Kuliner Selandia Baru untuk WNI: Hangi, Makanan Laut, dan Pilihan Halal
Dapur Selandia Baru masih muda, jadi yang jadi penanda bukan resep warisan melainkan cara memasaknya: dikubur bersama batu panas dan dikukus uap bumi. Ini panduan memahami mejanya, plus catatan jujur soal pilihan halal buat kamu.

Foto oleh Yin Zhang di Unsplash
Dapur Selandia Baru itu muda. Negara ini tidak punya tumpukan resep warisan berabad-abad seperti Italia atau Jepang, dan justru di situ letak menariknya. Penanda meja makan di sana bukan nama hidangan, melainkan cara bahan baku diperlakukan: dikubur bersama batu yang sudah dipanaskan, dikukus uap dari tanah, atau diangkat dari perairan dingin lalu disajikan hampir tanpa diapa-apakan. Begitu kamu paham logika itu, memilih makanan di sana jadi jauh lebih gampang, termasuk kalau kamu mencari yang halal.
Kenapa bahan lebih menentukan daripada resep
Selandia Baru adalah negara peternakan dan negara pesisir sekaligus. Padang rumput luas membuat daging kambing, sapi, dan produk susu jadi barang sehari-hari, sementara laut dingin di sekelilingnya memberi kerang dan ikan bertekstur padat. Penduduknya pun datang dari banyak arah, sehingga tidak pernah terbentuk satu kanon masakan nasional yang baku. Menu di sana jadi lebih mirip daftar bahan daripada daftar nama hidangan.
- Bahan ditulis terang di menu, jadi kamu bisa menebak isi piring tanpa menghafal nama asing
- Bumbu cenderung ringan karena bahannya dianggap sudah cukup berbicara sendiri
- Yang khas justru metodenya, terutama memasak dengan panas yang disimpan di dalam tanah
Hangi, jamuan budaya yang dimasak di bawah tanah
Hangi adalah cara memasak Maori yang paling sering disebut orang luar. Prinsipnya sederhana tetapi butuh kesabaran: lubang digali, batu dipanaskan di atas bara sampai benar-benar menyimpan panas, lalu diturunkan ke dasar lubang. Keranjang berisi daging dan sayuran akar diletakkan di atasnya, ditutup kain lembap, lalu ditimbun tanah supaya uap terkunci. Masakan matang perlahan dari segala arah, dan aroma tanah serta kayu ikut masuk ke dagingnya.
Yang penting kamu pahami sebelum berangkat: hangi bukan atraksi makanan. Ia jamuan budaya yang biasanya hadir pada acara khusus, seperti penyambutan tamu, perayaan keluarga, atau pertemuan komunitas. Ada urutan sambutan, ada tuan rumah, ada doa, dan makanan datang di bagian akhir. Kalau kamu ikut acara semacam ini lewat program resmi, datanglah seperti saat diundang kenduri di kampung orang, bukan seperti saat mengantre di pusat kuliner.
Hangi lebih dekat ke kenduri daripada ke menu, jadi hal pertama yang sebaiknya kamu bawa adalah rasa hormat, bukan rasa penasaran soal rasa.
Pengalaman budaya semacam ini paling banyak tersedia di sekitar Rotorua, yang biasanya sudah masuk dalam rute Pulau Utara dari Auckland sampai Wellington, jadi kamu bisa menyisipkannya tanpa memutar jalan.
Uap tanah sebagai alat masak
Di beberapa kawasan Pulau Utara, panas bumi bukan sekadar pemandangan. Uap keluar dari celah tanah, kolam air mendidih sendiri, dan warga setempat sudah lama memakainya untuk mengukus. Jagung yang dikukus uap tanah, misalnya, sering dijual di dekat kawasan panas bumi dan rasanya bersih tanpa tambahan apa pun. Prinsipnya sama dengan hangi, hanya sumber panasnya langsung dari bumi dan tidak perlu dikubur.
Dua hal ini punya nilai praktis buat kamu. Makanan yang dikukus uap biasanya minim bahan tambahan sehingga lebih mudah dipastikan isinya, dan aroma sulfur di kawasan panas bumi cukup kuat sehingga sebaiknya kamu tidak menjadwalkan makan besar persis setelah berjalan lama di sana.
Makanan laut dari perairan dingin
Air yang dingin membuat daging ikan dan kerang tumbuh lebih padat. Itu sebabnya makanan laut di Selandia Baru sering disajikan dengan perlakuan paling sedikit: dikukus, direbus singkat, atau dimakan segar. Kalau kamu biasa makanan laut tropis berbumbu tebal, perbedaannya langsung terasa.
- Kerang hijau berukuran besar, biasanya dikukus dan disajikan beserta cangkangnya
- Tiram dari teluk dingin, dimakan segar dengan perasan jeruk saja
- Ikan putih berdaging padat yang jadi isi fish and chips di hampir semua kota pesisir
- Lobster air dingin yang di sana lebih sering disebut crayfish
- Whitebait, ikan kecil transparan yang dimasak jadi semacam telur dadar tipis dan hanya ada pada musim tertentu
Konsentrasi makanan laut paling padat ada di pesisir selatan, yang biasanya kamu lewati kalau mengikuti rute Pulau Selatan dari Queenstown ke Fiordland, dan kota pelabuhan kecil di sepanjang jalan itu justru sering lebih baik daripada restoran besar.
Catatan jujur untuk pembaca Muslim
Ada kabar baik dan ada yang perlu kamu waspadai. Kabar baiknya, daging kambing dan sapi adalah daging sehari-hari di sana, bukan daging khusus. Menu harian tidak dibangun di atas babi seperti di banyak negara Eropa, sehingga risiko salah pesan jauh lebih kecil dan kamu tidak perlu membaca menu dengan tegang.
Tetapi lazim bukan berarti otomatis halal. Cara penyembelihan tetap perlu ditanyakan, dan rumah makan umum memakai pasokan biasa. Anggur dan bir juga kerap dipakai untuk membuat kaldu atau melarutkan sisa panggangan di wajan, dan itu tidak selalu tertulis di menu. Pertanyaannya bergeser: bukan lagi apakah ini babi, melainkan dari mana dagingnya dan apa isi sausnya.
- Cari dulu rumah makan yang memang mencantumkan keterangan halal, lazimnya rumah makan Timur Tengah, Turki, Malaysia, atau India di kota besar
- Kalau tidak ada, tanyakan dua hal sekaligus: pemasok dagingnya dan apakah sausnya memakai anggur atau bir
- Minta jawaban dari orang dapur, bukan hanya dari pelayan yang baru bekerja
- Kalau jawabannya ragu, pindah ke pilihan makanan laut atau menu vegetarian, jangan dipaksakan
Pola bertanya seperti ini sebenarnya sama di mana pun kamu jalan, dan sudah dibahas lebih panjang dalam panduan mencari makanan halal saat liburan ke luar negeri, termasuk kalimat yang enak dipakai saat bertanya.
Jalur makanan laut adalah jalur paling aman
Kalau kamu ingin jalan dengan paling sedikit tanda tanya, pilih makanan laut. Ikan dan kerang tidak menyeret urusan penyembelihan sama sekali, dan di Selandia Baru pilihannya justru paling melimpah serta paling mewakili karakter negaranya. Jadi kamu bukan sedang berkompromi.
- Minta versi kukus atau rebus kalau kamu ingin paling bersih dari tambahan
- Tanyakan apakah tepung pelapisnya memakai bir, karena itu kebiasaan yang cukup umum
- Tanyakan juga apakah penggorengan dipakai bersama untuk olahan babi
- Lewati saus siap pakai yang tidak jelas isinya, cukup minta lemon
Kebiasaan makan yang bikin harimu lebih mulus
Ritme makan di sana tidak sama dengan di Indonesia. Sarapan dan brunch adalah acara utama dan kafe ramai sejak pagi, sementara dapur rumah makan di kota kecil bisa tutup lebih awal daripada perkiraan kamu. Rencana makan malam yang terlalu santai berisiko berakhir di minimarket.
- Kalau sampai di kota kecil menjelang malam, cari makan dulu sebelum mengurus penginapan
- Booking meja untuk rumah makan yang populer, terutama di kota wisata pada musim ramai
- Air keran umumnya bisa diminum, jadi bawa botol isi ulang dan hemat belanja
- Pasar pagi akhir pekan adalah tempat terbaik mencicipi bahan segar sekaligus bertanya langsung ke penjualnya
Bekal dari Indonesia dan batas yang perlu kamu hormati
Membawa sambal, abon, atau bumbu instan memang menolong, apalagi kalau penginapanmu ada dapurnya. Tapi Selandia Baru termasuk negara dengan aturan karantina makanan paling ketat di dunia. Aturannya bukan soal berani atau tidak, melainkan soal deklarasi: tulis semua makanan yang kamu bawa di kartu kedatangan, lalu biarkan petugas yang memutuskan.
Soal apa yang biasanya lolos dan apa yang rawan disita sudah diurai terpisah dalam catatan membawa makanan instan dari Indonesia, dan sebaiknya kamu baca sebelum mengepak koper.
Cara melihat kuliner Selandia Baru tanpa salah harap
Jangan datang dengan harapan menemukan satu hidangan ikonik yang namanya dikenal dunia. Yang akan kamu ingat kemungkinan besar bukan sebuah nama, melainkan sebuah cara: daging yang matang perlahan di bawah tanah, jagung yang dikukus uap bumi, dan kerang yang baru diangkat dari air dingin.
Untuk pembaca Muslim, kesimpulannya melegakan. Negara ini lebih mudah dinavigasi daripada banyak tujuan Eropa karena daging merah ada di mana-mana, tetapi kemudahan itu tetap menuntut satu kebiasaan kecil, yaitu bertanya sebelum memesan.