Negara Lainnya

Itinerary Balkan untuk WNI: Albania, Montenegro, dan Bosnia Lewat Darat

Tiga negara Balkan ini bertetangga tetapi berbeda watak: gunung yang jatuh ke laut, kota pasar Ottoman, dan pesisir yang baru terbuka. Begini cara menyambungnya lewat bus dan mobil sewaan.

Tim Visa Expert GoVisablog.govisa.id
Itinerary Balkan untuk WNI: Albania, Montenegro, dan Bosnia Lewat Darat

Foto oleh Shalva Dekanozishvili di Unsplash

Ada sisi Eropa yang belum penuh. Albania, Montenegro, dan Bosnia dan Herzegovina duduk di tepi laut yang sama dengan destinasi Adriatik yang sudah kamu hafal namanya, tetapi ketiganya masih jarang masuk daftar liburan WNI. Padahal jalur daratnya menyambung dari satu negara ke negara berikutnya tanpa harus kembali ke bandara.

Yang menarik bukan daftar landmark-nya. Ketiganya bertetangga tetapi berbeda watak: satu menaruh gunung tepat di bibir laut, satu menyimpan kota pasar bergaya Ottoman di lembah sungai, dan satu lagi baru membuka diri belakangan sehingga jalanannya terasa sepi.

Urusan dokumen masuk punya pembahasannya sendiri di panduan Balkan di luar Schengen, jadi sisa artikel ini bisa kamu baca murni sebagai rencana jalan.

Pesisir Montenegro bukan garis pantai yang lurus

Bayangan orang tentang pantai Eropa biasanya berbentuk pita: promenade panjang, deretan payung, laut terbuka di depannya. Montenegro tidak begitu. Pesisirnya terpotong oleh teluk berkelok yang masuk jauh ke daratan, dengan dinding batu yang naik hampir tegak lurus dari permukaan air. Kamu bisa berdiri di dermaga kota kecil, mendongak, dan melihat garis benteng tua meliuk di lereng tepat di atasmu.

Akibatnya, kamu tidak berpindah antar kota besar melainkan antar kantong kecil yang dipisahkan tikungan pegunungan. Desa nelayan, pulau kecil berkapel, dan kota berbenteng bisa berada dalam satu lengkungan teluk yang sama.

  • Kota tuanya cenderung vertikal, jadi siapkan alas kaki yang nyaman untuk tangga batu dan jalur benteng
  • Pantai berkerikil lebih umum daripada pasir halus, sandal yang solid lebih berguna daripada sandal jepit tipis
  • Jalurnya berkelok, jadi kursi depan di bus atau mobil lebih ramah bagi yang gampang mabuk perjalanan

Kota Ottoman di Bosnia punya denah sendiri

Begitu masuk ke pedalaman Bosnia, arsitekturnya berganti logika. Pusat kota lamanya tidak berpusat pada alun-alun gereja, melainkan pada kawasan pasar bergaya Ottoman: kios kayu rendah, bengkel tembaga yang masih memukul pelat di depan pintu, halaman masjid dengan pancuran di tengahnya, dan kedai yang menyajikan kopi dalam poci tembaga kecil.

Sarajevo memperlihatkannya paling jelas karena gaya bangunan berganti dari kawasan pasar Ottoman ke deretan fasad Austro-Hungaria nyaris di satu ruas jalan. Mostar memberi versi lebih ringkas lewat jembatan batu melengkung di atas sungai hijau kebiruan. Bonusnya bagi traveler Indonesia, rumah makan di sini menyajikan daging tanpa perlu kamu tanya panjang lebar, dan masjidnya masih dipakai sehari-hari.

Kalau Bosnia yang ingin kamu jadikan titik utama, detail persiapannya ada di panduan masuk Bosnia dan Herzegovina.

Albania terasa paling belum ramai, dan itu ada sebabnya

Albania terlambat masuk peta wisata karena selama beberapa dekade negaranya nyaris tertutup. Sisa masa itu masih kelihatan lewat bungker beton kecil yang tersebar di ladang dan pinggir jalan. Efek sampingnya, pesisir selatannya belum terbangun sepadat pesisir Adriatik di seberangnya.

Di pedalaman, dua kota batu bergaya Ottoman dengan rumah beratap sirap memberi suasana yang berbeda lagi dari Bosnia: lebih berundak, lebih mendaki, dengan kastil di puncaknya. Ibu kotanya jadi kejutan tersendiri karena blok apartemen lamanya dicat dengan warna dan pola mencolok.

Albania terasa belum ramai bukan karena tempatnya kurang menarik, melainkan karena wisatawan baru sebentar diizinkan datang.

Konsekuensinya dua arah. Kamu mendapat kota tua yang tidak berdesakan, tetapi juga papan penunjuk yang lebih sedikit dan bahasa Inggris yang tidak merata di luar kota besar. Peta luring di ponsel lebih berguna di sini ketimbang di Eropa Barat.

Menyambung ketiganya lewat bus dan mobil sewaan

Kereta antar negara di kawasan ini tidak bisa diandalkan sebagai tulang punggung rencana. Jaringannya terbatas dan frekuensinya jarang, jadi perjalanan darat di Balkan barat berjalan di atas dua moda: bus jarak jauh dan mobil sewaan.

Bus adalah pilihan bawaan. Terminalnya berfungsi seperti stasiun kereta di negara lain, lengkap dengan papan jadwal dan peron bernomor. Operatornya banyak dan bukan satu perusahaan nasional, jadi satu rute bisa dilayani beberapa nama dengan jadwal yang tidak saling menyambung. Untuk desa gunung dan pantai kecil, kamu akan berpindah ke minibus lokal yang berangkat setelah penumpangnya terkumpul.

  1. Kunci dulu urutan negaranya, karena mengubah arah di tengah jalan lebih merepotkan daripada di kawasan berkereta
  2. Pesan bus lintas negara lebih awal pada musim ramai, terutama keberangkatan pagi yang paling diburu
  3. Sisakan jeda di hari perpindahan, jangan menaruh penerbangan pulang tepat setelah perjalanan bus lintas negara
  4. Kalau menyewa mobil, urus izin lintas negara di loket penyewaan sejak awal

Apa yang terjadi di pos perbatasan darat

Perbatasan darat di sini nyata dan punya cara kerja yang khas. Bus berhenti, penumpang kadang diminta turun membawa paspor, kadang paspor dikumpulkan awak bus lalu dibawa ke loket. Ada dua pemeriksaan berurutan, satu untuk keluar dan satu untuk masuk, dan keduanya bisa terpisah sedikit jarak berkendara. Antrean paling panjang muncul pada akhir pekan di musim ramai.

Dengan mobil sewaan ada lapisan tambahan: petugas dapat menanyakan surat kendaraan dan bukti asuransi yang berlaku lintas negara. Sebagian penyewaan melarang mobilnya dibawa keluar negara tertentu, sebagian mengizinkan asalkan didaftarkan lebih dulu. Mengambil mobil di satu negara dan mengembalikannya di negara lain paling sulit diatur, jadi rute melingkar lebih realistis.

Mekanisme pemeriksaan di perbatasan yang tidak punya bandara dibahas terpisah di panduan perjalanan darat lintas negara, termasuk dokumen yang sebaiknya kamu pegang sendiri.

Musim mana yang masuk akal

Kawasan ini menyimpan dua iklim dalam satu perjalanan. Pesisirnya panas dan kering di puncak musim panas, sementara pedalaman pegunungan Bosnia dan Albania utara jauh lebih sejuk dan bisa bersalju di musim dingin.

  • Puncak musim panas: laut paling ramah untuk berenang, tetapi kota tua pesisir paling padat dan penginapan cepat penuh
  • Musim peralihan sebelum dan sesudah puncak: paling seimbang, pesisir masih hidup sementara kota pedalaman terasa lapang
  • Musim dingin: kota Ottoman paling dramatis di bawah kabut, tetapi jalur gunung bisa ditutup dan jadwal bus ke desa menipis

Kalau kamu berangkat dari Indonesia yang tidak mengenal pergantian musim, musim peralihan adalah taruhan paling aman karena suhunya tidak ekstrem ke arah mana pun.

Kenapa uang tunai masih penting di kota kecil

Di ibu kota dan kota pesisir besar, kartu diterima seperti di Eropa pada umumnya. Begitu kamu bergeser ke desa gunung, pantai kecil, atau kios pasar, situasinya berbalik. Warung kopi, penjual kerajinan tangan, sopir minibus, dan penginapan keluarga kerap hanya menerima tunai, dan mesin kartunya bergantung pada sinyal yang naik turun.

Lapisan tambahan yang mudah terlupakan: ketiga negara ini tidak memakai alat pembayaran yang sama, dan uang dari satu negara umumnya tidak berlaku di tetangganya meski perbatasannya dekat. Tarik secukupnya per negara, habiskan sisanya sebelum menyeberang, dan simpan cadangan untuk loket terminal bus.

Menyusun urutan yang tidak melelahkan

Cara paling nyaman adalah mengikuti garis pantai lebih dulu, lalu berbelok ke pedalaman satu kali, bukan bolak-balik antara laut dan gunung. Masuk dari salah satu ujung pesisir, susuri Adriatik ke satu arah, lalu potong ke dalam menuju kota Ottoman sebelum kembali ke titik keberangkatan.

Banyak penerbangan dari Indonesia mendarat lebih dulu di pesisir Kroasia sebelum lanjut ke selatan, dan kalau rutemu menyentuh negara itu, syaratnya berbeda seperti diuraikan di panduan Kroasia untuk WNI.

Satu hal yang jarang ditulis panduan wisata: kawasan ini paling menyenangkan kalau kamu tidak menjejalkan terlalu banyak kota. Nilainya ada pada sore yang tidak diisi apa-apa di kedai kopi kota kecil, saat kamu sadar tidak ada antrean dan tidak ada rombongan yang mengekor pemandu berbendera kecil. Bagian itulah yang hilang lebih dulu begitu kawasan ini benar-benar ramai.