Asia

Korea Kota Warisan: Rute Jeonju, Gyeongju, dan Andong dari Seoul

Kalau Seoul sudah terasa hafal, tiga kota warisan ini menawarkan Korea yang lebih pelan dan masih bisa dicapai dalam sehari perjalanan. Lengkap dengan cara menyisipkannya ke rencana perjalanan dan catatan jujur soal menginap di rumah hanok.

Tim Visa Expert GoVisablog.govisa.id
Korea Kota Warisan: Rute Jeonju, Gyeongju, dan Andong dari Seoul

Foto oleh Andy Wang di Unsplash

Seoul itu kota yang mudah dicintai, tapi juga mudah membuat bosan. Kalau ini bukan kunjungan pertamamu ke Korea Selatan, atau kamu sudah hafal peta subway antara Myeongdong, Hongdae, dan Gyeongbokgung, ada versi Korea lain yang menunggu beberapa jam dari stasiun pusat. Jeonju, Gyeongju, dan Andong menyimpan Korea sebelum menara kaca: rumah kayu beratap genting, kuil di lereng bukit, gundukan makam raja di tengah kota, dan dapur yang resepnya tidak berubah berabad-abad.

Kabar baiknya, ketiganya bisa dijangkau dari Seoul dalam sehari perjalanan, bukan ekspedisi. Kabar kurang baiknya, banyak wisatawan Indonesia menaruhnya di rencana sebagai tempelan pulang pergi sehari, lalu kembali ke Seoul kelelahan tanpa sempat merasakan apa pun. Tulisan ini membahas cara memasukkannya ke rute yang masuk akal, plus catatan soal menginap di rumah tradisional.

Kenapa tiga kota ini, bukan yang lain

Korea punya banyak kota kecil yang cantik, tapi tiga nama ini punya karakter yang berbeda satu sama lain sehingga tidak terasa mengulang. Kalau kamu hanya sempat memilih satu, perbedaannya penting.

  • Jeonju adalah kota kuliner dengan kampung hanok yang masih dihuni, bukan museum terbuka. Ini kota asal bibimbap versi paling terkenal.
  • Gyeongju adalah bekas ibu kota kerajaan kuno. Gundukan makam raja berdiri di tengah permukiman, kuil Bulguksa dan gua Seokguram ada di lereng bukit, dan observatorium batu Cheomseongdae berdiri di lapangan rumput terbuka.
  • Andong adalah kota adat konfusian yang paling terasa desa. Desa Hahoe dengan rumah beratap jerami dan genting, tarian topeng, serta masakan berbumbu kuat khas daerah pedalaman.

Jeonju paling ramah untuk kunjungan singkat karena semuanya berdekatan dan bisa dijalani dengan kaki. Gyeongju paling menuntut karena situsnya tersebar sehingga butuh bus lokal atau sepeda. Andong paling butuh niat, karena desa utamanya berada di luar pusat kota.

Kalau kamu belum pernah menyusun rangka besar perjalanan Korea, mulailah dari kerangka standarnya dulu lewat itinerary Korea Selatan tujuh hari, baru sisipkan kota warisan ini ke celah yang tersedia.

Cara menempatkannya di jadwal tanpa merusak rute

Kesalahan paling umum adalah memperlakukan ketiganya sebagai perjalanan sehari terpisah dari Seoul. Setiap kali kamu kembali ke Seoul untuk tidur, waktu perjalanan terpakai dua kali lipat dan kamu kehilangan bagian terbaik kota warisan, yaitu sore dan pagi hari saat rombongan turis harian sudah pergi.

Cara yang lebih waras adalah memilih satu atau dua kota, menginap semalam di sana, lalu lanjut ke selatan atau balik ke Seoul dari sana. Jaringan kereta cepat Korea membentang dari utara ke selatan dan sebagian besar kota warisan ini berada di jalur atau cabang dekatnya, jadi kamu bisa membuat rute satu arah alih-alih bolak-balik.

  1. Tentukan berapa malam kamu rela keluar dari Seoul. Satu malam cukup untuk satu kota, dua malam nyaman untuk dua kota.
  2. Pesan tiket kereta jauh hari kalau tanggalmu jatuh di akhir pekan panjang Korea, karena kursi kelas ekonomi cepat habis.
  3. Susun rutenya searah: turun di kota warisan, menginap, lalu lanjut ke kota besar berikutnya seperti Busan atau Daegu, bukan kembali dulu ke Seoul.
  4. Sisakan setengah hari kosong di bagian akhir untuk menyerap keterlambatan atau sekadar tidak buru-buru.

Siapkan juga kartu transportasi isi ulang dan aplikasi peta lokal sejak hari pertama, karena aplikasi peta global tidak bekerja penuh di Korea.

Menginap di hanok, dan apa yang perlu kamu tahu sebelumnya

Daya tarik terbesar kota-kota ini adalah kamu bisa tidur di dalam rumah kayu tradisional, bukan sekadar memotretnya dari luar. Penginapan hanok tersedia di kampung hanok Jeonju, di sekitar Gyeongju, dan di area desa adat Andong. Bentuknya kamar dengan pintu kertas, halaman dalam, dan lantai berpemanas.

Tapi tidur di hanok bukan versi lebih cantik dari hotel. Terima beberapa hal ini sejak awal supaya tidak kecewa.

  • Kamu tidur di kasur tipis di atas lantai, bukan ranjang. Lantainya hangat, tapi punggung yang tidak terbiasa butuh semalam untuk menyesuaikan diri.
  • Kamar mandi kadang berada di bangunan terpisah yang harus dicapai lewat halaman terbuka. Di musim dingin ini terasa sangat nyata.
  • Dinding kertas dan kayu tidak kedap suara. Kalau kamu sensitif terhadap bunyi, minta kamar yang jauh dari pintu gerbang.
  • Banyak hanok kecil dikelola keluarga dan tidak selalu punya staf yang lancar berbahasa Inggris. Simpan alamat dalam aksara Korea untuk ditunjukkan ke sopir taksi.
Hanok bukan hotel bertema tradisional, melainkan rumah yang dipinjamkan sebentar, lengkap dengan segala keterbatasan rumah tua.

Kalau kamu berencana datang di musim dingin atau musim gugur, timbang dulu konsekuensi cuacanya lewat catatan musim terbaik ke Jepang, Korea, dan Eropa, karena kenyamanan hanok sangat dipengaruhi suhu di luar kamar.

Urusan makan untuk traveler Indonesia

Di Seoul, mencari makanan halal cukup tertolong oleh rumah makan khusus di beberapa kawasan wisata. Di kota kecil, pilihan itu menipis drastis. Kota warisan justru kota kuliner, dan sebagian besar sajian andalannya berbasis daging babi atau kaldu campuran, jadi kamu perlu strategi, bukan keberuntungan.

  • Pelajari nama bahan dalam bahasa Korea dan simpan di ponsel, supaya kamu bisa menunjukkannya di rumah makan tanpa perlu berdebat.
  • Cari sajian berbasis sayur, tahu, dan makanan laut yang memang bagian dari masakan daerah, bukan versi kompromi.
  • Bawa bekal ringan dari Seoul atau dari Indonesia untuk sarapan di penginapan, karena sarapan di kampung hanok sering terbatas.

Strategi yang lebih lengkap soal ini sudah dibahas terpisah di panduan makanan halal saat liburan ke luar negeri, termasuk cara membaca label dan bertanya ke pelayan.

Satu hari yang realistis di masing-masing kota

Jeonju

Datang siang, taruh tas di hanok, lalu habiskan sore berjalan kaki di kampung hanok saat cahaya mulai turun. Malamnya cari makan di gang kecil di luar area utama yang harganya lebih masuk akal. Pagi berikutnya kembali sepagi mungkin, ketika jalanan masih kosong dan barisan atap bisa dipotret tanpa kerumunan.

Gyeongju

Bagi harinya menjadi dua. Pusat kota untuk gundukan makam, kolam istana, dan observatorium batu yang semuanya bisa dijelajahi dengan sepeda sewaan, lalu setengah hari ke arah bukit untuk kuil Bulguksa. Jangan mencoba menyelesaikan keduanya dalam satu sore.

Andong

Pusat kota Andong sendiri biasa saja. Nilainya ada di desa Hahoe dan area budaya di sekitarnya, yang dicapai dengan bus lokal berfrekuensi jarang. Periksa jadwal bus terakhir sebelum berangkat, karena tertinggal bus di sini berarti taksi mahal.

Dokumen dan hal administratif yang tetap perlu beres

Rute lintas kota ini tetap masuk kategori kunjungan wisata biasa, jadi tidak ada dokumen tambahan hanya karena kamu keluar dari Seoul. Yang perlu kamu pastikan tetap standar.

  • Paspor berlaku minimal enam bulan dihitung dari tanggal rencana pulang, bukan tanggal berangkat.
  • Bukti akomodasi untuk seluruh malam, termasuk malam di luar Seoul. Penginapan hanok kecil kadang tidak mengeluarkan voucher rapi, jadi simpan email konfirmasinya.
  • Tiket pulang pergi dan bukti keuangan sesuai ketentuan yang berlaku saat kamu mengajukan.
  • Rencana perjalanan yang konsisten antara kota yang kamu tulis dan penginapan yang kamu pesan.

Poin terakhir sering diremehkan. Kalau rencanamu menyebut tujuh malam di Seoul padahal dua malam di antaranya di Gyeongju, dokumenmu tidak sinkron.

Format penulisannya bisa kamu contek dari panduan cara membuat itinerary visa Korea Selatan yang benar, supaya rute lintas kota tidak terbaca membingungkan oleh petugas.

Layak tidaknya buat kamu

Kalau kunjunganmu ke Korea hanya empat atau lima hari dan ini yang pertama, jujur saja: tetap di Seoul dan sekitarnya. Kota warisan akan terasa terburu-buru. Tapi kalau kamu punya seminggu atau lebih, atau ini kunjungan kedua dan kamu ingin Korea yang lebih pelan, satu malam di hanok akan mengubah nada seluruh perjalanan.

Yang kamu tukar adalah kenyamanan hotel dan kepadatan atraksi, dengan pagi yang sunyi di halaman rumah kayu dan kota yang tidak berpura-pura menjadi apa pun. Untuk sebagian orang, itu tukar yang murah.