Tips Liburan

Mabuk Perjalanan Saat Liburan: Cara Mengurangi Risikonya

Mabuk perjalanan bisa menghabiskan satu hari penuh dari itinerary liburan yang sudah kamu susun rapi. Panduan ini membedah penanganannya per moda transportasi, dari pesawat, kapal, bus pegunungan, sampai kereta, plus persiapan sebelum berangkat.

Tim Visa Expert GoVisablog.govisa.id
Mabuk Perjalanan Saat Liburan: Cara Mengurangi Risikonya

Foto oleh Pascal Debrunner di Unsplash

Kamu sudah menabung lama untuk perjalanan ini. Visa terbit, tiket sudah di tangan, itinerary rapi. Lalu di jam kedua perjalanan bus menuju kawasan pegunungan, perut kamu mulai terasa aneh, keringat dingin keluar, dan sisa hari itu habis untuk memulihkan diri di kamar hotel. Mabuk perjalanan jarang masuk daftar persiapan, padahal dampaknya nyata: satu hari hilang dari itinerary yang sudah kamu susun.

Untuk WNI yang liburan ke negara yang memerlukan visa, satu trip bisa menggabungkan penerbangan lintas benua, kereta antarkota, feri menyeberang selat, dan bus menanjak ke desa pegunungan. Tiap moda punya karakter guncangan yang berbeda, jadi penanganannya juga berbeda. Artikel ini membedahnya per moda transportasi.

Kenapa mabuk perjalanan terjadi

Mabuk perjalanan muncul ketika informasi yang diterima otak dari mata, telinga bagian dalam, dan tubuh tidak cocok satu sama lain. Telinga bagian dalam merasakan gerakan naik turun dan miring, tapi mata kamu melihat sandaran kursi di depan yang diam. Otak menerima dua laporan yang bertentangan, dan responsnya bisa berupa mual, pusing, keringat dingin, atau kelelahan mendadak.

Itu sebabnya menunduk ke layar ponsel sering memperparah keadaan: mata terkunci pada objek diam sementara tubuh terus dilempar ke kiri dan kanan. Sebaliknya, orang yang menyetir mobil jarang mabuk karena ia melihat jalan di depan dan otaknya bisa memprediksi guncangan berikutnya. Prinsip prediksi ini jadi kunci di semua moda.

Kerentanan tiap orang berbeda dan bisa berubah seiring usia, kondisi tubuh, kualitas tidur, dan tingkat kecemasan. Kalau kamu punya riwayat gangguan keseimbangan, migrain, kehamilan, atau sedang mengonsumsi obat rutin, bicarakan dengan dokter sebelum berangkat, bukan mencari solusi sendiri di tengah perjalanan.

Yang perlu disiapkan sebelum hari keberangkatan

Kesalahan paling umum adalah menganggap mabuk perjalanan sebagai urusan yang ditangani saat gejalanya sudah muncul. Padahal begitu mual sudah kuat, pilihan kamu tinggal sedikit. Yang efektif adalah menyiapkan solusinya sebelum perjalanan dimulai.

  • Konsultasi ke dokter atau apoteker di Indonesia kalau kamu tahu diri kamu rentan. Mereka yang berwenang menilai apakah kamu perlu obat dan bagaimana aturan pakainya, termasuk bila kamu sedang hamil atau punya kondisi tertentu.
  • Bawa obat dalam kemasan asli lengkap dengan label, dan simpan resep atau surat keterangan dokter kalau obatnya butuh resep. Aturan tiap negara berbeda soal zat yang boleh masuk.
  • Siapkan kantong plastik tebal, tisu basah, dan baju ganti di tas kabin, bukan di bagasi tercatat.
  • Bawa camilan kering yang netral seperti biskuit tawar, plus air minum. Perut yang sama sekali kosong sering memperburuk mual, sama seperti perut yang terlalu penuh.
  • Tidur cukup di malam sebelum keberangkatan. Kurang tidur menurunkan toleransi tubuh terhadap guncangan.

Kalau kamu memang perlu membawa obat mabuk perjalanan atau obat rutin lain lintas negara, baca dulu soal membawa obat ke luar negeri supaya kemasan dan dokumennya tidak jadi masalah di pemeriksaan bea cukai.

Kebiasaan makan sebelum berangkat

Pola makan berpengaruh lebih besar daripada yang kebanyakan orang kira. Sarapan berminyak, pedas, atau bersantan sebelum perjalanan darat panjang sering berakhir buruk. Begitu juga berangkat dengan perut benar benar kosong setelah penerbangan malam.

Yang lebih aman adalah porsi sedang yang diberi jeda sebelum berangkat, bukan tepat saat mau naik kendaraan: nasi atau roti, protein yang tidak digoreng, tanpa saus pedas. Kurangi juga alkohol dan kafein berlebihan pada hari perjalanan panjang. Untuk kamu yang menjaga menu halal, camilan darurat di stasiun atau pelabuhan luar negeri belum tentu sesuai, jadi lebih aman membawa stok sendiri.

Minum sedikit tapi sering: meneguk banyak air sekaligus di dalam kendaraan yang bergoyang bisa terasa berat di perut. Jahe dalam bentuk permen, minuman hangat, atau biskuit banyak dipakai orang sebagai penenang perut ringan, dan bagi sebagian orang cukup membantu, meski efeknya tidak sama untuk semua orang.

Di pesawat

Guncangan pesawat datang dari turbulensi, dan yang paling mengganggu biasanya gerakan naik turun. Posisi paling stabil ada di sekitar sayap, karena titik itu paling dekat dengan pusat gravitasi pesawat. Bagian ekor umumnya terasa paling bergoyang. Kursi dekat jendela memberi keuntungan tambahan: kamu bisa melihat horizon atau awan, sehingga mata dan telinga bagian dalam menerima informasi yang sejalan.

  • Ambil kursi di deretan sekitar sayap, dan kalau memungkinkan pilih sisi jendela.
  • Arahkan pendingin udara di atas kepala ke wajah. Aliran udara segar sering meredakan mual awal.
  • Saat turbulensi, berhenti menonton layar atau membaca. Sandarkan kepala ke headrest supaya kepala tidak ikut terlempar, tutup mata, dan atur napas pelan.
  • Jangan menahan diri untuk minta bantuan awak kabin. Mereka terbiasa menangani penumpang yang mual dan biasanya punya perlengkapan dasar.

Penerbangan jarak jauh punya masalah tambahan berupa kelelahan dan perbedaan waktu, yang membuat gejala terasa lebih berat. Kalau rutenya lintas banyak zona waktu, siasat dalam artikel tentang jet lag dan penerbangan jarak jauh bisa dipakai bersamaan dengan tips di sini.

Di kapal dan feri

Kapal adalah moda yang paling sering memicu mabuk perjalanan, karena gerakannya lambat, berayun, dan berlangsung terus menerus. Kabin di dek bawah dan di tengah badan kapal terasa paling stabil, sementara dek atas di ujung depan atau belakang paling banyak berayun.

  • Kalau kamu mulai tidak enak badan, naik ke dek terbuka dan pandang garis horizon. Titik pandang yang jauh dan stabil membantu otak menyamakan informasi gerakan.
  • Hindari kabin dalam tanpa jendela untuk penyeberangan yang bergelombang.
  • Jangan berdiri kaku. Biarkan lutut sedikit lentur mengikuti ayunan kapal, seperti yang dilakukan awak kapal.
  • Cari udara segar dan bau yang netral. Ruang mesin atau kantin beraroma kuat sering memperparah keadaan.

Untuk penyeberangan feri di Eropa, Jepang, atau Korea, cek dulu prakiraan kondisi laut kalau operatornya menyediakan. Bila cuacanya buruk dan ada alternatif kereta atau penerbangan domestik, pertimbangkan menggeser rencana sebelum tanggalnya tiba.

Di bus pegunungan

Ini kombinasi paling menantang: tikungan tajam beruntun, rem mendadak, turunan panjang, sering ditambah jendela tertutup rapat. Rute wisata ke daerah pegunungan di Eropa, Jepang, Korea, atau Turki hampir selalu punya bagian seperti ini.

  1. Pilih kursi di bagian depan bus, sedekat mungkin dengan sopir, dan kalau bisa di sisi jendela. Guncangan di bagian belakang jauh lebih terasa.
  2. Duduk menghadap arah perjalanan. Kursi yang menghadap ke belakang adalah yang paling cepat memicu mual.
  3. Pandang jauh ke depan lewat kaca depan atau ke titik tetap di kejauhan, misalnya puncak bukit. Jangan memandang pohon di tepi jalan yang lewat cepat.
  4. Simpan ponsel. Menunduk ke layar di jalan berkelok adalah pemicu paling sering.
  5. Buka ventilasi kalau memungkinkan, atau minta izin menurunkan jendela sedikit ketika cuaca mengizinkan.
  6. Kalau bus berhenti di rest area, turun dan berjalan sebentar di udara terbuka.

Di kereta

Kereta umumnya paling ramah, terutama kereta cepat di Jepang, Korea, dan Eropa yang jalurnya mulus. Tapi bukan berarti bebas risiko, khususnya di jalur pegunungan yang berkelok atau kereta lokal tua yang banyak bergoyang.

  • Pilih kursi yang menghadap arah perjalanan. Di banyak kereta Eropa sebagian kursi disusun berhadapan, jadi perhatikan arahnya saat memesan atau saat duduk.
  • Kursi dekat jendela dengan pandangan lebar lebih baik daripada kursi lorong.
  • Duduk di gerbong tengah kalau memungkinkan, karena gerbong ujung terasa lebih bergoyang.
  • Untuk kereta malam dengan tempat tidur, berbaring dengan kepala mengarah ke arah perjalanan terasa lebih nyaman bagi sebagian orang.

Kalau itinerary kamu banyak berpindah kota dengan kereta dan transportasi lokal, ada baiknya membaca soal transportasi umum dan kartu transit supaya kamu bisa memilih rute dan jam yang tidak terlalu padat.

Kalau gejalanya sudah muncul

Begitu mual mulai terasa, jangan menunggu sampai berat. Langkah pertama adalah menghentikan pemicunya: berhenti menatap layar, alihkan pandangan ke titik jauh, dan cari udara segar. Longgarkan sabuk atau kerah, tarik napas pelan lewat hidung dan hembuskan lewat mulut. Kalau bisa berhenti sejenak, berhenti.

Menghentikan pemicunya lebih cepat menolong daripada mencoba menahan gejalanya.

Perlu dibedakan antara mabuk perjalanan biasa dan kondisi yang butuh penanganan medis. Nyeri dada, sesak napas, muntah terus menerus sampai tidak bisa minum, demam tinggi, kebingungan, atau gejala yang tidak mereda setelah perjalanan berakhir sudah di luar kategori itu. Dalam situasi seperti itu cari layanan medis setempat.

Untuk tahu ke mana harus mencari pertolongan di negara asing dan bagaimana urusan biayanya, artikel tentang darurat medis di luar negeri menjelaskan langkahnya, termasuk peran asuransi perjalanan yang di beberapa wilayah memang jadi syarat visa.

Menyusun itinerary yang lebih ramah perut

Kalau kamu tahu diri kamu rentan, perlakukan itu sebagai variabel saat menyusun rencana, bukan sebagai kejutan. Beberapa penyesuaian yang tidak mengurangi kualitas liburan:

  • Jangan menumpuk penerbangan panjang, penyeberangan feri, dan perjalanan bus pegunungan dalam satu hari yang sama.
  • Beri jeda istirahat setelah perjalanan darat yang berat, jangan langsung lanjut ke aktivitas padat.
  • Kalau ada pilihan kereta versus bus untuk rute yang sama, pertimbangkan kereta meski waktunya sedikit lebih lama.
  • Ambil kursi lebih awal saat check in penerbangan, karena pilihan di sekitar sayap cepat habis.
  • Bepergian dengan anak kecil berarti perbekalan ganda: kantong cadangan dan dua set baju ganti.

Perlu diingat, itinerary yang kamu lampirkan saat mengajukan visa tidak mengunci kamu pada jadwal itu. Rencana yang realistis justru lebih masuk akal di mata petugas dibanding jadwal yang terlalu padat.

Mabuk perjalanan tidak selalu bisa dihindari sepenuhnya, tapi risikonya bisa ditekan: pilih kursi yang tepat untuk tiap moda, jaga pandangan ke titik yang stabil, atur porsi makan, dan siapkan perbekalan sebelum berangkat, bukan setelah gejalanya datang. Untuk obat dan kondisi khusus seperti kehamilan, gangguan keseimbangan, atau pengobatan rutin, keputusannya ada di tenaga medis.

Kalau urusan dokumennya yang masih mengganjal, tim visa expert GoVisa bisa membantu meninjau kelengkapan berkas sebelum kamu mengajukan, supaya bagian itu tidak ikut menambah kecemasan sebelum berangkat.