Schengen

Itinerary Eropa Tengah: Praha, Wina, dan Budapest Satu Jalur Kereta

Tiga ibu kota berdekatan dalam satu koridor kereta, tanpa perlu mengejar Paris dan Roma di perjalanan Eropa pertamamu. Begini membagi hari dan menyusunnya di formulir Schengen.

Tim Visa Expert GoVisablog.govisa.id
Itinerary Eropa Tengah: Praha, Wina, dan Budapest Satu Jalur Kereta

Foto oleh Dana Sarsenbekova di Unsplash

Perjalanan Eropa pertama tidak wajib dimulai dari Paris. Banyak pemegang paspor Indonesia menyusun rencana pertamanya dengan mengejar nama-nama paling terkenal lebih dulu, lalu pulang dengan badan remuk dan album foto yang separuhnya berisi peron dan ruang tunggu bandara. Ada jalur lain yang jauh lebih ramah tenaga dan tetap terasa sangat Eropa: Praha, Wina, dan Budapest. Tiga ibu kota, tiga negara, satu koridor yang nyaris lurus, tanpa satu pun lompatan besar di antaranya.

Kenapa tiga ibu kota ini masuk akal untuk perjalanan pertama

Alasan utamanya sederhana: ketiganya berdekatan dan terhubung dalam satu koridor kereta yang sudah mapan. Kamu tidak perlu menyelipkan penerbangan domestik Eropa di tengah perjalanan, tidak perlu bangun sebelum subuh demi keberangkatan pagi, dan tidak perlu bolak-balik bandara. Pindah kota di sini rasanya lebih mirip pindah stasiun daripada pindah negara.

Untuk WNI ada keuntungan tambahan. Penerbangan dari Jakarta atau Surabaya ke Eropa Tengah sudah memakan tenaga sendiri karena tidak ada rute langsung dan harus lewat transit. Koridor yang rapat seperti ini menyelamatkan hari-hari pertama sesudahnya: kamu bisa memulihkan diri sambil tetap menikmati kota, bukan sambil mengejar perpindahan jauh berikutnya.

Rute Eropa yang menyebar dari barat ke timur memang menggoda dan sudah dibahas terpisah di panduan menyusun itinerary Eropa 14 hari lintas Schengen, tetapi koridor Eropa Tengah ini adalah versinya yang jauh lebih pendek napasnya.

  • Ketiga kota berdekatan, sehingga perpindahan tidak memakan satu hari penuh
  • Ketiganya ibu kota, jadi akomodasi dan pilihan makan relatif lengkap
  • Ketiganya di wilayah Schengen, jadi tidak ada urusan izin masuk tambahan di tengah jalan
  • Biaya hidup harian di Praha dan Budapest umumnya lebih ringan dibanding ibu kota Eropa Barat, dan itu membantu kalau anggaranmu dihitung dalam rupiah

Karakter tiga kota yang tidak saling menimpa

Kekhawatiran paling wajar soal rute ini adalah rasa mengulang: tiga kota tua di kawasan yang sama, jangan-jangan isinya gereja dan alun-alun yang mirip semua. Kenyataannya tidak begitu, asal kamu tahu apa yang dicari.

Praha

Praha paling terasa seperti kota tua yang utuh. Kawasan intinya padat, berbatu, dan paling enak dijelajahi dengan jalan kaki tanpa rencana ketat. Yang sering terlewat: kawasan di luar pusat wisata lebih tenang dan biasanya lebih murah untuk makan.

Wina

Wina bukan kota tua, melainkan kota kekaisaran. Skalanya besar, jalannya lebar, gedungnya megah dan berjarak. Kekuatannya ada di dalam ruangan: museum, gedung konser, dan kafe yang dirancang untuk didiami berlama-lama. Kalau Praha adalah kota untuk berjalan, Wina adalah kota untuk duduk.

Budapest

Budapest terbelah sungai dan itu mengubah segalanya. Sisi berbukit dan sisi datar punya watak berbeda, dan pemandangan kotanya lebih dramatis. Budapest juga kota pemandian air panas, artinya ada kegiatan bersantai yang tidak kamu temukan di Praha maupun Wina.

Tiga kota ini terasa berbeda bukan karena bangunannya, melainkan karena tempo hidupnya berbeda.

Urutan mana yang lebih enak dijalani

Secara teknis kamu bisa mulai dari mana saja, karena koridornya lurus dan bisa dibalik. Tetapi satu urutan biasanya terasa lebih nyaman: Praha, lalu Wina, lalu Budapest. Alasannya soal energi. Di hari-hari awal kamu masih segar dan tahan berjalan lama, dan Praha menuntut itu. Ketika kaki mulai protes, Wina menawarkan hari-hari yang lebih banyak duduk dan masuk ruangan. Di bagian akhir, Budapest memberi penutup santai lewat pemandian dan pemandangan sungai.

Urutan terbalik juga masuk akal kalau tiket pesawat lebih nyaman mendarat di ujung yang lain. Masuk lewat satu kota dan pulang dari kota di ujung seberang hampir selalu lebih hemat tenaga daripada balik ke kota pertama hanya untuk terbang pulang.

Soal cara memesan, reservasi yang wajib, dan pas terusan yang belum tentu menguntungkan, semuanya sudah dibahas tuntas di panduan naik kereta antar negara di Eropa, jadi tidak perlu diulang di sini.

Membagi hari di antara ketiganya

Kesalahan paling umum bukan kurang hari, melainkan membagi hari secara rata karena terasa adil. Pembagian rata justru membuat satu kota kekurangan dan satu kota kelebihan.

  1. Beri Praha porsi paling besar kalau ini perjalanan Eropa pertamamu, karena kota ini paling banyak menuntut jalan kaki dan paling mudah membuat betah
  2. Beri Wina porsi sedang tetapi jangan terlalu pendek, karena isinya butuh waktu di dalam ruangan, bukan sekadar dilewati
  3. Beri Budapest porsi sedang sampai besar, dan sisipkan satu hari yang sengaja dikosongkan
  4. Jangan menghitung hari perpindahan sebagai hari penuh di kota tujuan
  5. Sisakan satu hari bantalan menjelang penerbangan pulang ke Indonesia

Soal makan, ketiga kota punya pilihan halal yang layak, paling mudah ditemukan lewat restoran Timur Tengah, Turki, dan Asia Selatan. Masakan lokal Eropa Tengah banyak berbasis daging babi, jadi kalau kamu menjaga makanan, rencanakan tempat makan siang dengan sedikit riset.

Musim mana yang paling nyaman untuk pemegang paspor Indonesia

Kamu datang dari negara tanpa musim dingin, jadi selisih suhunya terasa lebih ekstrem. Musim semi dan awal musim gugur biasanya paling ramah: hari masih panjang, kota enak dijelajahi dengan jalan kaki, dan pakaian yang perlu dibeli sebelum berangkat tidak sebanyak musim dingin. Musim panas membuat kota ramai dan antrean memanjang, sedangkan musim dingin menuntut lapisan pakaian yang tidak pernah kamu miliki di rumah.

Menyusun rute ini di formulir Schengen

Rute tiga negara berarti ada satu pertanyaan yang harus dijawab sebelum mengajukan: ke kedutaan negara mana berkasmu dikirim. Jawabannya bukan negara tempat kamu mendarat, melainkan negara tempat kamu menghabiskan hari terbanyak. Baru kalau harinya benar-benar sama, negara tempat kamu pertama kali masuk Schengen yang jadi penentu.

Logika penentuan ini sering membingungkan ketika rutenya terbagi merata, dan penjelasan lengkapnya ada di pembahasan aturan tujuan utama visa Schengen, termasuk apa yang sebaiknya kamu lakukan kalau harinya imbang.

Karena itu pembagian hari tadi bukan sekadar urusan kenyamanan. Pembagian hari adalah dokumen: begitu kamu memutuskan kota mana yang mendapat porsi terbesar, kamu sekaligus memutuskan ke kedutaan mana pengajuanmu masuk. Susun itinerary tertulis dengan urutan tanggal yang jelas, lengkap dengan nama kota, nama penginapan, dan cara berpindah.

  • Pastikan tanggal di itinerary, bukti penginapan, dan tiket pesawat cocok tanpa lubang hari yang tidak dijelaskan
  • Tulis perpindahan antar kota secara eksplisit, jangan biarkan ada hari yang seolah muncul entah dari mana
  • Pastikan paspormu berlaku setidaknya enam bulan dihitung dari tanggal rencana pulang, bukan dari tanggal berangkat
  • Siapkan asuransi perjalanan dengan pertanggungan minimal EUR 30.000 yang berlaku di seluruh wilayah Schengen
  • Ingat aturan 90 hari dalam 180 hari, yang menghitung total hari di seluruh wilayah Schengen, bukan per negara

Perlu ditegaskan, seluruh pembahasan ini untuk perjalanan wisata, bukan untuk bekerja, belajar, atau menetap.

Hal kecil yang bisa bikin repot

  • Tiga negara, tiga mata uang: hanya Austria yang memakai euro, sementara Ceko dan Hungaria punya mata uang sendiri
  • Sistem tiket transportasi dalam kota berbeda di tiap kota, dan mesin tiketnya tidak selalu menerima kartu terbitan Indonesia dengan mulus
  • Stasiun utama di ketiga kota besar dan punya banyak pintu keluar, jadi pastikan kamu tahu sisi mana yang dekat penginapan
  • Koper besar lebih menyusahkan daripada yang kamu kira, karena kawasan tua di Praha dan Budapest penuh jalan berbatu dan tangga

Kalau kamu masih punya sisa hari

Koridor ini punya kelebihan yang jarang dimanfaatkan: ada kota yang letaknya persis di tengah jalur, jadi bisa disisipkan tanpa memutar. Ibu kota Slovakia, misalnya, duduk tepat di antara Wina dan Budapest dan bisa jadi selingan singkat tanpa merusak rencana utama.

Kalau kamu menimbang menambah satu negara lagi ke rute ini, periksa dulu posisinya dalam rencana Schengen-mu lewat penjelasan syarat visa turis Slovakia untuk WNI, terutama kalau tambahan itu mengubah negara mana yang jadi tujuan utamamu.

Kekuatan rute Praha, Wina, dan Budapest bukan pada kemegahan namanya, melainkan pada kenyataan bahwa kamu pulang membawa ingatan tentang kota, bukan tentang perjalanan antar kota. Untuk Eropa pertama, itu penukaran yang sangat layak.