Aplikasi yang Perlu Disiapkan Sebelum Berangkat ke Taiwan
Begitu mendarat di Taoyuan, yang kamu butuhkan bukan daftar tempat wisata melainkan koneksi, tiket kereta, dan cara membaca aksara Mandarin. Panduan ini menyusun aplikasi yang berguna di Taiwan menurut momen pemakaiannya sejak keluar dari pintu kedatangan.

Foto oleh Poh Soo Donald Soh di Unsplash
Pesawat mendarat di Taoyuan menjelang malam dan begitu kamu keluar dari pintu kedatangan, yang pertama kamu butuhkan bukan daftar tempat wisata. Yang kamu butuhkan adalah cara memasang koneksi internet, cara membeli tiket kereta bandara tanpa salah jalur, dan cara membaca papan penunjuk yang sebagian besar memakai aksara Mandarin tradisional. Semua itu jauh lebih mudah kalau aplikasinya sudah ada di ponsel sebelum kamu terbang.
Artikel ini menyusun aplikasi yang berguna di Taiwan menurut momen pemakaiannya sejak mendarat. Fokusnya perjalanan liburan; kalau kamu berangkat untuk bekerja, belajar, atau menetap, aturan dan aplikasi resminya berbeda. Semua nama di bawah adalah layanan mapan, tetapi ketersediaan, nama menu, dan fiturnya berbeda antar wilayah, sistem operasi, dan versi, jadi anggap ini gambaran fungsi, bukan panduan tombol.
Siapkan sebelum boarding, bukan setelah mendarat
Alasannya sederhana: setelah mendarat kamu belum tentu punya internet. Wifi bandara biasanya ada, tetapi mengunduh beberapa aplikasi sekaligus, membuat akun, dan menunggu kode verifikasi lewat SMS sambil berdiri di lorong kedatangan bukan pengalaman yang menyenangkan.
Jadi kerjakan tiga hal ini saat masih di rumah: unduh aplikasinya, buat akun dan login sampai benar-benar masuk, lalu unduh data peta luring untuk wilayah yang akan kamu datangi. Tiga langkah itu jauh lebih cepat dikerjakan di koneksi rumah dan menghemat banyak kepanikan di jam pertama.
Catatan soal nomor telepon: kalau kamu berencana memakai kartu SIM lokal atau eSIM, lakukan verifikasi akun aplikasi dengan nomor Indonesia dulu selagi masih aktif, supaya kamu tidak terkunci saat nomor lama tidak lagi bisa menerima SMS.
Momen pertama: dari pintu kedatangan sampai keluar bandara
Konektivitas dan aplikasi pesan
Hal pertama yang kamu urus adalah data internet, entah lewat eSIM yang sudah diaktifkan sebelum terbang atau kartu SIM lokal yang dijual di area kedatangan. Setelah online, aplikasi pesan jadi penting karena pola komunikasi di Taiwan agak berbeda dari yang biasa kamu pakai di Indonesia.
Line umum dipakai di Taiwan, termasuk oleh banyak penginapan, restoran, dan penyedia layanan wisata yang lebih suka dihubungi lewat sana daripada lewat telepon. WhatsApp tetap berguna untuk keluarga di rumah, tetapi jangan kaget kalau tuan rumah penginapan justru mengirim tautan Line.
Kartu perjalanan dan tiket kereta bandara
Kartu perjalanan isi ulang seperti EasyCard dan iPASS adalah tulang punggung transportasi harian di Taiwan. Kartunya berbentuk fisik dan dijual di mesin atau konter stasiun serta di minimarket, sementara aplikasi pendampingnya dipakai untuk mengecek sisa saldo dan riwayat pemakaian. Di sebagian perangkat kartu semacam ini bisa ditambahkan ke dompet digital ponsel, tetapi dukungannya bergantung pada model dan wilayah pembelian ponsel, jadi jangan menggantungkan seluruh rencana pada fitur itu.
Untuk keluar dari bandara, kamu memilih antara kereta bandara, bus antar kota, atau taksi, dan aplikasi peta membantu membandingkan waktu tempuhnya. Aplikasi pemesanan aktivitas wisata sering dipakai untuk membeli tiket transportasi atau paket data sebelum berangkat. Kalau memilih taksi, aplikasi pemesanan kendaraan umumnya dipakai lewat layanan mapan seperti Uber, tetapi ketersediaan dan cakupan layanannya berbeda antar kota dan bisa berubah, jadi periksa langsung di aplikasinya setelah kamu tahu kota tujuanmu.
Hari pertama di kota: MRT, bus, dan membaca nama haltenya
Di dalam kota, Google Maps adalah alat yang paling sering diandalkan wisatawan karena datanya mencakup jadwal MRT dan rute bus, dan karena ia bisa menampilkan nama tempat dalam huruf Latin sekaligus aksara aslinya. Apple Maps juga berkembang baik di kota besar. Kebiasaan yang membantu: saat menyimpan tujuan, simpan versi aksara Mandarinnya juga, supaya kamu bisa menunjukkan layar ponsel ke sopir taksi kalau pengucapanmu tidak tertangkap.
Bus kota adalah bagian yang paling sering membuat wisatawan bingung, karena nama halte kadang hanya tertulis dalam aksara Mandarin dan arah keberangkatan berbeda di sisi jalan yang berseberangan. Selain aplikasi peta umum, ada aplikasi transportasi publik yang dikelola pihak berwenang setempat dan menampilkan posisi bus secara waktu nyata; ketersediaan dan namanya berbeda antar kota, jadi cek di toko aplikasi setelah kamu tahu kota mana yang akan kamu jelajahi.
- Simpan alamat penginapan dalam dua bentuk: huruf Latin dan aksara Mandarin.
- Tandai stasiun MRT terdekat dari penginapan sebagai titik acuan pulang.
- Periksa jam operasional terakhir MRT dan bus lewat aplikasi sebelum keluar malam.
- Pastikan kartu perjalanan punya saldo cukup sebelum jam sibuk, bukan saat sudah berdiri di depan gerbang tiket.
Pindah kota: kereta cepat dan kereta konvensional
Taiwan punya dua sistem kereta antar kota yang perlu kamu bedakan sejak awal karena stasiun, tiket, dan aplikasinya terpisah. Kereta cepat melayani koridor barat dan berhenti di stasiun khusus yang kadang agak jauh dari pusat kota. Kereta konvensional milik operator kereta nasional menjangkau lebih banyak kota kecil dan kawasan pesisir timur, dengan stasiun yang umumnya di tengah kota.
Keduanya punya aplikasi resmi untuk mencari jadwal, memesan kursi, dan menyimpan tiket elektronik. Antarmukanya kadang meminta nomor paspor saat pemesanan, dan sebagian jenis kursi hanya bisa dibeli dalam rentang waktu tertentu sebelum keberangkatan. Karena aturan pemesanan bisa berubah, baca ketentuan yang tampil di aplikasi resminya saat itu juga.
Kebiasaan yang menolong: ambil tangkapan layar tiket dan nomor pemesanan begitu transaksi selesai. Aplikasi bisa gagal memuat saat sinyal buruk di peron bawah tanah, sedangkan gambar di galeri tidak butuh internet.
Kalau kamu berencana menyewa mobil di pesisir timur, aplikasi navigasi saja tidak cukup; baca dulu soal SIM internasional untuk menyetir di luar negeri sebelum berangkat.
Aksara yang tidak familiar: penerjemah dengan kamera
Ini kategori yang paling terasa manfaatnya di Taiwan. Aksara Mandarin tradisional tidak bisa kamu tebak dari bunyinya, dan menu warung, label di minimarket, papan peringatan, sampai instruksi mesin tiket sering hanya tersedia dalam aksara itu. Fitur terjemahan lewat kamera pada aplikasi seperti Google Translate, atau lewat pengenalan gambar seperti Google Lens, memungkinkan kamu mengarahkan kamera ke tulisan dan membaca terjemahannya langsung di layar. Papago juga dikenal cukup baik untuk bahasa-bahasa Asia Timur.
Ada dua catatan penting. Pertama, unduh paket bahasa untuk mode luring selagi masih ada wifi, karena terjemahan kamera pada banyak aplikasi hanya bisa bekerja tanpa internet kalau paketnya sudah tersimpan lebih dulu. Kedua, hasil terjemahan mesin untuk nama makanan sering aneh dan kadang menyesatkan; kalau kamu punya pantangan makanan tertentu, jangan bertumpu pada satu hasil terjemahan, tetapi konfirmasi ke penjualnya dengan menunjukkan kalimat yang sudah kamu siapkan.
Cari makan: ulasan, jam buka, dan antrean
Kekuatan Taiwan ada di makanan jalanan dan kedai kecil, dan justru tempat-tempat itu yang paling sering tidak punya situs web. Google Maps tetap jadi titik awal yang praktis karena ulasan dan foto menu membantu kamu memutuskan, sementara TripAdvisor kadang berguna untuk melihat sudut pandang wisatawan lain.
Yang perlu kamu waspadai adalah jam buka. Banyak kedai tutup di jam yang tidak biasa, libur di hari tertentu, atau tutup panjang di sekitar hari raya. Informasi jam buka di aplikasi peta diisi pemilik atau pengguna dan bisa kedaluwarsa, jadi siapkan satu pilihan cadangan di kawasan yang sama.
Untuk pembayaran, kartu perjalanan isi ulang sering bisa dipakai di minimarket dan sebagian kedai, sementara pedagang kecil banyak yang tetap mengutamakan uang tunai.
Kalau kamu terbiasa memindai kode dari ponsel, cek dulu ulasan soal pembayaran QRIS di luar negeri sebelum mengandalkannya sebagai satu-satunya cara bayar.
Kalau sinyal hilang: peta luring dan salinan dokumen
Sinyal bisa melemah di jalur pegunungan, di kereta yang melewati terowongan panjang, atau di area pesisir yang jarang penduduk. Di situlah peta luring menyelamatkan. Google Maps menyediakan pengunduhan area peta untuk dipakai tanpa internet, dan aplikasi peta berbasis data komunitas seperti Organic Maps atau Maps.me memang dirancang untuk pemakaian luring dengan ukuran unduhan yang relatif hemat. Unduh keduanya kalau ruang penyimpanan memungkinkan, karena masing-masing punya kelemahan yang berbeda.
Selain peta, siapkan salinan dokumen. Simpan foto halaman biodata paspor, visa, bukti pemesanan penginapan, dan tiket pulang di penyimpanan awan sekaligus di galeri ponsel supaya tetap terbuka tanpa internet.
Soal apa yang harus dilakukan kalau paspornya sendiri yang hilang, ada panduan terpisah tentang paspor hilang saat di luar negeri yang sebaiknya kamu baca sebelum berangkat.
Aplikasi hanya alat bantu. Yang membuat perjalanan lancar tetap dokumen yang benar dan rencana cadangan yang sederhana.
Checklist singkat sebelum berangkat
- Unduh dan login ke aplikasi peta, penerjemah, pesan, serta aplikasi kereta antar kota.
- Unduh peta luring dan paket bahasa untuk mode tanpa internet.
- Verifikasi akun aplikasi memakai nomor Indonesia selagi nomornya masih aktif.
- Simpan alamat penginapan dalam huruf Latin dan aksara Mandarin.
- Simpan foto paspor, visa, dan bukti pemesanan di galeri, bukan hanya di email.
- Siapkan uang tunai secukupnya untuk kedai yang belum menerima pembayaran nontunai.
Sebelum semua itu, pastikan izin masuknya dulu
Semua persiapan aplikasi di atas baru berguna kalau kamu memang bisa masuk. Taiwan mensyaratkan izin masuk bagi pemegang paspor Indonesia, dan skema yang berlaku untukmu bisa berbeda tergantung riwayat visa atau izin tinggal yang kamu punya di negara lain. Karena ketentuannya berubah, jangan bertumpu pada cerita di forum; cek portal resmi otoritas Taiwan atau kantor perwakilannya di Indonesia sebelum kamu mengunci tiket.
Pastikan juga paspor kamu masih berlaku minimal enam bulan dihitung dari tanggal rencana pulang, bukan dari tanggal berangkat, karena inilah kesalahan hitung yang paling sering terjadi.
Kalau ingin membandingkan pola persiapan di tujuan Asia Timur lain, ada ulasan serupa tentang aplikasi penting saat di Jepang.
Kalau kamu masih ragu berkas mana yang perlu disiapkan atau bagaimana menyusunnya supaya rapi, tim visa expert GoVisa bisa membantu meninjau berkas kamu sebelum diajukan. Sisanya cukup kamu urus dengan ponsel yang sudah siap sejak sebelum lepas landas.