Asia

Imigrasi Bandara Jepang untuk WNI: Daftar Online Sebelum Mendarat

Di Jepang, bagian tersulit dari kedatangan justru dikerjakan sebelum kamu boarding, bukan setelah pesawat mendarat. Ini yang harus beres lebih dulu dan apa yang terjadi di dua pos pemeriksaan setelahnya.

Tim Visa Expert GoVisablog.govisa.id
Imigrasi Bandara Jepang untuk WNI: Daftar Online Sebelum Mendarat

Foto oleh appshunter.io di Unsplash

Jepang memindahkan pekerjaan rumahnya ke depan. Di banyak bandara dunia, urusan kedatangan baru dimulai setelah pintu pesawat terbuka: kamu turun, mengikuti arah, lalu menjawab pertanyaan di meja imigrasi. Jepang membalik urutan itu. Bagian yang paling menentukan kelancaran kamu justru dikerjakan saat kamu masih di rumah dan masih punya waktu memperbaiki yang salah.

Artikel ini berangkat dari titik ketika izin masuk kamu sebagai wisatawan sudah beres di tangan. Tahap pengajuannya tidak dibahas di sini. Fokusnya satu: apa yang harus selesai sebelum boarding, lalu apa yang terjadi di dua pos berurutan setelah mendarat.

Kenapa Jepang tidak terasa seperti bandara Eropa

Kalau kamu pernah mendarat di bandara Eropa, kamu mungkin terbiasa dengan pola yang serba manual di tempat: petugas membuka paspor, bertanya ke mana dan berapa lama, lalu membubuhkan cap. Jepang bukan anggota Schengen, dan kedatangannya bekerja dengan logika yang lain. Negara ini memakai pendaftaran online resmi yang kamu isi sebelum terbang, yang hasilnya berupa kode untuk dipindai di bandara. Karena ketentuan teknis layanan seperti ini bisa berubah tanpa pemberitahuan ramai, selalu cocokkan langkahnya dengan laman resmi imigrasi Jepang sebelum kamu mulai mengisi.

Dampaknya nyata pada jenis kesalahan yang mungkin kamu buat. Di bandara yang serba manual, hal terburuk biasanya salah menjawab atau tidak bisa menunjukkan bukti booking. Di Jepang, hal terburuk terjadi jauh sebelum itu: kamu tidak mendaftar sama sekali, atau mendaftar dengan data yang berbeda dari paspor. Keduanya baru terasa ketika kamu sudah berdiri di antrean.

Formulir kedatangan versi digital memang sudah jadi kebiasaan di banyak tujuan Asia, dan pernah dibahas terpisah dalam panduan kartu kedatangan digital di Asia, yang berguna kalau rutemu memakai transit.

Yang harus beres sebelum kamu boarding

Anggap pendaftaran online itu bagian dari packing, bukan bagian dari perjalanan. Kerjakan saat koneksi stabil dan paspor ada di meja depan kamu. Begini urutan yang masuk akal.

  1. Buka laman resmi imigrasi Jepang lebih dulu, lalu ikuti tautan pendaftaran online dari sana, bukan dari hasil pencarian yang kebetulan muncul.
  2. Siapkan paspor fisik di sebelah kamu, lalu isi nama dan nomornya dengan membaca langsung dari halaman data, bukan dari ingatan.
  3. Isi juga data penerbangan dan alamat tempat menginap malam pertama, jadi selesaikan booking penginapan sebelum mendaftar.
  4. Simpan hasilnya dalam bentuk kode yang bisa dibuka tanpa internet, plus satu salinan di luar ponsel utama.
  5. Cek ulang mendekati hari terbang bahwa kodenya masih bisa dibuka dan datanya masih sesuai rencana.

Di sinilah letak bedanya. Kamu tidak sedang menyiapkan jawaban, kamu sedang menyiapkan berkas digital yang nanti hanya perlu ditunjukkan.

Karena hampir semua langkahnya bergantung pada gadget, ada baiknya kamu menata isi ponsel sebelum berangkat, dan blog ini punya daftar aplikasi yang perlu disiapkan sebelum ke Jepang yang bisa kamu bereskan di hari yang sama.

Data yang paling sering bikin kode tidak cocok

Paspor adalah satu-satunya sumber kebenaran. Apa pun yang kamu tulis di pendaftaran harus sama persis dengan yang tercetak di paspor Indonesia kamu, bukan versi nama yang biasa kamu pakai sehari-hari. Ini masalah khas pemegang paspor Indonesia, karena struktur nama kita sering tidak rapi dibagi dua kolom.

  • Nama satu kata di paspor, tapi kamu terbiasa menambahkan nama ayah atau nama keluarga saat mengisi formulir online.
  • Nama panjang yang kamu potong sendiri supaya pas di kolom, padahal paspor menulisnya penuh.
  • Gelar atau sebutan yang kamu bawa dari dokumen lain, yang sama sekali tidak tercantum di paspor.
  • Nomor paspor yang kamu salin dari foto lama, padahal kamu sudah ganti paspor dan nomornya berubah.
  • Huruf dan angka yang bentuknya mirip lalu tertukar waktu kamu mengetik cepat.

Soal paspornya sendiri, patokan yang dipakai banyak negara adalah masa berlaku minimal enam bulan, dihitung dari tanggal rencana pulang kamu, bukan tanggal keberangkatan. Kalau paspormu mendekati batas itu, selesaikan penggantiannya dulu, supaya kamu tidak mendaftar dengan nomor yang sebentar lagi tidak terpakai.

Yang membuat seorang wisatawan tertahan di Jepang biasanya bukan jawaban yang salah di meja petugas, melainkan pendaftaran yang tidak pernah benar-benar diselesaikan.

Perlu juga kamu pahami bahwa memegang izin masuk tidak otomatis berarti kamu pasti dipersilakan masuk, sebuah pembedaan yang pernah dibahas lebih dalam di tulisan tentang punya visa tapi ditolak masuk di imigrasi, dan itu berlaku juga di Jepang.

Pos pertama setelah mendarat: pemeriksaan imigrasi

Setelah pesawat parkir, kamu mengikuti arah menuju area pemeriksaan masuk, lalu mengambil jalur untuk pemegang paspor asing. Yang kamu butuhkan di tangan hanya dua: paspor, dan kode dari pendaftaran online resmi yang sudah kamu simpan sejak di rumah. Buka kodenya sebelum masuk antrean.

Prosesnya ringkas. Kode dipindai, paspor diperiksa, lalu biasanya ada pengambilan data biometrik singkat sesuai prosedur yang berlaku saat itu. Petugas mungkin bertanya soal maksud kunjungan dan berapa lama kamu tinggal. Jawab apa adanya dan konsisten dengan isi pendaftaranmu, termasuk alamat menginap. Ketidaksesuaian antara ucapan dan data tertulis paling cepat menarik perhatian.

Satu hal yang sering terlewat: jangan menjawab dengan perkiraan kalau kamu bisa menjawab dengan dokumen. Lupa nama penginapan, buka kembali booking kamu.

Sebelum beranjak dari pos ini, lihat dulu apa yang diberikan ke paspormu dan pastikan isinya wajar, karena blog ini punya penjelasan tentang cara membaca cap imigrasi di paspor yang membuat kamu sadar kalau ada yang keliru sejak masih di tempat.

Pos kedua: bea cukai dan barang bawaan

Banyak orang mengira urusan selesai begitu lolos imigrasi. Belum. Setelah mengambil bagasi, kamu masih melewati pemeriksaan bea cukai, dan bagian ini pun punya sisi online yang sama. Deklarasi barang bawaan bisa kamu siapkan lebih awal lewat pendaftaran online resmi tadi dan menghasilkan kode tersendiri untuk dipindai, dengan catatan kamu memverifikasi ketentuan terkininya di laman resmi imigrasi Jepang.

Yang perlu kamu pikirkan sejak dari Indonesia adalah jenis barang bawaanmu. Bahan makanan segar, produk hewani, tanaman, obat dalam jumlah besar, dan barang yang sebenarnya untuk dijual adalah kategori yang paling sering menimbulkan masalah. Wisatawan Indonesia kerap membawa bekal makanan karena alasan halal, dan itu wajar, tapi periksa dulu kategorinya dan nyatakan apa adanya kalau ragu.

Menyatakan sesuatu tidak sama dengan melakukan kesalahan. Mendeklarasikan barang yang ternyata boleh masuk hanya menambah satu percakapan singkat. Tidak mendeklarasikan barang yang ternyata dilarang adalah urusan jauh lebih panjang, di negara yang aturannya bukan aturan kita.

Kalau pendaftaran online tidak bisa kamu selesaikan

Layanan apa pun bisa bermasalah tepat ketika kamu membutuhkannya. Kalau pendaftaran tidak bisa kamu selesaikan dari Indonesia, atau kodenya gagal dibuka, kamu umumnya masih bisa menempuh pengisian manual di bandara kedatangan, dan hal ini pun sebaiknya kamu konfirmasi lewat laman resmi imigrasi Jepang. Itu bukan kiamat, hanya saja kamu kehilangan keunggulan utamanya, yaitu memperbaiki data di tempat yang tenang.

  • Simpan tangkapan layar kodenya, jangan mengandalkan halaman yang perlu dimuat ulang.
  • Bawa data penginapan dan penerbangan dalam bentuk yang bisa dibaca tanpa internet.
  • Pastikan baterai gadget kamu cukup saat mendarat, dan letakkan power bank di tas kabin.
  • Kalau bepergian berkelompok, cek bahwa setiap orang punya pendaftaran sendiri, termasuk anak-anak.

Satu putaran pemeriksaan terakhir sebelum berangkat

Malam sebelum terbang dari Jakarta, Surabaya, atau Bali, luangkan waktu untuk satu putaran terakhir. Buka paspor, buka kode pendaftaranmu, lalu bandingkan baris demi baris: nama, nomor paspor, tanggal lahir, nomor penerbangan, dan alamat malam pertama. Kalau ada satu saja yang tidak cocok, perbaiki sekarang.

Inilah inti perbedaan Jepang dari banyak tujuan lain. Kelancaran kedatanganmu hampir seluruhnya ditentukan oleh ketelitian sebelum pintu pesawat ditutup. Setelah mendarat, yang tersisa hanyalah menunjukkan apa yang sudah kamu siapkan, melewati dua pos berurutan, lalu mulai berjalan ke kota.