Tips Liburan

Urusan Toilet di Luar Negeri: Panduan dan Tips Praktis untuk WNI

Toilet tanpa semprotan air, pintu yang minta uang receh, dan tisu yang tidak boleh disiram sering jadi kejutan pertama traveler Indonesia. Ini cara bersiap supaya tidak panik di hari pertama.

Tim Visa Expert GoVisablog.govisa.id
Urusan Toilet di Luar Negeri: Panduan dan Tips Praktis untuk WNI

Foto oleh Alexander Schimmeck di Unsplash

Ada satu kejutan yang hampir selalu datang di hari pertama perjalanan ke luar negeri, dan ironisnya tidak pernah masuk daftar persiapan siapa pun. Kamu sudah mengurus visa, sudah mengunduh peta, sudah menghitung anggaran rupiah sampai ke pos oleh-oleh, lalu kamu masuk ke toilet bandara tujuan dan menyadari tidak ada semprotan air di sana. Tidak ada gayung, tidak ada keran kecil di samping kloset, tidak ada apa pun selain gulungan tisu.

Urusan toilet adalah bagian perjalanan yang paling jarang dibahas dan paling sering menentukan kenyamanan seharian. Kabar baiknya, semuanya bisa diantisipasi dengan persiapan yang murah dan berukuran kecil.

Kenapa absennya semprotan air jadi kejutan pertama

Di Indonesia, membersihkan diri dengan air adalah standar yang tidak pernah dipertanyakan, jadi otak kita tidak pernah menyimpan rencana cadangan. Di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika Utara, standar yang berlaku adalah tisu kering, dan semprotan air lebih sering dianggap perlengkapan tambahan yang baru muncul di penginapan tertentu.

Ini bukan soal kebersihan siapa yang lebih baik, hanya soal kebiasaan yang tumbuh berbeda. Yang perlu kamu siapkan adalah jalan keluarnya, dan pilihannya lebih banyak daripada yang kamu bayangkan.

  • Botol plastik kecil yang bisa diisi di keran wastafel. Paling sederhana dan paling mirip kebiasaan di rumah. Botol bekas air mineral ukuran saku sudah cukup.
  • Botol semprot lipat dari toko peralatan perjalanan. Bentuknya ringkas dan bisa dilipat saat kosong.
  • Tisu basah yang dibeli di tempat tujuan, tersedia di hampir semua minimarket dan apotek di kota besar mana pun.
  • Kombinasi keduanya, yaitu botol kecil di tas harian dan tisu basah sebagai cadangan saat wastafel terlalu jauh dari bilik.

Kalau kamu memilih mengisi botol dari keran wastafel, cek dulu status air keran di negara tujuan lewat panduan air minum dan air keran Untuk membersihkan diri, air keran hampir selalu aman; yang perlu kamu pastikan adalah apakah air itu juga layak diminum.

Toilet umum berbayar dan pentingnya uang receh di kantong

Kejutan kedua biasanya datang di stasiun atau di pusat kota. Kamu menemukan toilet umum, lalu menemukan pula palang putar yang meminta pembayaran sebelum pintunya terbuka. Di Indonesia toilet berbayar biasanya dijaga orang dan kamu bisa menitip dulu. Di banyak negara penjaganya adalah mesin, dan mesin tidak bisa diajak berdiskusi.

Sistem berbayar ini ada alasannya. Toilet umum yang bersih butuh petugas, sabun, tisu, dan perbaikan rutin, dan biaya masuk itulah yang menutup ongkosnya. Konsekuensi praktisnya untuk kamu ada dua. Pertama, selalu sisakan uang logam pecahan kecil di kantong depan, jangan di dompet yang tersimpan di dasar tas. Kedua, jangan langsung menghabiskan semua uang logam untuk membeli minum, karena receh terakhir seringkali lebih berharga untuk pintu toilet. Sebagian mesin memang sudah menerima kartu tanpa sentuh, tapi mesin lama masih banyak.

Di mana biasanya ada toilet yang mudah diakses tanpa bayar

Begitu kamu tahu polanya, mencari toilet di kota asing berhenti menjadi sumber kecemasan. Beberapa tempat hampir selalu punya toilet yang bisa dipakai tanpa membayar terpisah.

  • Pusat perbelanjaan dan department store. Biasanya bersih, ada di setiap lantai, dan tidak ada yang menanyakan apakah kamu membeli sesuatu.
  • Restoran cepat saji dan kedai kopi rantai besar. Sebagian mencetak kode pintu di struk, jadi membeli minuman termurah adalah tiket masuk yang tidak mahal.
  • Stasiun kereta besar dan terminal bus antarkota. Sebagian gratis, sebagian berbayar, tapi hampir selalu ada.
  • Museum dan galeri. Toiletnya biasanya berada di area lobi sebelum pemeriksaan tiket, jadi bisa dipakai tanpa masuk pameran.
  • Perpustakaan umum dan gedung pemerintah kota. Ini kartu as yang paling sering dilupakan traveler.
  • Hotel besar di area wisata, terutama lobinya. Masuk dengan tenang dan wajar, jangan celingukan.

Kalau kamu memilih mampir ke restoran cepat saji atau kedai kopi, sekalian sesuaikan dengan jam makan setempat seperti diuraikan di catatan tentang jam makan dan kebiasaan bersantap Dapur yang tutup di antara dua sesi makan juga sering berarti pintunya terkunci.

Merencanakan toilet sebelum naik kereta atau bus jarak jauh

Ini kebiasaan yang mengubah kenyamanan seharian dan hampir tidak butuh usaha. Sebelum naik kereta atau bus jarak jauh, mampir ke toilet walaupun kamu merasa belum perlu. Bus antarkota belum tentu punya toilet, dan kalau punya, ukurannya sempit dan kadang dikunci. Kereta biasanya punya, tapi bisa penuh, rusak, atau berada di ujung rangkaian yang jauh dari tempat dudukmu. Perhentian di tengah jalan pun tidak selalu ada di jadwal.

Aturan praktisnya, perlakukan setiap toilet yang kamu lewati sebelum perjalanan panjang sebagai kesempatan, bukan kebutuhan.

Toilet terbaik dalam perjalanan bukan yang paling bersih, tapi yang kamu pakai sebelum kamu benar-benar membutuhkannya.

Kebiasaan kecil semacam ini termasuk hal remeh yang dampaknya besar, sama seperti daftar yang dibahas di panduan menjaga kesehatan selama perjalanan panjang Menahan terlalu lama di kursi sempit bukan hanya tidak nyaman, tapi juga tidak sehat.

Kebiasaan setempat yang bisa membuat kamu salah langkah

Tisu yang tidak boleh dibuang ke lubang kloset

Di sebagian negara, saluran pembuangannya berdiameter kecil atau sistemnya sudah tua, sehingga tisu bekas harus dibuang ke tempat sampah bertutup di samping kloset, bukan disiram. Biasanya ada tanda tempel kecil di dinding bilik yang menjelaskan hal ini, dan tanda itu bukan hiasan. Kalau kamu melihat tempat sampah kecil bertutup persis di samping kloset, anggap itu memang tempatnya.

Toilet jongkok yang justru kamu temui di sebagian Asia Timur

Banyak traveler Indonesia mengira toilet jongkok sudah tidak dipakai lagi di negara maju. Kenyataannya, di sebagian Asia Timur toilet jongkok masih umum di stasiun, taman kota, dan gedung lama, bahkan berdampingan dengan bilik duduk yang modern. Kalau ada pilihan, bilik jongkok biasanya justru lebih cepat kosong karena banyak wisatawan menghindarinya. Untuk kamu yang tumbuh dengan toilet jongkok, ini malah keuntungan.

Kebersihan tangan saat sabun tidak tersedia

Tidak semua toilet umum punya sabun, dan yang punya pun kadang kosong. Karena itu pembersih tangan berbahan alkohol dalam kemasan kecil layak masuk tas harian, bukan koper. Pakai setelah menyentuh palang putar, pegangan pintu, dan keran, bukan hanya setelah memakai toilet. Sebagian toilet juga hanya memasang pengering udara tanpa tisu sama sekali, jadi sapu tangan kecil atau kain lap tipis tetap berguna.

Kebersihan tangan adalah pertahanan pertama melawan masalah pencernaan di perjalanan, dan langkah lanjutannya dibahas terpisah di panduan menghadapi perut bermasalah saat liburan Mencegah di depan wastafel jauh lebih murah daripada menghabiskan satu hari di kamar hotel.

Pertimbangan khusus saat bepergian dengan anak atau orang tua

Kalau kamu berangkat bersama anak kecil atau orang tua, urusan toilet berubah dari soal kenyamanan menjadi soal perencanaan rute. Anak kecil sulit menahan, dan orang tua mungkin butuh waktu lebih lama atau butuh pegangan.

  • Catat lokasi toilet di titik yang akan kamu lewati, bukan hanya di tujuan akhir. Aplikasi peta biasanya bisa menampilkannya.
  • Pilih bilik ramah kursi roda atau bilik keluarga kalau tersedia, karena ruangnya lebih luas dan ada pegangan di dinding. Gunakan dengan tenggang rasa.
  • Rencanakan jeda lebih sering di hari dengan banyak jalan kaki. Satu perhentian tambahan lebih baik daripada satu drama di tengah jalan.
  • Pastikan ada satu orang yang menunggu di luar bersama tas dan koper, supaya yang masuk tidak perlu memikirkan barang.

Daftar bawaan kecil yang menyelamatkan

Semua yang dibahas di atas bisa diringkas menjadi satu kantong kecil di tas harian, dan hampir semuanya bisa kamu beli di Indonesia sebelum berangkat.

  1. Botol semprot lipat atau botol plastik kecil untuk diisi di wastafel.
  2. Satu bungkus tisu kering saku dan satu bungkus tisu basah.
  3. Pembersih tangan berbahan alkohol ukuran kecil.
  4. Uang logam pecahan kecil di kantong yang mudah dijangkau.
  5. Sapu tangan atau kain lap tipis yang cepat kering.
  6. Kantong plastik kecil untuk barang basah atau sampah.
  7. Alas duduk sekali pakai kalau kamu bepergian dengan anak.

Kantong itu mungkin terdengar berlebihan saat kamu menyiapkannya di rumah. Kamu akan bersyukur di stasiun asing, saat mesin toilet meminta receh dan bilik di dalamnya hanya berisi gulungan tisu.