaiknya kamu hindari adalah menyusun hari seolah pulau-pulau ini tersambung jalan. Begitu rencanamu memuat dua perpindahan antarpulau di hari yang sama, atau penerbangan domestik di hari kedatangan, rute itu sudah rapuh sebelum kamu berangkat. Kepulauan ini memberi banyak kepada traveler yang mau menyesuaikan diri dengan jadwalnya, dan sangat sedikit kepada yang memaksakan kehendak.