Oman untuk WNI: Alternatif Dubai dengan Gurun, Wadi, dan Kota Tua
Kalau liburanmu maunya lembah berair, bukit pasir, dan kota tua yang sepi alih-alih mal dan gedung tinggi, Oman menjawabnya dengan cara sendiri. Ini gambaran isi perjalanannya, dari Muscat sampai Wahiba Sands.

Foto oleh Anfal Shamsudeen di Unsplash
Dubai adalah pintu masuk paling familier ke jazirah Arab buat orang Indonesia. Penerbangannya banyak dan fotonya sudah kamu lihat berulang kali di linimasa. Tapi kalau yang kamu cari justru kebalikannya, yaitu jalan sepi di sela tebing, kolam air tawar di dasar lembah, dan kota tua yang belum dipoles jadi latar konten, tetangganya di sebelah tenggara menyimpan semua itu. Namanya Oman, dan ia bukan sekadar pelarian dari keramaian, melainkan destinasi yang berdiri sendiri.
Oman menempati ujung tenggara jazirah Arab, memanjang dari pegunungan batu di utara sampai pesisir yang menghadap Samudra Hindia di selatan. Buat wisatawan Muslim Indonesia, daya tariknya bukan cuma kemudahan soal makanan dan tempat salat, tetapi bentuk liburannya yang lebih mirip perjalanan darat ketimbang belanja.
Kenapa Oman terasa berbeda sejak jam pertama
Begitu keluar dari bandara Muscat, hal pertama yang terasa adalah tidak adanya perlombaan ketinggian. Bangunan didominasi warna putih dan krem dengan tinggi yang seragam, kubah dan lengkungan muncul di mana-mana, dan kota melebar mengikuti garis pantai serta punggungan bukit batu alih-alih menumpuk ke atas. Ritme inilah yang bikin banyak orang menyebut Oman sebagai bagian jazirah Arab yang belum terburu-buru.
Soal izin masuknya tidak perlu diulang di sini karena sudah ada panduan e-visa Oman untuk WNI yang mengupas alur daringnya. Fokus artikel ini ada pada isi perjalanannya.
Muscat, ibu kota yang menyimpan pasar alih-alih mal
Muscat bukan kota yang dirancang untuk dilihat dari puncak menara. Ia dinikmati sambil berjalan kaki di Mutrah Corniche pada sore hari, saat perahu kayu bergoyang di pelabuhan dan lampu mulai menyala di kaki bukit. Di seberang jalan ada Souq Mutrah, pasar tertutup dengan lorong sempit yang wangi dupa, tempat pedagang menjual perak, kain, kurma, dan kemenyan.
Sisi lainnya berisi istana bertiang biru dan emas yang diapit dua benteng tua di atas batu karang, museum, gedung opera, serta masjid besar yang membuka sebagian areanya untuk pengunjung di luar waktu salat. Semuanya berdekatan, jadi satu hari penuh sudah cukup sebelum kamu bergerak ke pedalaman.
- Sore di Mutrah Corniche, lalu menyusuri lorong souq sampai gelap
- Pagi di kawasan Muscat lama, dengan benteng dan istana sebagai latar
- Satu malam terakhir di Muscat, biar tidak buru-buru saat pulang
Wadi, tanda tangan alam yang bikin orang jatuh hati
Wadi adalah lembah atau alur sungai yang umumnya hanya berair pada musim tertentu, meski sebagian wadi di Oman berair sepanjang tahun berkat mata air di celah batu. Hasilnya pemandangan yang sulit dipercaya, yaitu kolam hijau kebiruan di dasar ngarai gersang, dikelilingi pohon kurma dan dinding batu yang menjulang.
Wadi Bani Khalid termasuk yang paling ramah untuk rombongan keluarga karena kolam utamanya dekat dari area parkir. Wadi Shab sebaliknya, menuntut penyeberangan perahu kecil, jalan kaki di jalur batu, lalu berenang menembus celah sempit menuju air terjun tersembunyi. Di dekatnya, Wadi Tiwi menyelipkan jalan sempit di antara kebun kurma bertingkat.
Bawalah alas kaki yang boleh basah, tas kedap air, dan pakaian yang tetap sopan saat berenang, karena wadi adalah ruang publik yang juga dipakai warga sekitar.
Satu hal yang tidak boleh diremehkan, wadi bisa berubah berbahaya setelah hujan di pegunungan meski langit di tempatmu cerah. Kalau air mulai keruh dan naik, batalkan rencananya.
Gurun Wahiba dan malam yang benar-benar gelap
Gurun di Oman bukan atraksi sore yang selesai sebelum makan malam. Wahiba Sands adalah hamparan bukit pasir oranye kemerahan yang paling enak dinikmati dengan menginap semalam di kemah gurun. Perjalanan masuknya biasanya memakai kendaraan gardan ganda dengan tekanan ban diturunkan, dibawa sopir lokal yang hafal jalur aman.
Yang membuat malam di sana berkesan bukan cuma pasirnya. Begitu lampu kemah diredupkan, langit terbuka penuh karena nyaris tidak ada polusi cahaya, dan suara yang tersisa tinggal angin. Sore harinya kamu bisa naik ke punggung bukit pasir menonton matahari turun, atau duduk menikmati kahwa dan kurma suguhan tuan rumah.
Nizwa, benteng, dan pedalaman yang masih dipakai orang
Nizwa pernah menjadi pusat kekuasaan di pedalaman, dan bentengnya dengan menara bundar raksasa masih berdiri sebagai penanda kota. Di sebelahnya ada souq yang menjual kurma, tembikar, dan perak, ditambah pasar ternak yang ramai pada pagi akhir pekan. Suasananya bukan museum, melainkan kota yang memang masih hidup.
Dari Nizwa, jalan menanjak membawamu ke Jebel Akhdar dengan teras kebun yang ditanami delima dan mawar, lalu ke Jebel Shams yang terkenal karena ngarai dalam di tepinya. Di dekat situ ada desa berdinding lumpur seperti Misfat al Abriyeen, tempat saluran air tradisional masih mengalirkan air ke kebun kurma. Inilah bagian Oman yang paling sulit ditiru kota mana pun.
Menyetir sendiri biasanya jalan paling masuk akal
Titik-titik menarik di Oman berjauhan dan angkutan umum antarkota terbatas, jadi perjalanan darat dengan mobil sewaan adalah bentuk yang paling umum. Jalan utamanya mulus, rambu memakai dua bahasa, dan lalu lintas di luar Muscat relatif lengang. Untuk rute beraspal, mobil biasa cukup. Tapi begitu rencananya masuk gurun atau wadi tertentu, kamu butuh gardan ganda dan sopir yang sudah terbiasa, bukan sekadar niat nekat.
- Mulai dan akhiri di Muscat karena penerbangan dari Indonesia umumnya mendarat di sana
- Naik ke arah Nizwa dan pegunungan untuk benteng, desa lumpur, dan udara yang lebih sejuk
- Turun ke Wahiba Sands untuk satu malam di kemah gurun
- Lanjut ke wadi di sisi timur, lalu bermalam di kota pesisir Sur
- Kembali ke Muscat lewat jalan pantai, sisakan satu hari kosong sebagai penyangga
Sebelum memesan kendaraan, baca dulu soal deposit, asuransi, dan hal teknis lain di panduan menyewa mobil di luar negeri supaya tidak kaget saat berhadapan dengan konter.
Hal praktis buat wisatawan Indonesia
- Urusan makanan relatif ringan, dan rumah makan India atau Pakistan yang tersebar sampai kota kecil sering jadi penyelamat di tengah perjalanan panjang
- Musim panas di Oman sangat terik dan tidak ramah untuk rencana jalan kaki, sementara bulan yang lebih sejuk jauh lebih nyaman untuk trek wadi dan gurun
- Wilayah Dhofar di selatan punya musim kabut dan hijau yang khas, dengan waktu berbeda dari bagian utara
- Pakaian sopan dengan bahu dan lutut tertutup membuat perjalanan lebih nyaman, termasuk saat berenang di wadi
- Siapkan uang tunai karena warung kecil, pemandu wadi, dan kemah gurun tidak selalu menerima kartu
- Isi bahan bakar setiap ada kesempatan, jangan menunggu jarum mendekati kosong
Untuk peta luring, penerjemah, dan aplikasi transportasi yang berguna di kawasan ini, ada daftar terpisah di aplikasi yang perlu disiapkan sebelum ke Timur Tengah yang sebaiknya kamu pasang sejak dari rumah.
Jadi, Oman atau Dubai?
Pilihannya soal jenis liburan, bukan soal mana yang lebih bagus. Kalau yang kamu inginkan adalah belanja, taman hiburan, hotel berfasilitas lengkap, dan transit yang nyaris tanpa drama, kota tetangga itu memang unggul. Tapi kalau pulang dari liburan kamu justru ingin membawa ingatan tentang lembah, pasir, dan kota tua yang sepi, Oman memberi sesuatu yang tidak bisa digantikan deretan gedung tinggi.
Keduanya juga tidak harus dipilih salah satu, karena rutenya berdekatan dan sebagian orang menggabungkannya dalam satu perjalanan dengan menambahkan visa turis Dubai dan Uni Emirat Arab untuk WNI di sisi lain rencana.
Satu hal yang tetap perlu dicek sebelum semuanya. Pastikan paspormu masih berlaku minimal enam bulan dihitung dari tanggal rencana pulang, bukan dari tanggal berangkat, dan siapkan bukti tiket serta akomodasi sebagaimana lazimnya perjalanan wisata. Artikel ini membahas kunjungan wisata saja, bukan izin kerja atau menetap, yang aturannya berbeda sama sekali.
Kalau kamu mulai bosan dengan liburan yang isinya antre dan berfoto di tempat yang sama dengan semua orang, Oman layak masuk daftar berikutnya. Ia menuntut perencanaan lebih, tetapi membalasnya dengan pemandangan yang terasa seperti milikmu sendiri.