Asia

Itinerary Arab Saudi untuk WNI: AlUla, Jeddah, dan Riyadh di Luar Ibadah

Arab Saudi punya sisi yang jarang dibayangkan WNI: tebing batu pasir AlUla, kota tua berkarang di Jeddah, dan Riyadh yang berubah cepat. Ini cara menyusun urutan hari, memilih musim, dan berkemas untuk rute wisatanya.

Tim Visa Expert GoVisablog.govisa.id
Itinerary Arab Saudi untuk WNI: AlUla, Jeddah, dan Riyadh di Luar Ibadah

Foto oleh Abdulrhman Alkhnaifer di Unsplash

Arab Saudi hampir selalu muncul di kepala WNI sebagai tujuan ibadah. Padahal di luar konteks itu ada negara seluas gurun dan pegunungan yang baru beberapa tahun terakhir membuka pintu untuk wisatawan biasa: tebing batu pasir yang dipahat angin di AlUla, kota tua berkarang di tepi Laut Merah di Jeddah, dan Riyadh yang sedang membangun dirinya ulang dengan kecepatan yang bikin bingung.

Artikel ini sengaja tidak menyentuh umrah maupun haji, termasuk tata caranya, karena keduanya punya jalur, musim, dan persiapan yang sepenuhnya berbeda. Yang dibahas di sini murni Arab Saudi sebagai destinasi lanskap dan kota untuk kamu yang berangkat dari Indonesia dengan niat jalan-jalan biasa.

Kenapa Arab Saudi jarang masuk daftar liburan

Sebagian besar wisatawan Indonesia belum pernah membayangkan Arab Saudi sebagai pilihan liburan karena memang belum lama negaranya menerima kunjungan wisata umum. Akibatnya referensi berbahasa Indonesia masih tipis dan bayangan orang berhenti di gurun panas tanpa apa-apa, padahal lanskapnya jauh lebih beragam daripada itu.

Soal izin masuknya sudah dibahas terpisah, jadi kalau kamu belum tahu jalur mana yang berlaku untuk paspor Indonesia, baca dulu panduan visa turis Arab Saudi untuk WNI supaya urusan dokumen tidak menghambat rencana rutemu.

Satu hal yang sering salah dihitung: paspormu harus berlaku minimal enam bulan dihitung dari tanggal rencana pulang, bukan dari tanggal berangkat. Patokan tanggal berangkat bisa membuatmu merasa aman padahal tidak.

AlUla dan lanskap batu yang dipahat waktu

AlUla adalah alasan utama kenapa rute ini layak disusun. Ini kawasan lembah di barat laut negeri itu yang dipenuhi formasi batu pasir raksasa, sebagian berdiri sendiri di tengah hamparan datar seperti patung yang ditinggalkan. Cahaya sore membuat warnanya bergeser dari oker ke merah bata, dan malamnya langit di sana termasuk yang paling bersih dari polusi cahaya.

Hegra dan jejak Nabatea

Di AlUla ada Hegra, kompleks makam batu yang dipahat langsung ke tebing oleh peradaban Nabatea, peradaban yang sama yang meninggalkan Petra. Fasadnya berdiri terpisah-pisah di tengah padang terbuka, bukan berdempetan di dalam ngarai sempit, sehingga kesan ruangnya sangat berbeda. Kunjungan ke area utamanya diatur lewat tur berpemandu berjadwal, jadi pesan slotnya jauh hari kalau kamu datang saat musim ramai.

Kalau nama Nabatea terdengar familiar dan kamu ingin membandingkan dua warisannya, rute Yordania lewat Petra dan Wadi Rum bisa dibaca berdampingan dengan rencana ini.

  • Formasi batu tunggal raksasa yang jadi ikon kawasan ini, paling enak didatangi menjelang matahari terbenam
  • Kota tua AlUla dengan rumah bata lumpur yang sebagian sudah dipugar dan diisi kafe serta toko kerajinan
  • Lembah oasis berisi kebun kurma yang bisa dilewati dengan sepeda atau jalan kaki santai
  • Jalur berkendara keluar kota untuk melihat formasi batu yang berdiri sendirian di tengah dataran

AlUla bukan tempat yang cocok dikejar dalam sehari. Titik-titik menariknya berjauhan dan hanya bisa ditempuh dengan kendaraan, jadi menginap beberapa malam adalah beda antara sekadar lewat dan benar-benar melihat.

Jeddah dan kota tua di tepi Laut Merah

Jeddah punya karakter yang sama sekali lain. Ini kota pelabuhan yang sudah lama menjadi pintu masuk dari laut, dan warisannya terlihat di Al-Balad, kawasan kota tua dengan bangunan tinggi bertingkat yang dindingnya dibangun dari batu karang dan dihiasi jendela kayu berukir. Banyak bangunan masih dalam pemugaran, sebagian sudah dibuka sebagai galeri atau tempat makan.

Sisi tepi lautnya panjang dan ramai dipakai warga setempat untuk duduk-duduk sore, suasana yang lebih santai daripada bayanganmu sebelum datang. Soal makanan, kamu praktis tidak perlu memikirkan kehalalan sama sekali di sini, kemewahan kecil yang tidak kamu dapat di kebanyakan destinasi lain.

Jeddah memberi konteks manusia untuk lanskap yang kamu lihat di AlUla, dan tanpa itu perjalanannya terasa hanya soal batu.

Riyadh dan kota yang berubah cepat

Riyadh adalah ibu kota sekaligus pusat bisnis, kota lebar dan modern yang dibangun untuk mobil. Bagi wisatawan, nilainya ada di dua kutub yang berjauhan. Di satu sisi ada Diriyah, kawasan bata lumpur bersejarah di pinggiran kota yang sedang dipugar besar-besaran dan paling enak dijelajahi saat sore. Di sisi lain ada museum nasional, distrik seni, dan menara pencakar langit berdek pandang.

Di luar kotanya ada tebing panjang yang ujungnya menggantung ke dataran luas, populer sebagai perjalanan setengah hari dengan kendaraan gardan ganda. Rutenya perlu diatur lewat operator karena jalannya tidak beraspal sampai ujung.

Menyusun urutan hari yang masuk akal

Ketiga kota ini tidak berdekatan, jadi urutan menentukan apakah rutemu mengalir atau malah bolak-balik percuma. Pola yang paling jarang menyiksa biasanya seperti ini.

  1. Mendarat di Jeddah, pakai hari pertama untuk memulihkan badan dan berjalan santai di kota tua menjelang sore
  2. Terbang domestik ke AlUla dan menginap beberapa malam untuk lanskap, Hegra, dan langit malamnya
  3. Lanjut ke Riyadh untuk sisi kota, kawasan bersejarah di pinggirannya, dan satu perjalanan keluar kota
  4. Pulang dari Riyadh atau kembali ke Jeddah, tergantung mana yang tiketnya lebih masuk akal

Karena hampir semua penerbangan dari Indonesia ke sana melewati transit, ada baiknya kamu membaca cara memilih bandara keberangkatan dan hub transit sebelum mengunci tiket, apalagi kalau kamu berangkat dari luar Jakarta.

Penerbangan domestik antar kota di sana cukup sering dan jauh lebih waras daripada jalur darat yang sangat panjang. Sisakan jeda longgar antara penerbangan domestik terakhir dan penerbangan internasional pulangmu, apalagi kalau kedua tiket dibeli terpisah.

Musim, cuaca, dan cara berkemas

Kunci artikel ini ada pada frasa di luar musim ibadah, dan itu bukan cuma soal keramaian. Bulan-bulan dengan matahari paling terik membuat kegiatan luar ruang di AlUla dan Riyadh nyaris mustahil dinikmati di siang hari. Bulan yang lebih sejuk jauh lebih ramah untuk jalan kaki, tapi malam di kawasan gurun bisa turun jauh lebih dingin daripada yang diduga orang Indonesia.

  • Lapisan luar yang benar-benar menahan angin untuk malam di gurun, bukan sekadar jaket tipis
  • Pakaian lengan panjang berbahan ringan, lebih nyaman di bawah matahari daripada kaus pendek
  • Alas kaki tertutup yang nyaman untuk permukaan berbatu dan berpasir
  • Botol minum isi ulang, karena kamu akan minum jauh lebih banyak daripada di rumah
  • Pelindung matahari untuk kepala dan kulit, termasuk saat hari terasa berangin dan menipu

Selisih suhu siang dan malam yang lebar ini persis masalah yang dibahas di panduan berkemas untuk perjalanan multi-iklim, dan trik melapis pakaian di sana berlaku penuh untuk rute ini.

Hal praktis yang sering terlewat

Kebiasaan jalan-jalan yang biasa dipakai WNI di Asia Tenggara tidak otomatis berlaku di sini, dan lebih baik disadari sejak menyusun rencana.

  • Perpindahan antar titik hampir selalu berarti mobil, entah sewa dengan sopir atau aplikasi pemesanan kendaraan
  • Jarak antar tempat menarik di dalam satu kota sering lebih lebar daripada kelihatannya di peta
  • Ritme harian setempat menggeser jam buka banyak tempat, dengan sore dan malam sebagai waktu paling hidup
  • Beberapa atraksi utama memakai tiket berwaktu yang harus dipesan lebih dulu secara daring
  • Berpakaian sopan dan tertutup tetap norma di ruang publik, meski aturannya kini lebih longgar bagi pengunjung

Kartu diterima luas di kota besar, tapi menyimpan sedikit uang tunai tetap berguna untuk pasar kecil dan pedagang di kawasan kota tua. Pastikan juga kartumu sudah diaktifkan untuk transaksi luar negeri sebelum berangkat, dan simpan cadangan pembayaran kedua supaya kamu tidak bergantung pada satu kartu saja.

Untuk siapa rute ini cocok

Rute ini paling memuaskan buat kamu yang senang lanskap terbuka, arsitektur tanah liat, dan sejarah yang belum diramaikan turis. Kalau harapanmu hiburan malam, pantai ramai, atau belanja murah, ekspektasinya perlu disetel ulang. Tapi kalau kamu ingin berdiri di depan makam batu berumur ribuan tahun tanpa antre panjang, lalu tidur di bawah langit yang benar-benar gelap, Arab Saudi di luar musim ibadah menawarkan cerita yang belum banyak dimiliki pemegang paspor Indonesia.