Tips Liburan

Lalu Lintas Terbalik di Luar Negeri: Panduan Menyeberang untuk WNI

Refleks menoleh ke kanan yang kamu bawa dari Indonesia bisa menyesatkan begitu arah lalu lintas di negara tujuan berbeda. Ini cara memastikannya sebelum berangkat dan melatih ulang kakimu di hari pertama.

Tim Visa Expert GoVisablog.govisa.id
Lalu Lintas Terbalik di Luar Negeri: Panduan Menyeberang untuk WNI

Foto oleh Kai Pilger di Unsplash

Refleks menyeberang jalan dibentuk sejak kamu masih dituntun tangan orang tua. Menoleh ke kanan dulu, lalu ke kiri, lalu melangkah. Di Indonesia gerakan itu benar karena kendaraan yang paling dekat dengan badanmu memang datang dari kanan. Begitu kamu mendarat di negara yang arah lalu lintasnya kebalikan, refleks yang sama tetap jalan tanpa izin, dan bahaya justru datang dari sisi yang tidak kamu lihat. Ini salah satu hal paling sepele sekaligus paling sering bikin wisatawan Indonesia kaget di hari pertama.

Artikel ini tidak membahas cara mengemudi. Fokusnya satu: apa yang terjadi pada kaki dan matamu sebagai pejalan kaki.

Kenapa kaki bergerak lebih cepat daripada kepala

Menyeberang jalan hampir tidak melibatkan pikiran sadar. Kamu tidak benar-benar menghitung jarak kendaraan; kamu membaca pola yang sudah ribuan kali kamu lihat sejak kecil. Karena itu, sekadar tahu bahwa suatu negara memakai arah lalu lintas yang berbeda tidak otomatis melindungi kamu. Pengetahuan itu ada di kepala, sementara yang melangkah duluan adalah kaki.

Situasi paling rawan bukan jalan besar yang jelas ramai, melainkan jalan kecil yang sepi, persimpangan yang kelihatan tidak berbahaya, atau saat kamu keluar dari toko sambil menunduk ke ponsel. Di sana kamu tidak sempat mengaktifkan mode waspada, dan refleks lama yang mengambil alih.

Ada satu perbedaan yang sering tertukar. Arah lalu lintas menentukan dari sisi mana kendaraan pertama menghampiri badanmu, sedangkan refleks menoleh menentukan sisi mana yang kamu periksa lebih dulu. Ketika keduanya tidak cocok, kamu tetap menoleh dengan yakin, tetap merasa sudah memeriksa, lalu melangkah ke jalur yang justru belum kamu lihat. Rasa aman palsu itulah yang berbahaya, bukan ketidaktahuannya.

Cara memastikan arah lalu lintas sebelum kamu berangkat

Jangan menebak berdasarkan benua, bekas penjajah, atau ingatan dari film. Peta di kepala sering keliru dan taruhannya terlalu besar. Yang kamu butuhkan bukan hafalan daftar negara, melainkan kebiasaan memeriksa yang berlaku untuk tujuan mana pun.

  1. Buka panduan resmi keselamatan perjalanan dari otoritas negara tujuan atau dari situs pariwisata resminya, lalu cari bagian tentang pejalan kaki.
  2. Lihat foto jalanan kota tujuan lewat peta daring mode jalan, perhatikan posisi setir mobil dan arah kendaraan pada satu jalur.
  3. Perhatikan video perjalanan yang memotret trotoar, bukan yang memotret pemandangan, supaya kamu melihat bagaimana orang lokal berdiri di tepi jalan.
  4. Saat mendarat, luangkan beberapa menit berdiri di dekat penyeberangan sebelum mencoba menyeberang sendiri, dan tiru cara orang setempat menoleh.

Kalau perjalananmu memang mengikutkan rencana menyetir, urusan izinnya dibahas terpisah di panduan SIM internasional, sementara halaman ini tetap bicara soal kamu yang berjalan kaki.

Perangkat penyeberangan yang bentuknya tidak seragam

Hal kedua yang bikin kaget adalah alat bantunya sendiri. Kamu terbiasa dengan satu bentuk garis penyeberangan, satu bentuk lampu, satu kebiasaan klakson. Di negara lain, ketiganya bisa berbeda dan artinya pun bergeser.

Tombol yang harus ditekan

Di banyak kota, lampu pejalan kaki tidak berubah hijau dengan sendirinya. Ada tombol di tiang yang wajib ditekan, dan kalau kamu hanya berdiri menunggu, lampunya tidak akan pernah berganti. Kadang tombolnya kecil, warnanya menyatu dengan tiang, atau letaknya di sisi yang tidak kamu hadapi.

Bunyi, getaran, dan hitungan mundur

Sebagian penyeberangan mengeluarkan bunyi berpola atau getaran pada tombolnya untuk membantu penyandang tunanetra. Bunyi itu bukan tanda bahaya. Sebaliknya, hitungan mundur di layar sering disalahartikan sebagai sisa waktu untuk mulai melangkah, padahal maksudnya sisa waktu untuk menyelesaikan penyeberangan bagi yang sudah berada di tengah jalan.

Kebiasaan lokal yang mengubah arti lampu hijau

Lampu hijau tidak berarti sama di semua tempat. Di sebagian kota, kendaraan tetap boleh berbelok memotong jalur penyeberangan meski lampu pejalan kaki sedang hijau, dan pengemudi mengharapkan kamu tetap melihat. Di kota lain, menyeberang sedikit saja di luar garis dianggap pelanggaran dan bisa ditegur petugas.

  • Ada tempat yang sangat patuh, warga menunggu lampu meski jalan kosong total, dan kamu akan terlihat mencolok kalau nekat menerobos.
  • Ada tempat yang cair, orang menyeberang di mana saja, tetapi pengemudi sudah terbiasa mengantisipasi sehingga polanya tetap punya aturan tak tertulis.
  • Ada tempat yang jalurnya dibagi dengan sepeda dan skuter listrik yang nyaris tanpa suara, dan inilah yang paling sering luput dari telinga wisatawan.
  • Ada tempat dengan trem atau kereta jalanan yang berjalan di tengah badan jalan dan tidak bisa mengelak sedikit pun.

Sebelum berangkat, pasang peta luring dan aplikasi setempat seperti yang dibahas di daftar aplikasi berguna saat traveling, supaya kamu tidak berjalan sambil menunduk menebak arah di tepi jalan asing.

Titik rawan yang tidak terlihat seperti titik rawan

Kalau kamu hanya mengingat satu bagian dari artikel ini, ingat yang ini. Kesalahan pejalan kaki jarang terjadi di tengah jalan raya yang lebar, melainkan saat turun dari kendaraan, saat keluar dari pintu, dan saat menyeberang jalan kecil sambil membawa barang.

Bahaya terbesar bukan jalan yang ramai, melainkan jalan sepi yang membuat kamu lupa sedang berada di negara orang.

Turun dari bus atau taksi adalah momen khas. Kamu membuka pintu ke sisi yang di Indonesia menghadap trotoar, tetapi di sana justru menghadap jalur kendaraan. Begitu juga saat keluar dari gang ke jalan utama: kamu menoleh ke arah yang salah, tidak melihat apa pun, lalu melangkah.

Menyeberang saat membawa rombongan atau barang

Perjalanan keluarga menambah satu lapisan risiko. Anak kecil menyeberang mengikuti orang dewasa tanpa menoleh sama sekali, dan orang tua yang jalannya lebih lambat butuh jeda lampu lebih panjang daripada yang disediakan. Koper beroda pun menahan pandangan ke bawah.

  • Sepakati satu orang sebagai pemimpin penyeberangan, dan yang lain menyeberang sebagai satu blok, bukan satu per satu.
  • Pegang tangan anak di sisi yang jauh dari jalur kendaraan, bukan sekadar di sisi mana pun yang kebetulan kosong.
  • Jangan mulai menyeberang kalau hitungan mundur sudah berjalan dan rombonganmu belum berkumpul di tepi.
  • Kalau menarik koper, angkat pandangan dulu sepenuhnya sebelum roda menyentuh badan jalan.

Hari kedatangan biasanya jadi hari paling berantakan karena kamu masih membawa semua bawaan, dan pola amannya dibahas di panduan transportasi umum dan kartu transit, termasuk kebiasaan memilih pintu keluar yang benar.

Kalau sampai terjadi sesuatu

Cedera pejalan kaki di luar negeri bukan urusan kecil, karena penanganan medis di sana tidak mengenal kartu jaminan kesehatan yang kamu punya di Indonesia. Tanpa proteksi, terkilir saat menghindar pun bisa mengacaukan sisa liburan dan anggaranmu.

Yang perlu kamu siapkan adalah mekanismenya, bukan sekadar niat berhati-hati: tahu nomor darurat setempat, tahu cara menghubungi penyedia proteksi perjalanan, dan menyimpan bukti sejak kejadian pertama.

Cakupan yang relevan dan kapan proteksi itu wajib atau sekadar disarankan bisa kamu telusuri di ulasan asuransi perjalanan di luar Schengen, dan sebaiknya diurus jauh sebelum tanggal keberangkatan.

Latihan kecil di hari pertama

Cara paling efektif mengalahkan refleks lama bukan menghafal teori, melainkan memberi tubuhmu pengalaman baru sesegera mungkin. Begitu keluar dari penginapan, sengaja berdiri di satu penyeberangan ramai dan amati beberapa siklus lampu sebelum ikut menyeberang.

  1. Berdiri agak mundur dari tepi trotoar, jangan menempel di garis, supaya kendaraan yang berbelok punya ruang.
  2. Perhatikan ke arah mana orang lokal menoleh lebih dulu, lalu tiru gerakan itu secara sadar sampai terasa wajar.
  3. Menyeberanglah membuntuti kelompok orang lokal untuk penyeberangan pertama dan kedua, bukan sendirian.
  4. Setelah itu, biasakan menoleh dua arah penuh setiap kali, bahkan di jalan yang kelihatan kosong.

Kebiasaan itu terdengar berlebihan, tetapi justru itu yang menutup celah refleks. Kamu tidak perlu menghafal negara mana memakai arah yang mana; cukup berhenti memercayai tebakan otomatis kakimu selama beberapa hari pertama.

Hal kecil ini pantas masuk daftar persiapan sejajar dengan paspor dan visa. Paspor mengurus apakah kamu boleh masuk, tetapi kebiasaan menyeberang mengurus apakah liburanmu berjalan utuh sampai hari terakhir. Keduanya sama-sama disiapkan dari rumah, jauh sebelum kamu berdiri di tepi trotoar asing.