Schengen

Franc Swiss atau Euro untuk WNI: Mana yang Dipakai Saat Membayar

Swiss dikelilingi zona euro tetapi mata uangnya franc, dan banyak pedagang tetap mau menerima euro dengan kurs yang mereka tentukan sendiri. Artikel ini membedah cara memilih mata uang di kasir, kebiasaan membayar dengan kartu, dan kapan franc tunai masih wajib ada di kantongmu.

Tim Visa Expert GoVisablog.govisa.id
Franc Swiss atau Euro untuk WNI: Mana yang Dipakai Saat Membayar

Foto oleh Simon Kadula di Unsplash

Di Swiss kamu akan sering ditanya satu hal yang tidak muncul di negara Eropa lain: mau bayar pakai apa. Pertanyaan itu terdengar sepele, tapi di negara ini ada dua mata uang yang berdampingan di satu meja kasir, dan jawabanmu menentukan berapa nilai yang benar-benar keluar dari rekeningmu. Artikel ini tidak membahas kartu transportasi atau gaya hidup nontunai secara umum, melainkan satu keputusan kecil yang kamu ulang berkali-kali sepanjang liburan, yaitu mata uang mana yang kamu serahkan.

Kenapa Swiss tetap memakai franc walau dikelilingi euro

Swiss berbatasan dengan negara-negara pemakai euro di hampir seluruh sisinya, dan banyak orang Indonesia berasumsi Swiss ikut memakai euro juga. Kenyataannya tidak. Mata uang resmi Swiss adalah franc Swiss, dan itu satu-satunya mata uang yang diakui secara hukum untuk melunasi pembayaran di sana.

Yang membingungkan adalah kenyataan di lapangan. Karena arus wisatawan dari zona euro begitu besar, banyak pedagang memilih tetap menerima euro walau tidak wajib. Jadi kamu akan menemukan kafe di stasiun, toko suvenir di kota tepi danau, dan sebagian restoran yang dengan santai menerima uang kertas euro. Penerimaan itu bukan tanda kedua mata uang setara, melainkan sekadar layanan tambahan yang syaratnya ditentukan sepenuhnya oleh pedagang.

Pola negara bermata uang sendiri di tengah tetangga zona euro pernah dibahas di cara membayar di Hungaria dan membandingkan keduanya memperlihatkan bahwa persoalannya mirip tetapi perangkap teknisnya berbeda.

Apa yang sebenarnya terjadi kalau kamu membayar pakai euro

Begitu kamu menyerahkan uang kertas euro, pedagang harus mengubah harga dalam franc menjadi angka euro memakai kurs yang dia tentukan sendiri. Tidak ada otoritas yang mengatur kurs itu, tidak ada papan resmi yang harus dia ikuti, dan tidak ada kewajiban menyamakannya dengan kurs pasar. Kurs pedagang hampir selalu lebih buruk bagi pembeli, karena dia sedang menanggung risiko menyimpan mata uang asing dan tahu kamu tidak punya daya tawar di depan kasir.

Bagian yang paling sering mengejutkan datang setelah itu. Kembaliannya tidak diberikan dalam euro, melainkan dalam franc. Jadi kamu menyetor mata uang yang satu dan menerima mata uang yang lain, dengan selisih yang tidak pernah diumumkan. Kalau ini kamu lakukan beberapa kali sehari selama liburan, kerugiannya menumpuk tanpa pernah terlihat sebagai satu transaksi besar.

  • Harga dipajang dalam franc, jadi angka euro yang kamu bayar adalah hasil hitungan pedagang, bukan harga resmi.
  • Kurs yang dipakai bisa berbeda antara dua toko yang berdiri bersebelahan.
  • Kembalian dalam franc berarti kamu pulang membawa koin mata uang yang mungkin tidak kamu pakai lagi.
  • Koin euro umumnya tidak diterima sama sekali, hanya uang kertas, sehingga pembayaran kecil jadi tidak praktis.
Menerima euro bukan berarti menghargainya setara, hanya berarti bersedia menukarnya dengan syarat sendiri.

Kartu biasanya jadi pilihan paling jujur

Karena kurs pedagang tidak transparan, membayar dengan kartu justru sering menjadi jalan paling masuk akal di Swiss. Transaksi diproses dalam franc, lalu bank atau penerbit kartumu yang mengonversinya ke rupiah dengan kurs yang bisa kamu periksa belakangan di aplikasi. Konversi tetap ada, tetapi setidaknya mekanismenya bisa kamu lacak dan bandingkan.

Swiss sendiri sudah sangat nyaman dipakai dengan kartu. Kasir supermarket, loket museum, kedai kopi kecil, sampai kios stasiun umumnya menerima pembayaran contactless tanpa pertanyaan tambahan. Untuk pembelian kecil pun kartu biasanya tidak ditolak, kebalikan dari kebiasaan di banyak negara Asia Tenggara yang masih memasang batas minimum transaksi.

Satu jebakan yang muncul justru di mesin kartu

Ada satu layar yang perlu kamu waspadai. Sebagian mesin akan menawarkan supaya transaksinya langsung dihitung dalam rupiah, bukan franc, dengan alasan supaya kamu tahu angkanya sejak awal. Tawaran itu terdengar membantu, tetapi kursnya ditentukan oleh penyedia mesin, bukan oleh bank penerbit kartumu, dan itu membawamu kembali ke masalah yang sama seperti membayar dengan euro.

Kalau layar itu muncul, pilih mata uang lokal dan abaikan tawaran rupiahnya, karena alasan teknisnya sudah diuraikan di bayar pakai rupiah di mesin EDC luar negeri dan prinsipnya berlaku sama di Swiss.

Mesin yang tidak mau menerima uang tunai

Lapisan berikutnya adalah alat yang bahkan tidak memberimu pilihan mata uang, karena ia tidak menerima uang kertas apa pun. Di Swiss ini bukan kejadian langka, dan paling sering kamu temui di tempat yang justru kamu butuhkan saat sedang buru-buru.

  • Mesin tiket kereta dan bus di sejumlah titik hanya menerima kartu, terutama unit yang lebih baru.
  • Loker penyimpanan barang di stasiun biasanya dioperasikan dengan kartu atau contactless.
  • Toilet berbayar, sepeda sewaan, dan sebagian mesin minuman memakai pembaca kartu tanpa slot koin.
  • Tempat parkir dan beberapa layanan mandiri meminta kartu sejak awal, tanpa petugas yang bisa ditanya.

Konsekuensi praktisnya sederhana. Membawa uang tunai saja tidak cukup di Swiss, karena ada hal yang memang tidak bisa dibeli dengan uang kertas. Pastikan setidaknya satu kartumu aktif untuk transaksi luar negeri sebelum kamu terbang, dan sebaiknya bawa kartu kedua dari bank berbeda sebagai cadangan.

Kebiasaan nontunai yang serupa pernah dibahas untuk negara Nordik, dan kartu transit dan pembayaran nontunai di Denmark enak dipakai sebagai pembanding, dengan satu catatan bahwa di Denmark kamu tidak pernah dihadapkan pada pilihan dua mata uang di meja kasir seperti di Swiss.

Kapan kamu tetap perlu memegang sedikit franc

Walau kartu dominan, menyimpan sejumlah kecil franc tetap ada gunanya. Bukan sebagai alat bayar utama, melainkan sebagai jaring pengaman untuk situasi yang tidak bisa diselesaikan dengan kartu.

  1. Kedai kecil di kawasan pegunungan atau desa, termasuk warung di jalur pendakian, yang jaringannya tidak stabil.
  2. Pasar akhir pekan dan penjual makanan kaki lima yang mesinnya sedang mati.
  3. Kotak pembayaran mandiri berbasis kepercayaan di pinggir jalan, misalnya untuk produk kebun, yang hanya menyediakan celah koin.
  4. Uang tip kecil atau kotak sumbangan di tempat ibadah dan toilet umum yang masih dijaga petugas.
  5. Keadaan darurat ketika kartumu diblokir sepihak dan kamu belum berhasil menghubungi bank.

Cara paling masuk akal mendapatkan franc adalah menariknya setelah tiba, dan langkah amannya sudah dirinci di panduan tarik tunai di ATM luar negeri termasuk alasan menghindari mesin yang berdiri tepat di area kedatangan bandara.

Menyiapkan uang sebelum terbang dari Indonesia

Dari Jakarta, Surabaya, atau Bali, perjalanan ke Swiss hampir selalu melewati satu transit, dan transit itu kadang berada di negara zona euro. Di situlah banyak orang tergoda menukar rupiah ke euro sekaligus, dengan pikiran euro akan terpakai di Swiss juga. Hindari pola itu. Euro yang kamu bawa ke Swiss hanya akan dibelanjakan dengan kurs pedagang, sedangkan franc yang kamu butuhkan jumlahnya sedikit.

Patokannya begini. Kartu untuk hampir semua pengeluaran, franc tunai dalam jumlah kecil sebagai pengaman, dan euro hanya kalau kamu memang punya jadwal menginap di negara zona euro pada perjalanan yang sama.

Satu catatan administratif tetap perlu kamu ingat, karena Swiss masuk wilayah Schengen. Paspormu harus berlaku minimal 6 bulan dihitung dari tanggal rencana pulang, dan kunjungan wisata tunduk pada aturan 90 hari dalam 180 hari. Pembahasan di sini murni soal pengeluaran harian selama liburan wisata.

Kerangka keputusan yang bisa kamu bawa ke kasir

Kalau kamu ingin satu cara berpikir yang bisa dipakai di depan kasir tanpa perlu menghitung apa pun, susun saja menurut urutan prioritas. Pilihan pertama selalu kartu dalam franc. Pilihan kedua franc tunai. Pilihan ketiga, dan sebaiknya terakhir, uang kertas euro.

Yang membuat Swiss berbeda dari negara lain bukan tingkat kemajuan sistem pembayarannya, melainkan kenyataan bahwa kamu punya pilihan yang tampak setara padahal tidak. Begitu kamu tahu euro di Swiss adalah mata uang tamu yang nilainya ditentukan tuan rumah, keputusan di kasir jadi otomatis dan kamu bisa berhenti memikirkannya sepanjang liburan.